SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

MENGAPA MERINDU BULAN JIKA KAKI MELEKAT DI BUMI?


“Siapa yang ingin menikah tapi tidak mempunyai biaya? Siapa yang ingin naik haji dan belum memiliki ongkos? Siapa yang punya utang tapi tidak mampu membayar? Datanglah ke Baitul Mal, maka Baitul Mal akan menanggungnya.”

Itu bukan mimpi. Tapi itulah gambaran tentang kemakmuran yang dicapai dalam pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Masa pemerintahannya merupakan era keemasan kekhalifahan Dinasti Bani Umayah. Kemakmuran merata dirasakan oleh segenap rakyat. Banyak orang membayar zakat tapi sedikit yang menerimanya. Konon, harta zakat sampai ditawar-tawarkan, tapi tidak ada penerima. Sebuah kondisi negeri yang masih menjadi impian banyak bangsa. Umar telah mewujudkannya. Tahukah Anda, berapa lama Umar mewujudkan negeri adil makmur aman sentausa itu?

Mungkin Anda takkan percaya. Saya pun hampir tidak percaya. Namun, sejarah tidak berbohong. Umar bin Abdul Aziz ternyata memerintah hanya dalam waktu dua tahun saja. Berapa? Dua periode? Tidak, bacalah baik-baik. Dua tahun. Hanya dua tahun. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang kepala negara dalam waktu sependek itu?

Waktu dua tahun bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kemerdekaan 65 tahun dengan tujuh kepala negara yang silih berganti. Dan hasilnya? Negeri adil makmur bagi kita masih menjadi mimpi. Predikat negeri ini tidak jauh beranjak dari negara “berkembang”. Ya, berkembang di bawah negara-negara lain yang sudah melesat, tentunya. (Untuk ini, kita patut tersenyum kecut).

Saya rasa, sudah saatnya para negarawan kita jangan terlalu angkuh. Jangan pula terus memandang silau sistem pemerintahan impor yangl telah puluhan tahun diterapkan dan gagal itu. Jangan lagi menipu rakyat dengan menyebut-nyebut berbagai keberhasilan semu. Sepatutnya mereka kini lebih bersikap rendah hati. Mengoreksi, pasti telah terjadi kesalahan mendasar di negeri ini. Mereka layak mengkaji bagaimana cara khalifah yang adil dan shalih, Umar bin Abdul Aziz, menjalankan pemerintahannya dan menciptakan perubahan gemilang itu.

Kebijakan Umar di hari pertama pemerintahannya salah satu yang patut dicermati. Usai menerima sumpah sebagai khalifah, ia memanggil istrinya yang notabene putri Abdul Malik bin Marwan, khalifah yang digantikannya. Ia juga memanggil anak-anaknya. Bukan untuk bagi-bagi jabatan atau hadiah. Ia memerintahkan istri dan anak-anaknya untuk menyerahkan harta dan perhiasan yang mereka miliki ke kas negara, Baitul Mal. Tentu ia tahu, bahwa harta itu mereka miliki melalui cara yang sah. Tapi, kebijakan ini membuktikan betapa ia tidak ingin memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri dan keluarganya. Dia ingin pelayanan kepada rakyat menjadi prioritas pemerintahannya. Dan ini adalah awal yang baik untuk perubahan-perubahan gemilang yang dilakukannya.

Saat ini, beberapa negara muslim sedang dilanda krisis politik. Tunisia berganti penguasa. Mesir dan beberapa negara lain juga bergolak. Tidak mustahil angin perubahan juga berhembus hingga negeri ini.

Saya sendiri, sampai sekarang tidak terlalu banyak berharap. Andai perubahan itu ada pun, gejala yang tampak di permukaan tidak menunjukkan akan terjadinya perubahan yang substansial. Seperti dulu-dulu. Hanya ganti nama dan kemasan. Selanjutnya, kita akan memasuki perangkap yang sama. Kembali mengulang kesalahan yang sama.

Jadi, mengapa merindukan bulan, jika kaki masih melekat erat di bumi?

Iklan

Single Post Navigation

4 thoughts on “MENGAPA MERINDU BULAN JIKA KAKI MELEKAT DI BUMI?

  1. Menurut saya, kita harus semakin erat memegang syariat dan menyadarkan orang-orang yang kita cintai dan terdekat tentang pentingnya syariat bagi kehidupan. Karena kasih sayang-Nyalah, Allah menurunkan syariat kepada kita. Bukankah demikian?

  2. jadi apa solusi real yg bisa kita lakukan sebagai seorang warga negara yg tinggal di negara yang tidak menerapkan syariat islam? yang sangat merindukan bulan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: