SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

NEGARA DAN MASYARAKAT HARUS CEGAH WABAH PERZINAAN


Perzinaan harus dicegah. Jangan sampai perilaku nista ini menjadi wabah mengganas di masyarakat. Jika tidak, seluruh masyarakat akan merasakan dampak buruknya. Moral masyarakat berada di ujung tanduk kehancurannya. Dan jangan heran jika bencana menimpa pelaku zina maupun yang tidak melakukannya.

Dalam bahasa halus media, ia disebut hubungan seks pranikah, seks bebas, perselingkuhan, prostitusi, cinta terlarang, kumpul kebo atau apapun. Apapun sebutannya, jika kenyataannya adalah hubungan seks di luar kerangka pernikahan, maka ia adalah zina. Perbuatan yang sangat terlarang dalam agama. Dan sangat nista dalam pandangan kebanyakan orang yang masih hidup akal sehatnya.

Dampak buruk perzinaan akan dirasakan oleh banyak pihak. Yang pertama dan paling merasakan dampaknya justru perempuan pelaku zina itu sendiri. Bisa jadi, karena dorongan nafsu yang tak terkendali, godaan setan, atau bujuk rayu partnernya, seorang perempuan rela melakukan perzinaan. Orang menyebutnya sebagai hubungan seks yang dilakukan atas dasar “suka sama suka”. Meski begitu, bukan berarti jika dilakukan atas dasar suka sama suka si perempuan tidak menderita. Betapa banyak perempuan pelaku zina yang sangat menyesal begitu melakukannya. Hilangnya kesucian dan keperawanan, kehamilan, dan bayangan dosa terus menghantuinya. Jika terjadi kehamilan, ia menanggung malu tak terkira. Saking berat bebannya, sebagian perempuan nekat melakukan dosa lain yang tak kalah besar, yaitu membunuh janin di dalam perut dengan cara menggugurkannya. Ada juga yang membiarkan bayinya lahir dengan resiko memikul beban seumur hidupnya. Membesarkan anak sendiri, menafkahi dan mendidiknya hingga dewasa, tanpa seorang suami yang mendampingi. Laki-laki yang menghamili tak bertanggung jawab, sementara laki-laki lain tidak sudi menikahinya.

Korban kedua adalah bayi. Dialah pihak yang paling terzalimi. Sungguh, bukan salahnya ia ada. Yang bersalah adalah ibunya dan laki-laki yang menzinainya. Betapa tidak adilnya, karena ia harus menerima dampak yang tak terkira. Banyak dari bayi-bayi hasil perzinaan itu dibunuh sebelum lahir. Atas dosa apakah meraka dibunuh? Sebagian terlahir, lalu dibuang oleh ibunya di tempat sampah. Atas dosa apakah ia dibuang? Ada yang lahir dan dibesarkan oleh ibunya, dalam kehidupan yang penuh sengsara. Tumbuh tanpa kasih sayang ayah yang bisa membimbingnya hingga dewasa. Di usia yang masih kanak-kanak, saat jiwanya masih sangat rapuh, ia harus sering mendengar ejekan kawan-kawannya, disebut anak haram, anak jadah, atau kata-kata kejam lainnya. Setelah dewasa, statusnya sebagai anak tanpa ayah pun menjadi problem yang tidak ringan baginya. Jika menikah, ia tidak memiliki wali. Itu semua hanya sebagian kecil dari penderitaan yang harus ditanggungnya. Dan atas dosa apakah ia harus menanggung semuanya?

Orang tua dan keluarga, utamanya dari pihak wanita, juga terkena dampaknya. Aib perzinaan tidak hanya mencoreng muka pelaku, tapi juga menjadi aib keluarga. Aib bagi bapak ibunya. Aib pula bagi kakak dan adiknya. Membesarkan anak tanpa suami dengan berbagai beban beratnya, pada akhirnya juga menjadi beban keluarga. Bagaimana nafkah anak? Bagaimana pendidikannya? Bagaimana keperluan-keperluan lainya? Semua menjadi beban berat keluarga. Bisakah Anda bayangkan perasaan ibu yang dulu mengandung, menyusui, dan membesarkannya? Bagaimana pula perasaan ayahnya dengan segala harapan yang pernah disematkan pada anaknya?

Korban berikutnya adalah suami perempuan yang berzina, jika ia sudah terikat dalam perkawinan. Orang menyebut ini perselingkuhan. Rasa terhina, terzalimi, dan kecewa akan campuraduk dalam diri seorang suami yang diselingkuhi. Andai lelaki jahat itu membunuh istrinya, mungkin tidak lebih menyakitinya dibandingkan jika menzinainya. Dalam beberapa kasus, kita menemukan suami tega membunuh istrinya dan akhirnya masuk penjara. Usut punya usut, ternyata ia marah karena istrinya telah berzina. Penyesalan dan permintaan maaf sang istri tidak menghilangkan kalap dan kecewa hatinya. Dibunuhlah si istri dan si suami tanpa penyesalan menjalani hukuman penjara.

Begitu banyak dampak zina. Gambaran di atas hanya sebagian kecil saja. Kita belum membahas dampaknya bagi laki-laki yang melakukannya, keluarganya, istrinya -jika ia seorang lelaki beristri-, anaknya -jika sudah memiliki anak dari pernikahan yang sah-, dan bagi masyarakat luas. Namun, itu saja seharusnya cukup untuk menggerakkan kita untuk lebih proaktif melakukan pencegahan. Negara dan masyarakat seharusnya tidak tinggal diam. Jika negara bertanggung jawab atas seorang anak yang kelaparan, maka derita yang dirasakan anak yang terlahir dari perzinaan, perempuan pelaku zina, dan keluarganya jauh lebih berat dari sekedar kelaparan. Jika negara bertanggung jawab atas sebuah keluarga yang terkena bencana alam, maka bencana sebuah keluarga yang salah satu anggotanya dizinai jauh lebih dahsyat daripada terjangan bencana alam. Membiarkan perzinaan mewabah sama artinya membiarkan tindakan yang mendatangkan bencana bagi banyak pihak dan kehancuran bagi masyarakat.

Baiklah, mari kita buat sebuah perumpamaan. Sebuah kapal terdiri dari dua lantai. Para penumpang dibagi dua, sebagian tinggal di lantai bawah dan sebagian di lantai atas. Jika ingin mengambil air, para penumpang di lantai bawah harus naik ke lantai atas dulu, baru bisa mengambilnya. Maka, sebagian penumpang di lantai bawah berkata, “Alangkah baiknya kita melubangi dinding kapal bagian bawah, supaya bisa mengambil air langsung, tanpa melalui lantai atas dan tanpa menyusahkan orang-orang yang di atas.”

Menurut Anda, apa yang terjadi bila para penumpang di lantai atas membiarkannya? Ya, Anda tahu jawabannya. Seluruh penumpang kapal baik yang di atas maupun yang di bawah akan tenggelam. Sebaliknya, jika ia dicegah, semuanya akan selamat. Dalam kasus ini, kita tidak bisa menggunakan alasan basi hak asasi. Kenapa tidak dibiarkan ? Toh yang dilubangi adalah dinding kapal bagiannya sendiri ? Bukankah haknya untuk melubangi dinding kapalnya ?

Orang yang picik mata hatinya, melihat perzinaan hanya sebagai hak pribadi dua orang yang tergoda oleh hawa nafsunya. Ia tidak melihat, bahwa dampak perzinaan bukan hanya dirasakan oleh pelakunya sendiri, melainkan oleh banyak pihak dan bahkan seluruh masyarakat. Mereka terkena getah perbuatan nista ini. Maka negara harus melakukan sesuatu untuk melindungi mereka. Masyarakat juga harus melakukan sesuatu. Jangan beranggapan masalah ini cukup diatasi dengan nasihat orang tua di rumah, guru di sekolah, atau khotbah para juru dakwah di mimbar. Tidak, itu tidak cukup. Karena persoalan ini sangat kompleks, di luar kemampuan orang tua, guru, dan para juru dakwah.

Sebagai pelengkap artikel ini, berikut adalah hasil sebuah survey yang diadakan oleh Komnas Perlindungan Anak di 12 kota besar Indonesia pada tahun 2007 silam. Survey yang mengejutkan banyak pihak ini, menunjukkan betapa perzinaan sudah menjadi wabah yang mengerikan di negeri. Dampaknya pasti sangat besar terhadap generasi sekarang maupun yang akan datang. Ada beberapa blog yang mencantumkan hasil survei ini, di antaranya adalah : http://zamzamisaleh.blogspot.com/2008_11_01_archive.html

Tidakkah Anda merinding dengan hasil survey ini? Kita berharap, semoga survey ini tidak valid. Namun, hal yang lebih penting dari itu, semua pihak harus mengambil langkah proaktif untuk mencegah perzinaan. Karena jika tidak, bukan mustahil survey itu menjadi nyata atau lebih dari itu –na‘ûdzu billâhi min dzâlik. Dan negara tidak boleh berlepas diri dari tanggung jawab ini.

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: