SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

PANTANG MEMINTA


(PRINSIP YANG SEBAIKNYA TIDAK DILUPAKAN BAGI YANG INGIN MENIKAH)

“Barangsiapa berupaya keras untuk tidak meminta-minta, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya tanpa meminta-minta.”

Di zaman sekarang, seharusnya kita bisa memahami ketika seorang pemuda ingin bersegera menikah. Terlebih bila tujuan pernikahannya adalah untuk menyempurnakan separuh agama. Menjaga diri dari ketertarikan kepada wanita yang begitu menggoda. Seharusnya kita bisa memahami, karena kita tahu betapa banyak laki-laki berhati baja yang tiba-tiba lemah lunglai gara-gara wanita. Betapa banyak pula laki-laki cerdas yang tiba-tiba hilang kecerdasannya karena wanita. Maka, keinginan untuk segera menikah bisa kita pahami sebagai upaya seseorang untuk menyelamatkan agamanya.

Namun, melihat pengalaman para pemuda yang menikah, saya menyimpulkan tujuan baik saja tidak cukup. Lebih dari itu, seorang yang hendak menikah harus memiliki kesiapan mental untuk memikul beban tanggung jawabnya. Sebab, salah satu konsekuensi pernikahan adalah beralihnya tanggung jawab dari orang tua kepada suami. Maka, pemuda manapun yang menikah harus bersiap menerima tanggung jawab ini. Ia kudu siap menjadi pemimpin yang memberikan bimbingan dan perlindungan. Juga memberikan nafkah berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal bagi istrinya, sesuai kadar kemampuannya.

Penggalan hadits yang saya kutip di bawah judul artikel ini mengajarkan kepada kita sebuah prinsip yang sebaiknya kita pegang teguh, karena ia akan memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Itulah prinsip menjaga ‘iffah (harga diri). Seorang yang menjaga ‘iffah akan mencegah dirinya dari meminta-minta, meski dalam kondisi yang sangat membutuhkan.

Pada awalnya, memegang prinsip ini akan terasa sulitnya. Dibutuhkan kekuatan, kesabaran, dan perjuangan tersendiri. Saat penghasilan belum seberapa, betapa berat untuk mencukupkan diri berbelanja kebutuhan berdasarkan bujet yang tersedia saja. Mungkin, kita akan bertanya mengapa kita tidak datang kepada orang tua atau siapa yang kita tahu akan dengan senang hati membantu kita?

Kawan! Ada harapan yang sangat berharga, yang cukup untuk menjadi alasan kita untuk teguh memegang prinsip menjaga ‘iffah ini. Yaitu, janji kecukupan yang diberikan oleh Allah. Kecukupan dari Allah ini lebih kita butuhkan dan lebih baik bagi kita daripada sekadar bantuan sesaat dari manusia. Itulah janji yang bisa kita pahami dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Niscaya Allah mencukupi kebutuhannya, tanpa meminta-minta.” Dengan begitu, kita bisa menjadi seorang pemimpin keluarga yang mandiri. Bukankah itu yang kita dambakan? Wallahu a’lam.

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: