SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the tag “Bekam”

THIBBUN NABAWI, WAHYU ATAU TRADISI?


Dari beberapa tulisan yang saya baca dan diskusi dengan beberapa teman, saya menyimpulkan ternyata banyak orang yang menganggap thibbun nabawi sama sekali tidak berhubungan dengan wahyu. Tapi ia merupakan pengobatan yang diresepkan Nabi berdasarkan tradisi pengobatan orang Arab. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa beberapa metode pengobatan yang diresepkan oleh Nabi saw. telah digunakan jauh sebelum Nabi saw. datang.
Kalau dirunut, pendapat ini merujuk kepada pendapat filosof muslim, Ibnu Khaldun di dalam buku tarikhnya. Ketika berbicara tentang klasifikasi dan sumber-sumber pengobatan, beliau berkata : “Orang-orang Badwi maupun penduduk perkotaan memiliki metode pengobatan yang sebagian besar mereka bangun berdasarkan uji coba terbatas terhadap beberapa orang, kemudian motode tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui para tetua kampung. Kadang-kadang, metode pengobatan itu benar, akan tetapi tidak didasarkan kepada pemahaman yang benar tentang karakter dan unsur. Di kalangan bangsa Arab terdapat tabib-tabib semacam ini yang terkenal seperti Harits bin Kaldah dan lain-lain. Metode pengobatan yang diambil dari berbagai syariat termasuk dalam jenis ini, sama sekali bukan berasal dari wahyu. Ia merupakan metode pengobatan yang mentradisi di kalangan orang-orang Arab.”
Saya tidak ingin masuk dalam perdebatan mendetil soal ini. Karena, di seputar ini memang banyak hal lagi yang perlu didiskusikan secara panjang. Perlu waktu khusus untuk membahasnya satu persatu. Namun, saya ingin membuat catatan buat para sahabat saya yang berpendapat demikian.
Pertama, beberapa sabda Nabi saw. mengindikasikan bahwa resep yang beliau sampaikan itu bukan berdasarkan pengetahuan yang beliau peroleh dari para tetua kampung, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khaldun. Di antaranya adalah ketika beliau meresepkan madu untuk seseorang yang mengadukan saudaranya mengalami diare. Setelah meminum madu, seperti yang beliau resepkan, diare semakin parah. Beliau menyuruh untuk meminumkan madu lagi. Sakit pun semakin parah. Beliau kembali menyuruh resep yang sama. Hingga, ketika orang itu mengadukan keadaan serupa yang ketiga kali atau keempat kalinya, beliau bersabda:
Shodaqollohu wa kadzaba bathnu akhika (Mahabenar Allah, perut saudaramu berdusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa beliau memberikan resep berdasarkan wahyu dari Allah. Bukan dari informasi para tetua kampung. Jika resep itu berasal dari tetua kampung, tentu beliau tidak mengatakan “Mahabenar Allah, perut saudaramu berdusta.”
Beberapa hadits tentang bekam juga menunjukkan bahwa informasi tentang manfaat bekam beliau terima dari para malaikat pada saat beliau melakukan isra’. Artinya, itu wahyu. Karena sifat para malaikat itu melaksanakan perintah dari Allah.
Kedua, bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai resep yang diberikan oleh Nabi saw. jauh lebih maju daripada pengetahuan orang-orang di zaman beliau. Beliau banyak memberikan informasi medis yang pembuktiannya baru diketahui baru-baru ini. Misalnya, beliau pernah menginformasikan bahwa pada sebelah sayap lalat terdapat penyakit, dan di sebelahnya lagi ada obat. Pengetahuan tentang itu, jauh lebih maju daripada wawasan orang di zaman beliau. Bahkan, sampai saat ini pun, masih banyak ilmuwan atau intelektual yang belum tahu bahwa dari beberapa bagian sayap ternyata diperoleh beberapa zat yang bisa dijadikan sebagai antibiotik yang sangat ampuh, sebagaimana ditemukan oleh beberapa ilmuwan Kanada, Jerman, dan Inggris sekitar satu abad yang lalu.
Ketiga, pengalaman membuktikan, sangat banyak penyakit yang tidak bisa ditangani dengan tindakan medis biasa, meskipun dengan biaya besar dan peralatan sangat canggih, namun dengan izin Allah berhasil disembuhkan melalui penggunaan resep-resep Nabi saw. dengan peralatan lebih sederhana dan biaya murah. Sangat banyak kesaksian tentang orang yang sembuh dari stroke, darah tinggi, diabetes, asam urat, dan berbagai penyakit berat lainnya pada akhirnya memperoleh kesembuhan, dengan izin Allah, setelah melakukan terapi dengan resep-resep thibbun nabawi. Anda tahu, penyakit-penyakit tersebut tidak mudah ditangani oleh para dokter yang sangat ahli sekali pun. Maka, informasi tentang manfaat bekam sebagai metode pengobatan paling bermanfaat sungguh akurat dan terlalu hebat jika informasi tersebut beliau terima hanya dari para tetua kampung.
Keempat, saya perlu pula tuliskan dalam catatan ini. Bahwa Nabi saw. adalah yang menyampaikan kepada kita ayat-ayat yang melarang kita berbicara tanpa ilmu. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya. Sudah tentu, beliau merupakan teladan kita dalam mengamalkan ayat-ayat tersebut. Lantas, bagaimana mungkin beliau berbicara tentang pengobatan jika beliau tidak mengetahui ilmunya? Bagaimana mungkin beliau memerintahkan suatu resep pengobatan, melarang yang lain, menyatakan manfaat yang satu dan mengingatkan bahaya yang lain, tanpa ilmu?
Terakhir, Allah Swt. Berfirman dalam surat An-Najm :
“Tidaklah yang ia ucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Akan tetapi, ucapannya hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm [53] : 3-4)
Jadi, adakah yang bisa membuktikan bahwa Nabi saw. menerima informasi tentang pengobatan dari tetua kampung?

Iklan

KETIKA DOKTER RAME-RAME BICARA BEKAM


Seminar bekam yang diadakan oleh ABI (Asosiasi Bekam Indonesia) di Semarang, Ahad, 22 Maret 2009 tergolong seminar bekam paling unik yang pernah saya ikuti. Unik karena inilah seminar pertama tentang bekam di mana ketua panitia, narasumber, dan moderator seminar, semuanya dokter. Peserta yang mengajukan pertanyaan di sesi dialog pun kebanyakan dokter. Lebih unik lagi, semua pembicara menyimpulkan bahwa bekam merupakan metode pengobatan “terbaik”. Ah, yang benar? Masak iya? Kok bisa?

Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M. Kes, narasumber utama dalam seminar ini membawakan makalah berjudul : “Tinjauan Biomolekuler dan Immunologi Bekam”. Dengan lugas dan cerdas, dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran Unisba yang meraih gelar doktoral di bidang immunologi dari Universitas Kebangsaan Malaysia ini menguraikan cara kerja sistem kekebalan tubuh manusia, bagaimana sistem yang menjaga kesehatan tubuh manusia secara cerdas dan ajaib ini bisa terganggu, lantas bagaimana bekam bisa menjadi sarana efektif untuk melatih dan meningkatkan kinerja sistem kekebalan.

Dr. Wadda’ A. Umar, narasumber kedua, berbicara tentang “Bukti-bukti Keajaiban Bekam”. Dokter sekaligus penulis buku “Sembuh dengan Satu Titik” ini menguraikan banyak slide yang menunjukkan hasil-hasil riset yang membuktikan efektivitas terapi bekam untuk mengatasi berbagai penyakit berat seperti: hemofilia, kemandulan, leukimea, artritis, hodgin desease, sindroma bahchet, dan sebagainya. Semua hasil riset laboratorium tersebut dilakukan oleh tim medis dan farmasi yang kredibel di bawah lembaga yang berkompeten di bidang kesehatan di berbagai negara, utamanya Eropa, Cina, dan Timur Tengah. Sayang, tidak ada satu pun riset yang dilakukan di Indonesia.

Seminar yang dihadiri oleh ratusan peserta yang memenuhi ruangan lantai satu dan dua balaikota Semarang ini berlangsung hangat. Apalagi, dr. Zaidul Akbar, moderator seminar sangat pandai menghangatkan suasana dengan motivasi-motivasi maupun joke-joke segarnya. Menurut dr. Ali Ridho, salah satu tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk mensosialisasikan terapi bekam sebagai metode terapi thibun nabawi yang terbukti berkhasiat mengatasi berbagai penyakit yang sangat sulit ditangani dengan metode pengobatan lain.

Satu hal lagi yang membuat acara ini istimewa bagi saya, saya berangkat bersama rombongan peserta seminar dari Solo yang jumlahnya empat belas orang dan salah satunya adalah Dr. dr. Subagyo Sukiman, Sp.U. Dokter senior spesialis urologi ini mempunyai kisah unik, sehingga tertarik mengikuti seminar. Dua hari sebelumnya, Dokter Subagyo bercerita memiliki keluhan nyeri di punggung. Katanya, rasanya seperti “dipantek”. Sudah diobati. Juga sudah diterapi dengan pijat refleksi. Sayangnya, rasa nyeri tak kunjung pergi. Saat itu, saya dan teman-teman menyarankan dokter untuk berbekam. Subhanallah, sehari setelah berbekam, dokter mengatakan kepada salah seorang teman saya, bahwa rasa nyeri itu sudah hilang. Dan dokter pun memutuskan untuk ikut serta dalam seminar ini, setelah membatalkan salah satu acara penting yang sudah beliau jadwalkan. “Kalau ada yang meragukan efektifitas bekam, suruh dia datang kepada saya”, kata beliau seusai seminar.

Alhamdulillah, saya mengucap syukur kepada Allah. Bukti kebenaran thibbun nabawi semakin terkuak. Bukan hanya hadits tentang bekam yang sahih, tapi risetnya pun sahih. Testimoni tentang efektifitas terapi ini pun sudah mutawatir, terlalu banyak untuk dihitung. Tampaknya, acara-acara seperti ini perlu terus diadakan di berbagai kota lain. Kapan di Solo? Wallahu a’lam.

BEKAM TANGGAL 17


Banyak orang belum memahami, apa hikmah dianjurkannya berbekam pada tanggal 17, 19, dan 21 bulan qomariyah?
Salah satu buku yang menjawab pertanyaan ini ditulis oleh Muhammad Amin Syaikhu, berjudul Mu’jizatu `l-Qorni `l-Isyrin (Mukjizat Abad ke-20).
Cahaya bulan berpengaruh terhadap kehidupan di bumi. Misalnya, bulan purnama menyebabkan air laut pasang. Beberapa pohon diketahui getahnya bergerak naik ke puncaknya.
Peredaran darah manusia pun dipengaruhi oleh cahaya bulan. Pada hari-hari purnama, timbul apa yang dikenal sebagai tabayyugh dam (darah naik). Akibat dari naiknya darah ini, banyak orang yang mengalami gangguan kesehatan disebabkan oleh bergolaknya darah. Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa angka kriminalitas pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan qomariyah meningkat. Nafsu syahwat manusia juga naik. Dari situ bisa dipahami hikmah dianjurkannya puasa pada tanggal-tanggal tersebut, yang dikenal sebagai ayyamu `l-bidh. Yaitu menekan gejolak nafsu yang meningkat akibat pengaruh cahaya bulan.
Setelah purnama, cahaya bulan berangsur berkurang. Pergolakan darah mulai berkurang. Darah kotor mulai mengendap. Istilah `darah kotor’ ini merupakan istilah khas yang populer di kalangan para ahli pengobatan tradisional untuk menyebut darah yang mengandung sel-sel darah yang rusak atau mati, toksid, dan zat-zat lain yang berlebih seperti asam urat dan lain-lain. Itulah saat terbaik seseorang melakukan bekam. Karena pada hari itu, pengeluaran darah kotor bisa lebih maksimal. Maka, efek kesembuhan lebih dirasakan pada orang yang berbekam.

Post Navigation