SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Juni, 2014”

AGAR KALIAN BERTAKWA


“Wahai orang-orang beriman, puasa telah ditetapkan sebagai kewajiban bagi kalian, sebagaimana telah ditetapkan sebagai kewajiban bagi umat-umat sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Hari ini, kita menapaki hari pertama bulan Ramadhan. Keputusan sidang itsbat Kemenag RI dan banyak ormas Islam lain memang menyatakan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Ahad 29 Juni 2014 M. Adapun Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam maklumat sebelumnya menyatakan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh kemarin, Sabtu 28 Juni 2014 M berdasarkan hisab hakiki.

Di luar perbedaan awal Ramadhan yang agaknya memang sudah lumrah terjadi ini, kita bersyukur, tahun ini Allah masih memberi kita kesempatan menjalani hari-hari di bulan yang penuh barakah dan maghfirah ini. Kita sedang berada di hari-hari awal menjalankan sebuah kewajiban agung, berpuasa satu bulan penuh di bulan ini. Dan ini merupakan salah satu rukun Islam.

Allah telah menetapkan puasa sebagai kewajiban bagi kita. Artinya, selama 29 atau 30 hari di bulan ini, kita harus menahan diri dari makan, minum, dan “hubungan suami istri” (bagi yang bersuami dan beristri), sejak terbit fajar di pagi hari hingga tenggelamnya matahari di sore hari. Selain itu, ada beberapa pembatal puasa lain yang juga harus hindari. Semua itu harus kita laksanakan semata-mata karena Allah, untuk memenuhi kewajiban yang ditetapkan-Nya serta mengharap pahala dan ridha-Nya.

Puasa mengandung hikmah memperbaiki sekaligus membersihkan diri. Anda mungkin pernah tahu istilah detoksifikasi yang dilakukan para ahli pengobatan untuk membebaskan tubuh dari racun-racun dan zat-zat yang membahayakan kesehatan. Nah, puasa bisa diibaratkan sebagai “detoksifikasi ruhani” yang membebaskan diri kita dari sifat-sifat kotor dan perilaku tercela. Dalam puasa, nafsu makan dan minum serta nafsu seksual dikekang “sedikit ekstrim”. Bukan saja dikekang dari hal-hal yang haram, akan tetapi juga dari hal-hal yang biasa dimubahkan bagi kita. Kita tidak hanya dilarang makan daging babi dan minum khamr, tetapi makan daging sapi dan minum susu pun dilarang. Kita tidak hanya dilarang berzina, tetapi berhubungan seksual dengan pasangan yang halal pun tidak dibolehkan selama berpuasa.

Pelarangan ini mengandung hikmah tarbiah, agar jiwa kita terbiasa memikul kewajiban-kewajiban serta bersih dari keinginan kepada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Jika kita berhasil dalam proses tarbiah Ramadhan ini maka kita akan memiliki kemampuan hebat dalam pengendalian nafsu. Akan lebih mudah kita menjalankan perintah dan akan semakin ringan kita menjauhi larangan di luar bulan Ramadhan. Itulah hakikat ketakwaan yang menjadi tujuan disyariatkannya kewajiban puasa.

Umat-umat terdahulu telah menjalankan kewajiban puasa yang ditetapkan bagi mereka. Mereka telah menjadi contoh bagi kita tentang bagaimana menjalankan kewajiban ini sebaik-baiknya. Adapun sekarang, tibalah giliran kita untuk menjalankannya. Mari bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna. Kalau bisa, lebih sempurna daripada yang telah dilakukan oleh umat-umat yang mendahului kita. Semoga kita bisa!

Sukoharjo, 29 Juni 214 M

Hawin Murtadlo

Post Navigation