SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Kasih Sayang Allah


Suatu ketika, serombongan tawanan datang kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mencari-cari anaknya. Begitu menemukan buah hatinya, sang ibu langsung memeluknya erat dan menyusuinya.

Sungguh, peristiwa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini sangat menyentuh hati. Disaksikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Beliau pun tidak menyia-nyiakan momentum ini untuk memberikan tarbiyah kepada para sahabatnya. Beliau bertanya, “Apakah menurut kalian, wanita ini rela melemparkan anaknya ke dalam api neraka?”

Sudah diduga, bagaimana jawaban para sahabat. “Tentu tidak, wahai Rasulullah”, kata mereka. Ya, bagaimana mungkin seorang ibu yang begitu mengasihi putranya rela menjerumuskannya ke dalam kebinasaan? Jangankan dibakar api, andaikata seekor semut hendak menggigit pun ia tak rela. Jangankan melihat anaknya menderita, berpisah pun telah membuat hatinya gundah gulana.

Dari sini, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam hendak menyampaikan sebuah pemahaman yang mungkin tidak semua orang menyadarinya, “Sungguh, Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.”

Subhanallah! Betapa besar kasih sayang ibu kepada anaknya sehingga pepatah mengatakan “kasih ibu sepanjang jalan”. Namun, apakah banyak orang menyadari bahwa kasih sayang Allah tiada batasnya? Sangat luas. Meliputi segala sesuatu. Ia tidak menginginkan hamba-Nya sengsara. Karena kasih sayang pula, Dia mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya. Agar hamba-hamba-Nya mengerti dan menjalankan syariat yang membawa mereka kepada keselamatan dan kepada kehidupan yang diberkati, di dunia dan di akhirat.

Namun, sebagian orang kadang-kadang tidak merasa dirinya membutuhkan kasih sayang Allah. Mereka menyangka Rasul telah berdusta atas nama-Nya. Mereka mengira bahwa kitab Allah hanyalah dongengan tak berguna untuk meninabobokan orang-orang bodoh belaka. Mereka menganggap syariat-Nya adalah setumpuk beban yang tak perlu diacuhkan oleh siapa pun yang menginginkan kebahagiaan dan kemakmuran.

Meski demikian, Allah tidak memutus kasih sayang-Nya terhadap mereka. Allah tetap memenuhi kebutuhan mereka untuk hidup di dunia. Bahkan kadang-kadang tetap memberinya melimpah ruah. Dan Dia sangat bergembira jika mereka kembali kepada-Nya. Jika mereka mendekat sejengkal, Allah mendekat kepada mereka sehasta. Jika mereka mendekat sehasta, maka Dia mendekat sedepa. Jika mereka mendekat dengan berjalan pelan, maka Dia mendekat dengan berjalan lebih cepat kepada mereka. Pintu-Nya selalu terbuka lebar, lebih lebar dari jarak antara Timur dan Barat. Dia pun bergembira dengan taubat hamba-Nya.

Kegembiraan-Nya tentu tidak serupa dengan kegembiraan hamba. Sebuah sabda Nabi saw. yang lain sedikit memberikan gambaran tentang kegembiraan itu. Seorang musafir, kata beliau, dalam perjalanan melalui sebuah padang pasir tandus dan gersang. Hanya unta kendaraannya yang menemaninya. Di atasnya terdapat seluruh perbekalan miliknya. Celakanya, di tengah padang pasir itu ia kehilangan kendaraannya. Tentu beserta semua muatannya. Dia mencari ke berbagai penjuru, namun tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jejaknya. Tiba di bawah sebatang pohon, ia kehabisan harapan. Dengan keputusasaan, ia merebahkan diri di bawah pohon sementara bayangan kematian sudah begitu dekat kepadanya. Ia pun tertidur.

Keajaiban terjadi ketika ia bangun dari tidurnya. Dilihatnya, untanya sudah berdiri di hadapan. Sungguh, ini seperti mimpi tetapi bukan mimpi. Tidak terperikan betapa kegembiraan yang dirasakannya. Spontan, dari mulutnya terucap, “Ya Allah, Engkau hambaku dan aku adalah Tuhanmu!” Tersalah ucapannya karena saking gembira.

Kata Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, Allah lebih bergembira karena taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan yang dialami oleh orang yang menemukan kembali kendaraan beserta perbekalannya yang hilang di padang pasir, sedangkan ia telah putus asa mencarinya. Begitulah kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya, sekalipun sang hamba telah menzalimi diri dengan durhaka kepada-Nya. Dia tidak menutup pintu kasih sayang dari mereka. Dia juga melarang orang-orang menutupnya dengan mengatakan, “Tiada harapan lagi bagi kalian.” Padahal tidak demikian. Selalu ada harapan bagi yang tulus ingin kembali kepada-Nya. Karena Allah mengampuni semua dosa. Selama taubat itu dilakukan bukan ketika nyawa sudah naik ke kerongkongan. Atau ketika matahari terbit dari Barat. Karena saat itu, seseorang sudah tidak bisa mendapat manfaat apapun dari keimanannya, jika sebelumnya tidak beriman.

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: