SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Desember, 2010”

PANTANG MEMINTA


(PRINSIP YANG SEBAIKNYA TIDAK DILUPAKAN BAGI YANG INGIN MENIKAH)

“Barangsiapa berupaya keras untuk tidak meminta-minta, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya tanpa meminta-minta.”

Di zaman sekarang, seharusnya kita bisa memahami ketika seorang pemuda ingin bersegera menikah. Terlebih bila tujuan pernikahannya adalah untuk menyempurnakan separuh agama. Menjaga diri dari ketertarikan kepada wanita yang begitu menggoda. Seharusnya kita bisa memahami, karena kita tahu betapa banyak laki-laki berhati baja yang tiba-tiba lemah lunglai gara-gara wanita. Betapa banyak pula laki-laki cerdas yang tiba-tiba hilang kecerdasannya karena wanita. Maka, keinginan untuk segera menikah bisa kita pahami sebagai upaya seseorang untuk menyelamatkan agamanya.

Namun, melihat pengalaman para pemuda yang menikah, saya menyimpulkan tujuan baik saja tidak cukup. Lebih dari itu, seorang yang hendak menikah harus memiliki kesiapan mental untuk memikul beban tanggung jawabnya. Sebab, salah satu konsekuensi pernikahan adalah beralihnya tanggung jawab dari orang tua kepada suami. Maka, pemuda manapun yang menikah harus bersiap menerima tanggung jawab ini. Ia kudu siap menjadi pemimpin yang memberikan bimbingan dan perlindungan. Juga memberikan nafkah berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal bagi istrinya, sesuai kadar kemampuannya.

Penggalan hadits yang saya kutip di bawah judul artikel ini mengajarkan kepada kita sebuah prinsip yang sebaiknya kita pegang teguh, karena ia akan memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Itulah prinsip menjaga ‘iffah (harga diri). Seorang yang menjaga ‘iffah akan mencegah dirinya dari meminta-minta, meski dalam kondisi yang sangat membutuhkan.

Pada awalnya, memegang prinsip ini akan terasa sulitnya. Dibutuhkan kekuatan, kesabaran, dan perjuangan tersendiri. Saat penghasilan belum seberapa, betapa berat untuk mencukupkan diri berbelanja kebutuhan berdasarkan bujet yang tersedia saja. Mungkin, kita akan bertanya mengapa kita tidak datang kepada orang tua atau siapa yang kita tahu akan dengan senang hati membantu kita?

Kawan! Ada harapan yang sangat berharga, yang cukup untuk menjadi alasan kita untuk teguh memegang prinsip menjaga ‘iffah ini. Yaitu, janji kecukupan yang diberikan oleh Allah. Kecukupan dari Allah ini lebih kita butuhkan dan lebih baik bagi kita daripada sekadar bantuan sesaat dari manusia. Itulah janji yang bisa kita pahami dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Niscaya Allah mencukupi kebutuhannya, tanpa meminta-minta.” Dengan begitu, kita bisa menjadi seorang pemimpin keluarga yang mandiri. Bukankah itu yang kita dambakan? Wallahu a’lam.

SEDERHANAKAN PERNIKAHAN


Seringkali seorang pemuda terlalu ciut nyali untuk melakukan pernikahan. Di antara alasannya adalah biaya. Beberapa proses sebelum, selama, dan sesudah menikah lumayan rumit dan tentu memakan biaya. Jika mengingat pernikahan adalah sebuah perjanjian agung, sebenarnya biaya penyelenggaraan yang besar itu wajar saja. Namun, hal yang wajar itu kemudian dirasa terlalu berat oleh banyak pemuda kita. Sebab, tidak sedikit pemuda di usia layak menikah, kehidupan ekonominya belum mapan. Sebagian belum bekerja. Sebagian lagi sudah bekerja, namun penghasilannya tidak seberapa. Maka dari itu, tidak heran jika mereka akhirnya memutuskan untuk menunda pernikahan.

Di sisi lain, ketertarikan seorang pria kepada wanita, dan sebaliknya, secara naluri ada dalam diri setiap orang. Naluri ini tidak bisa dimatikan begitu saja. Bahkan, ia bisa dengan mudah berubah menjadi hasrat seksual yang tak terkendali karena rangsangan seksual di zaman sekarang sangat mudah ditemukan di mana-mana, baik di majalah, buku, internet, filem, atau lainnya. Akibatnya, perbuatan zina atau mendekati zina semakin terlihat nyata di hadapan kita. Statistik sebuah penelitian yang dirilis akhir-akhir ini membuat bergidik banyak orang. Saya bahkan berharap statistik itu salah. Betapa tidak! Penelitian itu melaporkan bahwa 51 dari 100 remaja perempuan kita sudah tidak perawan. Na’udzubillah! Tidakkah kita khawatir akan timbulnya dampak dahsyat yang menghancurkan struktur masyarakat kita akibat merajalelanya perzinaan ini?

Dari sini, kita bisa memahami betapa bijaksananya Islam ketika mendorong umatnya untuk memudahkan pernikahan, setelah menutup rapat pintu perzinaan. Soal mahar, misalnya. Meski tidak melarang wanita meminta mahar yang banyak, namun Islam menganjurkan wanita untuk meringankannya. Sebagaimana tersirat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita yang paling banyak keberkahannya adalah yang paling ringan maharnya.” Soal pesta pernikahan, Islam menekankan untuk mengadakannya dengan tujuan mengumumkan pernikahan, namun ia tidak menyalahkan jika pesta itu diselenggarakan secara sederhana saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adakanlah pesta pernikahan, meski hanya dengan menyembelih seekor kambing.” Dalam soal nafkah, Islam mewajibkan suami menafkahi keluarganya. Namun, besar kecilnya nafkah fleksibel, tergantung pada kadar kemampuan suami. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hendaklah, orang yang berkelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya. Dan barangsiapa disempitkan rezekinya, hendaklah ia memberikan nafkah dari apa yang diberikan oleh Allah kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 7)

Subhanallah! Ajaran Islam ini sungguh merupakan solusi yang sangat tepat bagi kita. Namun, maukah kita menerima kemudahan yang disodorkan oleh Islam ini? Tidakkah kita ingin agar hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat kita selalu dibingkai dalam ikatan tanggung jawab? Tidakkah kita ingin menyelamatkan generasi muda kita dengan cara membangun sendi-sendi kehidupan keluarga yang sehat? Ataukah kita masih terbelenggu dalam asumsi-asumsi lemah yang mendorong banyak dari kita cenderung mempersulit pernikahan, namun justru sangat permisif dengan perzinaan? Wallahu a’lam.

Post Navigation