SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the tag “agama”

AKU LUPA BAGAIMANA RASA BAHAGIA


Tanya :

“Sudah lama saya tidak merasakan kebahagiaan. Saya sudah lupa bagaimana rasa bahagia itu. Bahkan saya tidak lagi mengerti apa sejatinya bahagia itu. Mohon sarannya.” (Fulan, pendengar MH FM)

Jawab :

Bismillah.

Kebahagiaan itu terkait dengan hati. Hati mencintai hal-hal yang bermanfaat baginya, sebaliknya ia membenci hal-hal yang bermudarat. Keberhasilan meraih sesuatu yang kita cintai membuat kita merasa gembira. Terhindarnya kita dari sesuatu yang kita benci juga membuat kita merasa senang. Perasaan gembira dan senang ini “semacam” kebahagiaan yang hinggap di hati kita.

Jadi, untuk berbahagia kita memerlukan empat hal. 1) Sesuatu yang kita cintai, yang kita ingin meraihnya. 2) Sesuatu yang kita benci, yang kita ingin terhindar darinya. 3) Sarana untuk meraih apa yang kita cintai. 4) Sarana untuk menghindarkan diri dari apa yang kita benci.

Keempat hal tersebut bermuara pada Allah SWT. Allah yang kita cintai, dari-Nya datang semua yang bermanfaat bagi kita. Menyekutukan Allah adalah mudarat terbesar yang kita benci. Dia yang membantu kita meraih apa yang kita cintai. Dia pula yang membantu kita menghindari apa yang kita benci.

Kebahagiaan sejati hanya akan diraih oleh seseorang yang mengenal, mencintai, dan beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim dalam  Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan: “Seseorang tidak akan bisa benar-benar bahagia kecuali jika ia mengenal, mencintai, dan beribadah kepada Allah, menjadikan Allah sebagai ilah dan sembahannya, serta mengutamakan cinta kepada Allah dibanding cintanya kepada yang lain.”

Mencintai selain Allah yang tidak didasari cinta kepada Allah adalah penyebab penderitaan kita. Andai sesuatu selain Allah itu bermanfaat, manfaat itu tidak terwujud kecuali dengan izin Allah. Tak jarang, selain bermanfaat, ia mengandung mudarat yang lebih banyak. Apa yang diharapkan seseorang sebagai sumber kebahagiaannya, seringkali justru menjadi faktor utama penderitaannya.

Jadi, saudaraku! Kebahagiaan kita bermula ketika kita menapakkan kaki di jalan makrifatullah, hubbullah, dan ibadatullah. Kebahagiaan kita akan tumbut ketika kita mulai mengenal, mencintai, dan beribadah hanya kepada Allah. Adapun selain Allah, kita mencintai atau membenci karena-Nya. Wallâhu a‘lam.

Iklan

BERTAWAKAL KEPADA ALLAH


Kita ingin mendatangkan hal-hal bermanfaat bagi diri kita. Ingin memiliki ilmu yang menerangi, amal shalih yang membekali, rezeki halal yang mencukupi, kawan-kawan baik tempat berbagi, dan kesehatan yang memadai. Sebaliknya, kita ingin menghindari hal-hal yang bermudharat. Kebodohan, penyakit, kemiskinan, penjahat, binatang buas, dan banyak lagi.

Tawakal adalah keyakinan bahwa Allah saja yang berkuasa mendatangkan semua yang bermanfaat dan mencegah semua yang bermudharat. Ia merupakan bukti keberadaan iman sekaligus bagian dari kesempurnaannya. Allah SWT berfirman :

“Hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah [5] : 23)

Bertawakal bukanlah sikap malas atau lemah. Orang yang bertawakal berusaha sebaik yang ia bisa. Ia membuat rencana secermat yang ia mampu. Ia menyadari semua ketetapan Allah datang dan pergi melalui sebab-sebabnya. Ketika rasa lapar menyerang, ia makan sebagaimana orang lain makan. Ketika sakit menimpa, ia berobat sebagaimana orang lain berobat. Ketika tidak memahami suatu persoalan, ia belajar sebagaimana orang lain belajar. Ketika membutuhkan rezeki, ia bekerja sebagaimana orang lain bekerja. Tapi, ia memiliki keyakinan yang belum tentu ada pada setiap orang lain, yaitu sambil mengupayakan seluruh sebab tersebut, ia menggantungkan hati dan berserah kepada Allah, apakah Dia mewujudkan kesembuhan, kesehatan, ilmu, dan rezeki.
Rasulullah saw. adalah contoh ideal hamba yang bertawakal kepada Allah. Lihatlah! Bukankah beliau menempuh sebab-sebab ketika ingin mendatangkan suatu manfaat maupun mencegah suatu mudharat? Beliau bekerja keras menyebarkan dakwah, mencari perlindungan ke Thaif ketika tekanan masyarakat Quraisy menghebat, memerintahkan sebagian sahabat berhijrah ke Habasyah untuk menghindari kejahatan kaum musyrikin, kemudian membangun masyarakat Anshar yang membela dakwah beliau di Madinah. Beliau tidak berpangku tangan, seraya mengatakan, “Allah berkuasa memberi petunjuk semua orang musyrik supaya beriman atau mengalahkan mereka jika menentang petunjuk-Nya.” Beliau tidak mengatakan itu, lantas berpangku tangan.
Tawakal merupakan penyempurna ikhtiar orang beriman. Bukan kemalasan. Lain dengan kelemahan. Sungguh keliru orang yang mengira kelemahan dirinya sebagai tawakal atau menjadikan tawakalnya alasan untuk melemahkan ikhtiar.

Tawakal menjadikan orang-orang beriman selalu memiliki harapan. Tidak ada kata “putus asa” dalam kamus kehidupannya walau segelap dan selengang apa pun jalan yang ada di hadapannya. Karena Allah yang akan menerangi jalannya dan mengawani perjalanannya. Allah yang akan memberikan kemudahan baginya, jika Dia menghendaki, ketika Dia menghendaki, sesuai dengan kadar yang Dia kehendaki.
Allah berjanji, barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya  niscaya Dia mencukupi kebutuhan-kebutuhannya. Janji Allah benar dan Dia berkuasa memenuhi janji-Nya. Apa pun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Allah SWT. berfirman:

“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia yang memberinya kecukupan.Sungguh, Allah berkuasa melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 3)

Rasulullah saw. bersabda :

“Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana kepada burung yang berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Kesalahan bertawakal kadang-kadanag menjerumuskan seseorang dalam syirik akbar, seperti ketergantungan seseorang kepada benda mati atau manusia yang sudah mati. Hal ini dikarenakan ia meyakini bahwa benda mati atau orang yang mati itu memiliki kekuatan tersembunyi yang mempengaruhi alam. Ketergantungan semacam ini salah, baik ditujukan kepada seorang yang berstatus nabi, orang shalih, maupun dukun dan paranormal.
Ada pula kesalahan yang menjerumuskan kepada syirik ashghar. Yaitu, kuatnya ketergantungan seseorang pada suatu sebab disertai perasaan rendah diri di hadapan sebab tersebut. Seperti orang yang menggantungkan sumber kehidupannya kepada orang lain, bos, atau perusahaan. Seakan, tanpa orang lain, bos, atau perusahaan tersebut, Allah tidak mampu mendatangkan sebab-sebab rezekinya. Tidak mengapa seseorang menggunakan sesuatu sebagai sebab, jika ia benar-benar berpengaruh sebagai sebab terjadinya sesuatu, asal ia tetap meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan dan menjalankan sebab tersebut.

SEHARUSNYA KITA BERHARAP


الرجاءBerharap, dalam bahasa Arab disebut raja’. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin menjelaskan makna raja’ adalah ar-roghbah fi syai’in qorîbi `l-manâl, ‘menginginkan sesuatu yang mudah diperoleh’. Sedikit berbeda dengan berangan-angan yaitu berkeinginan kepada sesuatu yang mustahil atau nyaris mustahil diperoleh. Berharap adalah salah satu jenis perbuatan hati. Orang beriman selalu punya harapan. Harapan untuk mendapat rahmat Allah, untuk berjumpa dengan Allah dengan amal shalih yang diterima, harapan agar Allah mengampuni dosa-dosanya.
Rahmat, kasih sayang, pahala dan ampunan dari Allah adalah sesuatu yang bisa diharapkan oleh semua orang, tanpa kecuali. Betapa pun perbedaan keadaan setiap orang hari ini, salih atau jahat, pandai atau bodoh, bisa berharap mendapatkannya. Semua bisa dirahmati, disayangi, diganjar pahala, dan diampuni oleh Allah. Seorang mukmin selalu menjaga harapan ini agar tetap ada dan tumbuh mekar di hatinya.
Harapan yang terpuji ada pada orang yang berharap pahala dari Allah lalu beribadah kepada-Nya. Harapan itu mendorongnya untuk bersikap, berucap, dan dan bertindak yang diridhai dan dicintai oleh Allah. Harapan yang terpuji ada pada orang yang berharap ampunan dari Allah, lantas bertaubat dan beristighfar kepada-Nya. Ia meninggalkan dosa dan kesalahannya, menyesalinya, dan bertekad tidak akan mengulang kesalahan yang sama di masa akan datang. Ia bermunajat di hadapan-Nya, mengakui kesalahan dan memohon ampunan-Nya. Semua itu dilakukan, semata karena-Nya, bukan untuk tujuan lainnya.
Namun, ada juga harapan yang tidak semestinya. Seperti seseorang yang berharap kepada ridha-Nya, tapi harapan itu tidak mendorongnya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kerendahan hati, takzim, dan kecintaan kepada-Nya. Ia berharap kepada ampunan-Nya, tetapi tidak tergerak untuk bertaubat dari kesalahan-kesalahannya. Di sini, harapan tak ubah seperti lamunan dan angan-angan. Ia merupakan harapan yang tercela. Harapan yang mustahil. Seperti berharap kapal berlayar di daratan.
Allah menjelaskan, bagaimana keadaan orang yang benar-benar memiliki harapan terpuji, dalam firman-Nya:
“Barangsiapa yang berharap berjumpa dengan Tuhannya, hendaklah ia melaksanakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18] : 110)

Post Navigation