SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Belum Tibakah Saatnya?


Banyak penduduk negeri ini yang semakin muak dengan ulah para politisi. Jelas, mereka sangat mengecewakan. Pintar sekali menebar harapan. Tentang negeri yang makmur, sejahtera, adil, dan beradab. Kenyataannya, mereka hanyalah orang-orang bermental rendah, gila kuasa, dan hobi memuaskan kesenangan sendiri, di atas penderitaan jutaan rakyat yang sudah terhanyut oleh mimpi-mimpi puluhan tahun.

Jika menghitung sejak kemerdekaan negeri ini dari penjajahan Belanda, maka tidak kurang dari 65 tahun rakyat kekenyangan disuapi janji. Nyatanya, keadaan negeri tak kunjung membaik meski dikendalikan oleh orang-orang sebangsa yang satu kulit dan satu bahasa. Keadilan, kemakmuran, dan martabat sebagai bangsa merdeka hanya terdengar indah dalam retorika. Sisanya, kita harus tetap tersenyum, dengan senyuman pahit tentunya, karena kenyataan masih sangat-sangat jauh dari harapan. Kekayaan alam yang melimpah tidak memberikan keberkahan. Sumber daya manusia yang besar dan hebat terlindas oleh liku-liku birokrasi yang penuh kelicikan. Para politisi tak ubahnya seperti para pembual yang gila pangkat, pujian, dan kekayaan. Mereka hanyalah orang-orang yang pintar mengolah kata, berkelit dari satu kesalahan untuk menawarkan sebuah kesalahan lain dengan kemasan yang sedikit lebih menggiurkan.

Negeri ini tidak hanya membutuhkan perbaikan tambal sulam. Karena, kebobrokan ini sudah ibarat kanker yang akarnya menjalar ke seluruh badan. Kebobrokan sudah menjangkau nyaris seluruh titik terjauh dan terdalam. Tanpa kita tahu, di mana ujung akhirnya. Perubahan yang dibutuhkan oleh rakyat negeri ini adalah perubahan yang sangat mendasar. Lebih dari sekedar bergantinya presiden, amandemen undang-undang, atau perubahan gaya bahasa dan retorika.

Mungkin itu sebuah revolusi. Revolusi yang muncul dari dasar diri setiap individu yang menginginkan perubahan di negeri ini. Dari kedalaman jiwa. Dari relung hati. Revolusi yang mengubah keingkaran setiap individunya menjadi keimanan, kekufuran menjadi kesyukuran, keangkuhan menjadi ketundukan di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tuhan Yang Memuliakan dan Menghinakan. Tuhan yang menciptakan dan menganugerahkan kemakmuran di negeri ini dan seluruh negeri di bumi ini serta membalas kesyukuran dengan tambahan karunia, sebaliknya membalas kekufuran dengan siksa.

Belum tibakah saatnya?

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: