SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the tag “pelacur masuk surga”

MENGUBAH NAWAITU


“Seringkali perbuatan besar itu dikecilkan oleh niat. Seringkali pula, perbuatan kecil itu dibesarkan oleh niat.” (Ibnu Mubarak)

Perbuatan Sepele

yang Mengantar ke Surga

Perempuan pelacur itu memandangi iba seekor anjing di depannya. Lidah binatang itu menjulur-julur, menjilat-jilat debu karena kehausan. Kontan, perempuan itu melepas sepatu, lalu turun ke dalam sumur. Setiba kembali di atas sumur, di mulutnya terlihat sepatu yang berisi air dalam gigitannya. Perempuan itu menyodorkan air tersebut kepada anjing yang nyaris mati kehausan itu.

Apa hebatnya perbuatan  yang dilakukan perempuan ini? Hanya memberi minum seekor anjing kehausan. Bagi banyak orang, amalan seperti ini tidaklah seberapa nilainya. Namun, keikhlasan niat telah membesarkannya. Bukan hal aneh, jika Allah melipatgandakan pahala bagi amalan kecil itu atau amal shalih lainnya, sepuluh kali lipat, tujuh ratus kali lipat, hingga berlipat-lipat tak terhingga.

Namun, tahukah Anda, amal baik yang dilakukan seorang wanita pelacur kepada seekor anjing yang “tampak sepele” , bisa menjadi sebab terampunkannya dosa  perempuan pelacur itu, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat sahih yang dirilis oleh Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang bermiripan, menunjukkan diampunkan  dan masuk surganya seorang wanita pelacur gara-gara perbuatan “sepele” seperti itu. Salah satu redaksi riwayat tersebut berbunyi:

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيْفُ بِرَكيَّةٍ قَدْ كاَدَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيْلَ، فَنَزَعَتْ مُوْقَهَا ، فَاسْتَقَتْ لَهُ بِهِ، فَسَقَتْهُ إِيَّاهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ (رواه البخاري ومسلم)

“Suatu ketika, ada seekor anjing terus berkeliling di sekitar sumur, ia nyaris tewas karena kehausan. Tiba-tiba seorang perempuan pelacur Bani Israil melihatnya. Ia pun melepas sepatu, lalu mengambil air dengannya, kemudian meminumkannya kepadanya. Maka, dosanya diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Amalan Besar yang Rusak Karena Salah Nawaitunya

Jika, perbuatan “sepele” di atas bisa berubah menjadi begitu besar nilainya, bagaimana dengan perbuatan besar? Baiklah, mari kita bahas.

Belajar agama adalah sebuah amalan besar. Kegiatan ini bisa dikatakan merupakan amalan terbaik, atau salah satu amalan terbaik yang tinggi nilainya dalam Islam. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :

الْعِلْمُ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْءٌ إِذَا صَحَّتِ النِّيَّةُ

 “(Mempelajari dan mengajarkan) ilmu itu tidak bisa dibandingkan (keutamaannya) dengan amalan apa pun, jika niatnya benar.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري ومسلم)

“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Terlalu banyak dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, baik belajar maupun mengajarkannya. Karena itu, Islam memuliakan orang berilmu. Juga memuliakan orang yang belajar ilmu. Juga menjadikan nilai amalan ini setara dengan jihad fi sabilillah yang merupakan puncak tertinggi amalan dalam Islam.

Sayangnya, barangkali tidak sedikit orang yang salah nawaitunya ketika mempelajari ilmu. Ia melakukan kegiatan mulia ini dengan niatan yang salah. Mungkin ia ingin menjadi manusia menonjol, hebat melebihi teman-temannya, dikenal sebagai ulama, disegani banyak orang, memiliki banyak pengikut, dan mendapat berbagai kesenangan duniawi sementara seperti jabatan, harta, dan pujian orang. Berbagai keutamaan orang menuntut ilmu yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya sama sekali tidak terbetik dalam pikirannya. Bahkan, mungkin ia tidak yakin bahwa pahala dan keutamaan yang dijanjikan itu benar-benar ada.

Bagaimana nilai amalan orang yang seperti ini? Apakah amalan besar itu, dengan niatan seperti ini dinilai sebagai amalan besar di sisi Allah?

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa salah satu dari tiga orang yang pertama kali dijadikan sebagai bahan bakar api neraka adalah seorang penuntut ilmu. Ia menuntut ilmu tanpa disertai keikhlasan. Tujuan amalnya semata-mata adalah riya’. Ingin orang lain melihatnya dengan pandangan kagum. Ingin agar manusia menyebutnya sebagai ulama.

Bertanyalah Pada Dirimu

Pemaparan di atas saya kira cukup memberikan gambaran, betapa seriusnya persoalan niat bagi kita semua. Bagi saya, Anda, dan siapa pun manusia yang setiap hari tak lepas dari aktivitas menjalankan amal. Apa yang Anda inginkan dari perbuatan yang Anda lakukan itu ternyata lebih penting daripada apa yang Anda lakukan itu sendiri. Karena nawaitu Anda itu menentukan apa yang akan Anda dapatkan dari perbuatan Anda. Bisa jadi, perbuatan Anda akan berbuah pahala, bernilai kebaikan, dan dicatat sebagai amal shalih yang diterima Allah, atau justru berakibat dosa, bernilai keburukan,  dan dicatat sebagai amal kejahatan. Semua itu tergantung pada satu hal, yang justru sering luput dari perhatian banyak orang, yaitu nawaitunya.

Maka, dari sekarang, mari bertanya kepada diri ini, seberapa benar nawaitu amal kita? Jika belum benar, atau kurang baik, kita harus mengerahkan apa yang kita bisa untuk memperbaikinya sekarang juga. Ingat, betapa buruknya nasib kita jika tidak mampu memperbaiki atau mengubah nawaitu kita yang buruk itu sekarang juga. Dan tentu, kita harus bermohon, terus-menerus, kepada Allah, agar dikaruniai keikhlasan. Wallâhu a’lam.

Iklan

Post Navigation