SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

SEDERHANAKAN PERNIKAHAN


Seringkali seorang pemuda terlalu ciut nyali untuk melakukan pernikahan. Di antara alasannya adalah biaya. Beberapa proses sebelum, selama, dan sesudah menikah lumayan rumit dan tentu memakan biaya. Jika mengingat pernikahan adalah sebuah perjanjian agung, sebenarnya biaya penyelenggaraan yang besar itu wajar saja. Namun, hal yang wajar itu kemudian dirasa terlalu berat oleh banyak pemuda kita. Sebab, tidak sedikit pemuda di usia layak menikah, kehidupan ekonominya belum mapan. Sebagian belum bekerja. Sebagian lagi sudah bekerja, namun penghasilannya tidak seberapa. Maka dari itu, tidak heran jika mereka akhirnya memutuskan untuk menunda pernikahan.

Di sisi lain, ketertarikan seorang pria kepada wanita, dan sebaliknya, secara naluri ada dalam diri setiap orang. Naluri ini tidak bisa dimatikan begitu saja. Bahkan, ia bisa dengan mudah berubah menjadi hasrat seksual yang tak terkendali karena rangsangan seksual di zaman sekarang sangat mudah ditemukan di mana-mana, baik di majalah, buku, internet, filem, atau lainnya. Akibatnya, perbuatan zina atau mendekati zina semakin terlihat nyata di hadapan kita. Statistik sebuah penelitian yang dirilis akhir-akhir ini membuat bergidik banyak orang. Saya bahkan berharap statistik itu salah. Betapa tidak! Penelitian itu melaporkan bahwa 51 dari 100 remaja perempuan kita sudah tidak perawan. Na’udzubillah! Tidakkah kita khawatir akan timbulnya dampak dahsyat yang menghancurkan struktur masyarakat kita akibat merajalelanya perzinaan ini?

Dari sini, kita bisa memahami betapa bijaksananya Islam ketika mendorong umatnya untuk memudahkan pernikahan, setelah menutup rapat pintu perzinaan. Soal mahar, misalnya. Meski tidak melarang wanita meminta mahar yang banyak, namun Islam menganjurkan wanita untuk meringankannya. Sebagaimana tersirat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita yang paling banyak keberkahannya adalah yang paling ringan maharnya.” Soal pesta pernikahan, Islam menekankan untuk mengadakannya dengan tujuan mengumumkan pernikahan, namun ia tidak menyalahkan jika pesta itu diselenggarakan secara sederhana saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adakanlah pesta pernikahan, meski hanya dengan menyembelih seekor kambing.” Dalam soal nafkah, Islam mewajibkan suami menafkahi keluarganya. Namun, besar kecilnya nafkah fleksibel, tergantung pada kadar kemampuan suami. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hendaklah, orang yang berkelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya. Dan barangsiapa disempitkan rezekinya, hendaklah ia memberikan nafkah dari apa yang diberikan oleh Allah kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 7)

Subhanallah! Ajaran Islam ini sungguh merupakan solusi yang sangat tepat bagi kita. Namun, maukah kita menerima kemudahan yang disodorkan oleh Islam ini? Tidakkah kita ingin agar hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat kita selalu dibingkai dalam ikatan tanggung jawab? Tidakkah kita ingin menyelamatkan generasi muda kita dengan cara membangun sendi-sendi kehidupan keluarga yang sehat? Ataukah kita masih terbelenggu dalam asumsi-asumsi lemah yang mendorong banyak dari kita cenderung mempersulit pernikahan, namun justru sangat permisif dengan perzinaan? Wallahu a’lam.

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: