SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

TAHUN BARU, USTADZ DZIKRON, DAN SEBUAH RENUNGAN WAKTU


Pukul 21.00, di malam terakhir tahun 2010 nada sms masuk terdengar dari HPku. Terlihat sebuah nomor yang tak kukenal. Ada sedikit perasaan deg-degan ketika aku hendak membukanya. “Ustadz Dzikron baru saja meninggal dunia. Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun” , begitu bunyi kalimat yang terbaca di layar hp. Inna lillah, sekejap aku terhenyak. Tak terasa, beberapa butiran air membasahi mataku.

Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Semoga Allah menerima amal shalihnya, mengampuni dosanya, dan memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkannya.” Kutekan tombol send untuk mengirimkan balasan singkat itu. Lalu bertubi-tubi sms-sms senada masuk ke HPku. Ada juga yang menelpon. Semuanya mengabarkan kewafatan ustadz penggagas Muri (Murottal Iqro’) itu.

Ingatanku langsung melayang pada pertemuan terakhir kami di toko beberapa pekan yang lalu. Beliau sedang mengajak istrinya berbelanja pakaian. Layaknya sahabat lama, kami sempat saling berbincang dan bercanda. Sama sekali aku tidak mendapat firasat bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir dengan beliau. Beliau sempat menitipkan brosur pengumuman pembukaan angkatan baru kursus tahsin Al-Quran untuk dibagikan kepada para pelanggan tokoku.

Kira-kira lima belas tahun lalu, aku pernah bersama beliau nyantri di sebuah ma’had tahfizh yang baru berdiri di kawasan Semanggi. Kami adalah dua murid pertama sebelum kedatangan Joko, Nuryanto, Anas, dan beberapa santri lain. Aku sempat mengira, Dzikron, begitu kami memanggil Ustadz Dzikron muda saat itu, berusia jauh di atasku. Ternyata, ia setahun lebih muda dariku. Jenggot lebat yang dipeliharanya telah membuatku salah menaksir usia pemuda yang supel dan humoris itu. Tampaknya, ia memang sangat menyayangi jenggotnya. Bahkan, ia memilih tidak mengikuti ujian akhir Madrasah Aliyah gara-gara disuruh memotong jenggotnya.

Belum kering ingatanku ketika dulu kami bersama-sama mencari guru yang bisa menerima setoran tahfizh. Saat itu, guru tahfizh di pondok kami sering berhalangan hadir. Maklum, pondok baru. Banyak hal yang belum siap. Sang ustadz juga memiliki beberapa urusan di luar pondok yang harus diselesaikan. Walhasil, beberapa bulan kami seperti anak ayam tanpa induk. Menghafal sampai penat, tanpa ada ustadz yang menyimak.

Aku dan Dzikron berinisiatif mencari guru. Berboncengan dengan sepeda kebo yang ada di ma’had, kami mendatangi sebuah pondok tahfizh NU yang ada di Mangkuyudan. Kami menemui seorang kyai muda yang bersahaja di pondok itu. Setelah mengutarakan maksud tujuan kami, kami dijamu di warung makan sang kyai. Alhamdulillah. Harapan untuk mendapat guru tahfizh terkabulkan. Plus, perut kami juga kenyang. Haha.

Hanya setengah tahun aku bersama Dzikron. Beliau menyelesaikan pendidikan di pondok itu hingga selesai. Sedangkan aku keluar pondok. Aku pergi untuk bekerja, karena terjerat utang yang terpaksa menjadi tanggunganku. Terpaksa, karena sebenarnya bukan aku yang berutang. Seorang ikhwan berbisnis dan aku membantunya mengambil barang secara konsinyasi di sebuah distributor kenalanku. Ternyata ikhwan tersebut tidak bisa menyelesaikan utangnya. Akhirnya, aku jadi ketempuhan untuk membayarnya.

Aku bertemu lagi setelah Dzikron menjadi ustadz. Orang menyebutnya, Ustadz Dzikron Al-Hafizh. Beliau mejadi direktur di sebuah pondok tahfizhul Quran. Bertahun-tahun beliau tekun mengajar Al-Quran di pondoknya. Juga mengajar di beberapa pondok lain. Seringkali, beliau juga menyelenggarakan kursus membaca atau menghafal Al-Quran di masjid-masjid dan pondok-pondok. Sudah banyak murid beliau saat ini yang hafizh Al-Quran 30 juz. Sebagian mendirikan pondok atau menjadi direktur pondok tahfizh. Banyak juga imam masjid di berbagai tempat yang dulunya adalah murid beliau.

Kini, Ustadz Dzikron Al-Hafizh sudah dipanggil oleh Allah SWT. Sedihnya, aku tidak sempat menjenguk saat beliau sakit. Bahkan tidak tahu jika beberapa hari ini beliau opname di PKU Muhammadiyah. Syukurlah, pagi tadi aku masih sempat datang dari Magetan ke Solo untuk menyalatkan jenazah beliau.

Mengenang beliau, saya jadi teringat sebuah hadits Nabi, yang maknanya kurang lebih sebagai berikut : “Tidak ada iri (yang dianjurkan) kecuali dalam dua hal. Seorang yang dikaruniai Allah Al-Quran, lantas membacanya di berbagai saat siang dan malam. Dan seseorang yang dikaruniai Allah harta, lantas dimudahkan oleh Allah untuk menggunakannya dalam kebenaran” atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW.

Ustadz Dzikron Al-Hafizh, meninggal di usia yang sangat muda. Sepatutnya kita iri, di usia yang sangat singkat, beliau telah memiliki banyak murid yang dulu belajar Al-Quran kepada beliau. Sekarang mereka telah menjadi guru-guru Al-Quran. Ini sungguh merupakan amal jariyah yang besar. Meski kematian telah menghalangi beliau untuk beramal, namun pahala amal dari murid-murid beliau itu akan terus mengalir. Sungguh, investasi yang sangat menguntungkan. Semoga Allah menerima amal shalih beliau, mengampuni dosa-dosa beliau, dan memasukkan beliau ke dalam golongan para shalihin.

Di awal tahun baru, kita diingatkan betapa tahun terus berganti. Kita semua antri. Tidak tahu, apakah saya atau Anda yang lebih dulu. Tapi, kita semua akan menyusul Ustadz Dzikron, bergerak menuju mati. Itu pasti. Seperti kepastian datangnya pagi. Bisakah di usia yang tersisa ini kita meninggalkan amal jariyah yang bermanfaat untuk bekal kita nanti?

Ibnu Umar ra. pernah berkata : “Jika kamu berada di pagi hari, jangan menunggu sore. Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Gunakan sebagian masa sehatmu untuk bekal masa sakitmu dan sebagian masa hidupmu untuk masa matimu.”

Selamat jalan Ustadz! Kami bersedih dengan kepergianmu. Insya Allah, suatu saat nanti, kami menyusulmu.

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: