SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Thibb Nabawi Itu Nyata


Thibb Nabawi atau “Pengobatan Nabi” mungkin bukan kata yang cukup familiar bagi sebagian orang saat ini. Sampai lima tahun lalu, saya juga termasuk salah seorang yang belum familiar itu. Meski meyakini ajaran Islam itu lengkap mencakup seluruh kebaikan dunia dan akhirat, namun menurut anggapan bodoh saya ketika itu –semoga Allah mengampuni kebodohan tersebut-, dunia pengobatan adalah sebuah ranah yang steril dari campur tangan agama Islam atau sedikit sekali bersinggungan dengannya. Anggapan saya itu diperkuat oleh fakta bahwa pengobatan yang berkembang dan dominan dipraktikkan di masyarakat saat itu berasal dari negeri-negeri yang notabene bukan negeri muslim. Pengobatan modern dari Eropa sedangkan pengobatan tradisional dari Cina.

Maka dulu, ketika saya membaca sebuah hadits tentang bekam -satu jenis pengobatan Thibb Nabawi yang saat ini berkembang pesat- saya belum bisa membayangkan bagaimana praktik pengobatan yang menggunakan sayatan ini. Saya pun menanyakan perihal ini kepada beberapa orang yang saya anggap memiliki wawasan baik di bidang agama dan pengobatan. Namun jawaban yang saya peroleh masih kabur. Bahkan, seorang ustadz yang saya tanya mengatakan bahwa pengobatan bekam kini telah berkembang menjadi operasi bedah yang dikenal sebagai salah satu tindakan medis yang penting dalam pengobatan modern. Maka, gambaran tentang bekam dan Thibb Nabawi untuk sementara waktu menguap dari benak saya.

Pikiran saya baru terbuka, ketika seorang sahabat saya yang berprofesi sebagai terapis bekam dan akupunktur di Semarang, datang mengunjungi saya. Ia langsung mempraktikkan bekam pada saya. Dipasangnya gelas bekam di beberapa titik di punggung saya. Gelas-gelas khusus itu memiliki lubang di bagian belakang yang dibuat sedemikian rupa sehingga dari situ bisa dilakukan penghisapan udara dengan pompa khusus. Ada rasa nyaman ketika kulit saya tertarik ke dalam gelas yang dihisap. Sekitar 3 menit, gelas dilepas meninggalkan benjolan dan warna kulit merah kehitaman. Pelan-pelan kawan saya melukai permukaan kulit dengan lancing device. Sakitkah? Sama sekali tidak. Gigitan semut rasanya jauh lebih sakit. Setelah itu, gelas kembali dipasang untuk penghisapan yang kedua sehingga darah keluar melalui permukaan kulit yang telah dilukai. Ketika diperlihatkan kepada saya, darah yang keluar tampak hitam dan kental mirip jelly. Tahukah Anda, apa yang saya rasakan? Seketika tubuh saya terasa lebih bugar dan ringan.

Ada lagi pengalaman lain yang tidak bisa saya lupakan. Suatu ketika saya kerja lembur. Ada order terjemahan buku dari sebuah penerbit yang harus segera saya selesaikan. Saya bekerja di depan komputer sejak bakda Isyak hingga kira-kira jam dua dini hari. Di meja samping saya sediakan sedikit camilan dan setengah teko minuman instan yang banyak dijual di warung, sembari menerjemah sesekali saya menikmatinya. Di luar perhitungan saya, ketika bangun tidur keesokan harinya, saya merasakan sakit di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Kepala cekot-cekot. Terapi akupresur biasanya cukup membuat tubuh saya bugar, tapi kali itu tidak mempan. Bahkan, malam hari setelah minum obat yang diberikan oleh terapis, saya mengalami sesak nafas yang memaksa saya terus duduk dan tidak bisa tidur. Keadaan separah itu adalah pertama kali saya alami. Sempat terdetik dalam pikiran saya, mungkin ajal saya sudah dekat.

Tiba-tiba saya teringat sebuah riwayat dalam buku terjemahan saya yang mengisahkan bahwa Rasulullah saw. dan beberapa sahabat pernah berbekam karena keracunan daging kambing. Spontan saya berpikir, mungkin bekam bisa menjadi solusi bagi saya. Maka, pagi hari sekitar jam tujuh saya memanggil seseorang untuk membekam saya. Benarlah dugaan saya. Keajaiban terjadi! Seluruh pegal, nyeri, dan sakit kepala saya hilang. Nafas saya pun kembali lega. Itu terjadi bahkan sebelum proses pembekaman selesai. Subhanallah!

Pengalaman ini membuat saya makin penasaran tentang terapi bekam khususnya dan umumnya Thibb Nabawi. Atas saran teman, saya mengikuti kursus pengobatan Islam yang diadakan selama tiga bulan oleh Institut Pelatihan Herba Al-Wahida (INTIBAH) di Solo. Selanjutnya, salah seorang instruktur kursus, almarhum Pak Kusnadi Singapermana –semoga Allah menerima amal shalihnya-, menawari saya mengikuti kursus pengobatan yang lebih intensif. Kebetulan, HPA (Herba Penawar Al-Wahida) mengadakan kursus pengobatan yang disebut “Sijjil Herbalis” di Perlis, Malaysia. Saya mengikuti saran Pak Kus, belajar selama hampir satu bulan di perusahaan herba milik seorang muslim, yaitu Haji Ismail bin Ahmad, yang pemasarannya berkembang luas di Indonesia ini.

Sejak itu, saya semakin terlibat jauh di dunia Thibb Nabawi. Beberapa buku tentang Thibb Nabawi saya terjemahkan, beberapa di antaranya telah terbit dan menjadi best seller. Saya dan keluarga juga semakin sering berbekam, mengkonsumsi habbas sauda’ dan madu, serta beberapa jenis terapi Thibb Nabawi lainnya. Beberapa orang juga meminta tolong untuk saya bekam. Kadang-kadang saya juga memenuhi undangan di beberapa forum untuk sekadar berbicara tentang bekam atau Thibb Nabawi. Saya juga mulai bertemu dan berdiskusi dengan beberapa terapis yang lebih berpengalaman.

Dari situ, lebih banyak pengalaman dan testimoni tentang Thibb Nabawi saya temukan. Sebagian saya alami sendiri. Sebagian dialami oleh keluarga atau teman saya. Sebagian lagi dikisahkan oleh beberapa terapis yang sempat berdiskusi dengan saya.

Sebagai contoh. Seorang sahabat saya, dosen di Ma‘had Abu Bakar Shiddiq, Universitas Muhammadiyah Surakarta yang menderita diabetes bercerita bahwa kadar gula darahnya menjadi normal setelah tiga kali menjalani terapi bekam.

Ibu saya bercerita, seorang sopir angkot di Magetan yang lumpuh karena stroke, akhirnya sembuh dan kembali bisa beraktivitas normal sebagai sopir angkot setelah menjalani beberapa kali terapi bekam.

Dengan mata kepala sendiri, saya melihat seorang bapak berusia 50-an tahun, tidur mendengkur saat menjalani terapi bekam. Padahal, sebelumnya ia mengaku tidak bisa tidur selama beberapa pekan meski sudah menjalani beberapa macam terapi, di antaranya minum obat tidur yang diresepkan dokter.

Sebenarnya banyak testimoni lain yang menunjukkan Thibb Nabawi benar-benar terbukti menjadi solusi untuk banyak kasus kesehatan. Banyak di antaranya justru merupakan penyakit serius yang sulit diobati dengan metode pengobatan konvensional, seperti : diabetes, stroke, hipertensi, asam urat, migrain, dan sebagainya. Artikel kecil ini tidak cukup untuk menceritakannya satu persatu. Namun, saya berhatap artikel ringkas ini menjadi bahan renungan yang bisa menyadarkan pembaca bahwa Thibb Nabawi sungguh merupakan fakta yang tak terbantahkan. Ia bukan isapan jempol segelintir orang. Ia benar-benar sebuah terapi menakjubkan yang terbukti memiliki kekuatan dahsyat untuk mengatasi banyak problem kesehatan manusia modern.

Sebagai muslim, tentu kita tidak perlu menunggu orang lain untuk mempercayai kebenaran Thibb Nabawi. Bukankah hadits Nabi saw. jika terbukti kesahihan riwayatnya adalah wahyu? Wallahu a’lam bishawab.

Iklan

Single Post Navigation

6 thoughts on “Thibb Nabawi Itu Nyata

  1. Wa ‘alaikum salam. Tafadhal.

  2. Assalamu ‘alaikum Ustadz mohon izin untuk memasukkan sedikit materi gambar di buku terbaru pada http://www.islamichealingcentre.com dengan tautan untuk membeli buku tersebut untuk tahu lebih lanjut

  3. Afwan, ana kurang tahu.

  4. Sy dr tasikmalaya dmn tmpt untk pelthn ThibbNabawi..syukron

    • Saya dari tasik juga. Saya punya alamat yang biasa saya ikuti palatihan tibbun nabawi. Di cikoneng ciamis nama kliniknya “AL DZAFIERA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: