SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Oktober, 2010”

NEGARA DAN MASYARAKAT HARUS CEGAH WABAH PERZINAAN


Perzinaan harus dicegah. Jangan sampai perilaku nista ini menjadi wabah mengganas di masyarakat. Jika tidak, seluruh masyarakat akan merasakan dampak buruknya. Moral masyarakat berada di ujung tanduk kehancurannya. Dan jangan heran jika bencana menimpa pelaku zina maupun yang tidak melakukannya.

Dalam bahasa halus media, ia disebut hubungan seks pranikah, seks bebas, perselingkuhan, prostitusi, cinta terlarang, kumpul kebo atau apapun. Apapun sebutannya, jika kenyataannya adalah hubungan seks di luar kerangka pernikahan, maka ia adalah zina. Perbuatan yang sangat terlarang dalam agama. Dan sangat nista dalam pandangan kebanyakan orang yang masih hidup akal sehatnya.

Dampak buruk perzinaan akan dirasakan oleh banyak pihak. Yang pertama dan paling merasakan dampaknya justru perempuan pelaku zina itu sendiri. Bisa jadi, karena dorongan nafsu yang tak terkendali, godaan setan, atau bujuk rayu partnernya, seorang perempuan rela melakukan perzinaan. Orang menyebutnya sebagai hubungan seks yang dilakukan atas dasar “suka sama suka”. Meski begitu, bukan berarti jika dilakukan atas dasar suka sama suka si perempuan tidak menderita. Betapa banyak perempuan pelaku zina yang sangat menyesal begitu melakukannya. Hilangnya kesucian dan keperawanan, kehamilan, dan bayangan dosa terus menghantuinya. Jika terjadi kehamilan, ia menanggung malu tak terkira. Saking berat bebannya, sebagian perempuan nekat melakukan dosa lain yang tak kalah besar, yaitu membunuh janin di dalam perut dengan cara menggugurkannya. Ada juga yang membiarkan bayinya lahir dengan resiko memikul beban seumur hidupnya. Membesarkan anak sendiri, menafkahi dan mendidiknya hingga dewasa, tanpa seorang suami yang mendampingi. Laki-laki yang menghamili tak bertanggung jawab, sementara laki-laki lain tidak sudi menikahinya.

Korban kedua adalah bayi. Dialah pihak yang paling terzalimi. Sungguh, bukan salahnya ia ada. Yang bersalah adalah ibunya dan laki-laki yang menzinainya. Betapa tidak adilnya, karena ia harus menerima dampak yang tak terkira. Banyak dari bayi-bayi hasil perzinaan itu dibunuh sebelum lahir. Atas dosa apakah meraka dibunuh? Sebagian terlahir, lalu dibuang oleh ibunya di tempat sampah. Atas dosa apakah ia dibuang? Ada yang lahir dan dibesarkan oleh ibunya, dalam kehidupan yang penuh sengsara. Tumbuh tanpa kasih sayang ayah yang bisa membimbingnya hingga dewasa. Di usia yang masih kanak-kanak, saat jiwanya masih sangat rapuh, ia harus sering mendengar ejekan kawan-kawannya, disebut anak haram, anak jadah, atau kata-kata kejam lainnya. Setelah dewasa, statusnya sebagai anak tanpa ayah pun menjadi problem yang tidak ringan baginya. Jika menikah, ia tidak memiliki wali. Itu semua hanya sebagian kecil dari penderitaan yang harus ditanggungnya. Dan atas dosa apakah ia harus menanggung semuanya?

Orang tua dan keluarga, utamanya dari pihak wanita, juga terkena dampaknya. Aib perzinaan tidak hanya mencoreng muka pelaku, tapi juga menjadi aib keluarga. Aib bagi bapak ibunya. Aib pula bagi kakak dan adiknya. Membesarkan anak tanpa suami dengan berbagai beban beratnya, pada akhirnya juga menjadi beban keluarga. Bagaimana nafkah anak? Bagaimana pendidikannya? Bagaimana keperluan-keperluan lainya? Semua menjadi beban berat keluarga. Bisakah Anda bayangkan perasaan ibu yang dulu mengandung, menyusui, dan membesarkannya? Bagaimana pula perasaan ayahnya dengan segala harapan yang pernah disematkan pada anaknya?

Korban berikutnya adalah suami perempuan yang berzina, jika ia sudah terikat dalam perkawinan. Orang menyebut ini perselingkuhan. Rasa terhina, terzalimi, dan kecewa akan campuraduk dalam diri seorang suami yang diselingkuhi. Andai lelaki jahat itu membunuh istrinya, mungkin tidak lebih menyakitinya dibandingkan jika menzinainya. Dalam beberapa kasus, kita menemukan suami tega membunuh istrinya dan akhirnya masuk penjara. Usut punya usut, ternyata ia marah karena istrinya telah berzina. Penyesalan dan permintaan maaf sang istri tidak menghilangkan kalap dan kecewa hatinya. Dibunuhlah si istri dan si suami tanpa penyesalan menjalani hukuman penjara.

Begitu banyak dampak zina. Gambaran di atas hanya sebagian kecil saja. Kita belum membahas dampaknya bagi laki-laki yang melakukannya, keluarganya, istrinya -jika ia seorang lelaki beristri-, anaknya -jika sudah memiliki anak dari pernikahan yang sah-, dan bagi masyarakat luas. Namun, itu saja seharusnya cukup untuk menggerakkan kita untuk lebih proaktif melakukan pencegahan. Negara dan masyarakat seharusnya tidak tinggal diam. Jika negara bertanggung jawab atas seorang anak yang kelaparan, maka derita yang dirasakan anak yang terlahir dari perzinaan, perempuan pelaku zina, dan keluarganya jauh lebih berat dari sekedar kelaparan. Jika negara bertanggung jawab atas sebuah keluarga yang terkena bencana alam, maka bencana sebuah keluarga yang salah satu anggotanya dizinai jauh lebih dahsyat daripada terjangan bencana alam. Membiarkan perzinaan mewabah sama artinya membiarkan tindakan yang mendatangkan bencana bagi banyak pihak dan kehancuran bagi masyarakat.

Baiklah, mari kita buat sebuah perumpamaan. Sebuah kapal terdiri dari dua lantai. Para penumpang dibagi dua, sebagian tinggal di lantai bawah dan sebagian di lantai atas. Jika ingin mengambil air, para penumpang di lantai bawah harus naik ke lantai atas dulu, baru bisa mengambilnya. Maka, sebagian penumpang di lantai bawah berkata, “Alangkah baiknya kita melubangi dinding kapal bagian bawah, supaya bisa mengambil air langsung, tanpa melalui lantai atas dan tanpa menyusahkan orang-orang yang di atas.”

Menurut Anda, apa yang terjadi bila para penumpang di lantai atas membiarkannya? Ya, Anda tahu jawabannya. Seluruh penumpang kapal baik yang di atas maupun yang di bawah akan tenggelam. Sebaliknya, jika ia dicegah, semuanya akan selamat. Dalam kasus ini, kita tidak bisa menggunakan alasan basi hak asasi. Kenapa tidak dibiarkan ? Toh yang dilubangi adalah dinding kapal bagiannya sendiri ? Bukankah haknya untuk melubangi dinding kapalnya ?

Orang yang picik mata hatinya, melihat perzinaan hanya sebagai hak pribadi dua orang yang tergoda oleh hawa nafsunya. Ia tidak melihat, bahwa dampak perzinaan bukan hanya dirasakan oleh pelakunya sendiri, melainkan oleh banyak pihak dan bahkan seluruh masyarakat. Mereka terkena getah perbuatan nista ini. Maka negara harus melakukan sesuatu untuk melindungi mereka. Masyarakat juga harus melakukan sesuatu. Jangan beranggapan masalah ini cukup diatasi dengan nasihat orang tua di rumah, guru di sekolah, atau khotbah para juru dakwah di mimbar. Tidak, itu tidak cukup. Karena persoalan ini sangat kompleks, di luar kemampuan orang tua, guru, dan para juru dakwah.

Sebagai pelengkap artikel ini, berikut adalah hasil sebuah survey yang diadakan oleh Komnas Perlindungan Anak di 12 kota besar Indonesia pada tahun 2007 silam. Survey yang mengejutkan banyak pihak ini, menunjukkan betapa perzinaan sudah menjadi wabah yang mengerikan di negeri. Dampaknya pasti sangat besar terhadap generasi sekarang maupun yang akan datang. Ada beberapa blog yang mencantumkan hasil survei ini, di antaranya adalah : http://zamzamisaleh.blogspot.com/2008_11_01_archive.html

Tidakkah Anda merinding dengan hasil survey ini? Kita berharap, semoga survey ini tidak valid. Namun, hal yang lebih penting dari itu, semua pihak harus mengambil langkah proaktif untuk mencegah perzinaan. Karena jika tidak, bukan mustahil survey itu menjadi nyata atau lebih dari itu –na‘ûdzu billâhi min dzâlik. Dan negara tidak boleh berlepas diri dari tanggung jawab ini.

Kasih Sayang Allah


Suatu ketika, serombongan tawanan datang kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mencari-cari anaknya. Begitu menemukan buah hatinya, sang ibu langsung memeluknya erat dan menyusuinya.

Sungguh, peristiwa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini sangat menyentuh hati. Disaksikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Beliau pun tidak menyia-nyiakan momentum ini untuk memberikan tarbiyah kepada para sahabatnya. Beliau bertanya, “Apakah menurut kalian, wanita ini rela melemparkan anaknya ke dalam api neraka?”

Sudah diduga, bagaimana jawaban para sahabat. “Tentu tidak, wahai Rasulullah”, kata mereka. Ya, bagaimana mungkin seorang ibu yang begitu mengasihi putranya rela menjerumuskannya ke dalam kebinasaan? Jangankan dibakar api, andaikata seekor semut hendak menggigit pun ia tak rela. Jangankan melihat anaknya menderita, berpisah pun telah membuat hatinya gundah gulana.

Dari sini, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam hendak menyampaikan sebuah pemahaman yang mungkin tidak semua orang menyadarinya, “Sungguh, Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.”

Subhanallah! Betapa besar kasih sayang ibu kepada anaknya sehingga pepatah mengatakan “kasih ibu sepanjang jalan”. Namun, apakah banyak orang menyadari bahwa kasih sayang Allah tiada batasnya? Sangat luas. Meliputi segala sesuatu. Ia tidak menginginkan hamba-Nya sengsara. Karena kasih sayang pula, Dia mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya. Agar hamba-hamba-Nya mengerti dan menjalankan syariat yang membawa mereka kepada keselamatan dan kepada kehidupan yang diberkati, di dunia dan di akhirat.

Namun, sebagian orang kadang-kadang tidak merasa dirinya membutuhkan kasih sayang Allah. Mereka menyangka Rasul telah berdusta atas nama-Nya. Mereka mengira bahwa kitab Allah hanyalah dongengan tak berguna untuk meninabobokan orang-orang bodoh belaka. Mereka menganggap syariat-Nya adalah setumpuk beban yang tak perlu diacuhkan oleh siapa pun yang menginginkan kebahagiaan dan kemakmuran.

Meski demikian, Allah tidak memutus kasih sayang-Nya terhadap mereka. Allah tetap memenuhi kebutuhan mereka untuk hidup di dunia. Bahkan kadang-kadang tetap memberinya melimpah ruah. Dan Dia sangat bergembira jika mereka kembali kepada-Nya. Jika mereka mendekat sejengkal, Allah mendekat kepada mereka sehasta. Jika mereka mendekat sehasta, maka Dia mendekat sedepa. Jika mereka mendekat dengan berjalan pelan, maka Dia mendekat dengan berjalan lebih cepat kepada mereka. Pintu-Nya selalu terbuka lebar, lebih lebar dari jarak antara Timur dan Barat. Dia pun bergembira dengan taubat hamba-Nya.

Kegembiraan-Nya tentu tidak serupa dengan kegembiraan hamba. Sebuah sabda Nabi saw. yang lain sedikit memberikan gambaran tentang kegembiraan itu. Seorang musafir, kata beliau, dalam perjalanan melalui sebuah padang pasir tandus dan gersang. Hanya unta kendaraannya yang menemaninya. Di atasnya terdapat seluruh perbekalan miliknya. Celakanya, di tengah padang pasir itu ia kehilangan kendaraannya. Tentu beserta semua muatannya. Dia mencari ke berbagai penjuru, namun tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jejaknya. Tiba di bawah sebatang pohon, ia kehabisan harapan. Dengan keputusasaan, ia merebahkan diri di bawah pohon sementara bayangan kematian sudah begitu dekat kepadanya. Ia pun tertidur.

Keajaiban terjadi ketika ia bangun dari tidurnya. Dilihatnya, untanya sudah berdiri di hadapan. Sungguh, ini seperti mimpi tetapi bukan mimpi. Tidak terperikan betapa kegembiraan yang dirasakannya. Spontan, dari mulutnya terucap, “Ya Allah, Engkau hambaku dan aku adalah Tuhanmu!” Tersalah ucapannya karena saking gembira.

Kata Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, Allah lebih bergembira karena taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan yang dialami oleh orang yang menemukan kembali kendaraan beserta perbekalannya yang hilang di padang pasir, sedangkan ia telah putus asa mencarinya. Begitulah kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya, sekalipun sang hamba telah menzalimi diri dengan durhaka kepada-Nya. Dia tidak menutup pintu kasih sayang dari mereka. Dia juga melarang orang-orang menutupnya dengan mengatakan, “Tiada harapan lagi bagi kalian.” Padahal tidak demikian. Selalu ada harapan bagi yang tulus ingin kembali kepada-Nya. Karena Allah mengampuni semua dosa. Selama taubat itu dilakukan bukan ketika nyawa sudah naik ke kerongkongan. Atau ketika matahari terbit dari Barat. Karena saat itu, seseorang sudah tidak bisa mendapat manfaat apapun dari keimanannya, jika sebelumnya tidak beriman.

Thibb Nabawi Itu Nyata


Thibb Nabawi atau “Pengobatan Nabi” mungkin bukan kata yang cukup familiar bagi sebagian orang saat ini. Sampai lima tahun lalu, saya juga termasuk salah seorang yang belum familiar itu. Meski meyakini ajaran Islam itu lengkap mencakup seluruh kebaikan dunia dan akhirat, namun menurut anggapan bodoh saya ketika itu –semoga Allah mengampuni kebodohan tersebut-, dunia pengobatan adalah sebuah ranah yang steril dari campur tangan agama Islam atau sedikit sekali bersinggungan dengannya. Anggapan saya itu diperkuat oleh fakta bahwa pengobatan yang berkembang dan dominan dipraktikkan di masyarakat saat itu berasal dari negeri-negeri yang notabene bukan negeri muslim. Pengobatan modern dari Eropa sedangkan pengobatan tradisional dari Cina.

Maka dulu, ketika saya membaca sebuah hadits tentang bekam -satu jenis pengobatan Thibb Nabawi yang saat ini berkembang pesat- saya belum bisa membayangkan bagaimana praktik pengobatan yang menggunakan sayatan ini. Saya pun menanyakan perihal ini kepada beberapa orang yang saya anggap memiliki wawasan baik di bidang agama dan pengobatan. Namun jawaban yang saya peroleh masih kabur. Bahkan, seorang ustadz yang saya tanya mengatakan bahwa pengobatan bekam kini telah berkembang menjadi operasi bedah yang dikenal sebagai salah satu tindakan medis yang penting dalam pengobatan modern. Maka, gambaran tentang bekam dan Thibb Nabawi untuk sementara waktu menguap dari benak saya.

Pikiran saya baru terbuka, ketika seorang sahabat saya yang berprofesi sebagai terapis bekam dan akupunktur di Semarang, datang mengunjungi saya. Ia langsung mempraktikkan bekam pada saya. Dipasangnya gelas bekam di beberapa titik di punggung saya. Gelas-gelas khusus itu memiliki lubang di bagian belakang yang dibuat sedemikian rupa sehingga dari situ bisa dilakukan penghisapan udara dengan pompa khusus. Ada rasa nyaman ketika kulit saya tertarik ke dalam gelas yang dihisap. Sekitar 3 menit, gelas dilepas meninggalkan benjolan dan warna kulit merah kehitaman. Pelan-pelan kawan saya melukai permukaan kulit dengan lancing device. Sakitkah? Sama sekali tidak. Gigitan semut rasanya jauh lebih sakit. Setelah itu, gelas kembali dipasang untuk penghisapan yang kedua sehingga darah keluar melalui permukaan kulit yang telah dilukai. Ketika diperlihatkan kepada saya, darah yang keluar tampak hitam dan kental mirip jelly. Tahukah Anda, apa yang saya rasakan? Seketika tubuh saya terasa lebih bugar dan ringan.

Ada lagi pengalaman lain yang tidak bisa saya lupakan. Suatu ketika saya kerja lembur. Ada order terjemahan buku dari sebuah penerbit yang harus segera saya selesaikan. Saya bekerja di depan komputer sejak bakda Isyak hingga kira-kira jam dua dini hari. Di meja samping saya sediakan sedikit camilan dan setengah teko minuman instan yang banyak dijual di warung, sembari menerjemah sesekali saya menikmatinya. Di luar perhitungan saya, ketika bangun tidur keesokan harinya, saya merasakan sakit di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Kepala cekot-cekot. Terapi akupresur biasanya cukup membuat tubuh saya bugar, tapi kali itu tidak mempan. Bahkan, malam hari setelah minum obat yang diberikan oleh terapis, saya mengalami sesak nafas yang memaksa saya terus duduk dan tidak bisa tidur. Keadaan separah itu adalah pertama kali saya alami. Sempat terdetik dalam pikiran saya, mungkin ajal saya sudah dekat.

Tiba-tiba saya teringat sebuah riwayat dalam buku terjemahan saya yang mengisahkan bahwa Rasulullah saw. dan beberapa sahabat pernah berbekam karena keracunan daging kambing. Spontan saya berpikir, mungkin bekam bisa menjadi solusi bagi saya. Maka, pagi hari sekitar jam tujuh saya memanggil seseorang untuk membekam saya. Benarlah dugaan saya. Keajaiban terjadi! Seluruh pegal, nyeri, dan sakit kepala saya hilang. Nafas saya pun kembali lega. Itu terjadi bahkan sebelum proses pembekaman selesai. Subhanallah!

Pengalaman ini membuat saya makin penasaran tentang terapi bekam khususnya dan umumnya Thibb Nabawi. Atas saran teman, saya mengikuti kursus pengobatan Islam yang diadakan selama tiga bulan oleh Institut Pelatihan Herba Al-Wahida (INTIBAH) di Solo. Selanjutnya, salah seorang instruktur kursus, almarhum Pak Kusnadi Singapermana –semoga Allah menerima amal shalihnya-, menawari saya mengikuti kursus pengobatan yang lebih intensif. Kebetulan, HPA (Herba Penawar Al-Wahida) mengadakan kursus pengobatan yang disebut “Sijjil Herbalis” di Perlis, Malaysia. Saya mengikuti saran Pak Kus, belajar selama hampir satu bulan di perusahaan herba milik seorang muslim, yaitu Haji Ismail bin Ahmad, yang pemasarannya berkembang luas di Indonesia ini.

Sejak itu, saya semakin terlibat jauh di dunia Thibb Nabawi. Beberapa buku tentang Thibb Nabawi saya terjemahkan, beberapa di antaranya telah terbit dan menjadi best seller. Saya dan keluarga juga semakin sering berbekam, mengkonsumsi habbas sauda’ dan madu, serta beberapa jenis terapi Thibb Nabawi lainnya. Beberapa orang juga meminta tolong untuk saya bekam. Kadang-kadang saya juga memenuhi undangan di beberapa forum untuk sekadar berbicara tentang bekam atau Thibb Nabawi. Saya juga mulai bertemu dan berdiskusi dengan beberapa terapis yang lebih berpengalaman.

Dari situ, lebih banyak pengalaman dan testimoni tentang Thibb Nabawi saya temukan. Sebagian saya alami sendiri. Sebagian dialami oleh keluarga atau teman saya. Sebagian lagi dikisahkan oleh beberapa terapis yang sempat berdiskusi dengan saya.

Sebagai contoh. Seorang sahabat saya, dosen di Ma‘had Abu Bakar Shiddiq, Universitas Muhammadiyah Surakarta yang menderita diabetes bercerita bahwa kadar gula darahnya menjadi normal setelah tiga kali menjalani terapi bekam.

Ibu saya bercerita, seorang sopir angkot di Magetan yang lumpuh karena stroke, akhirnya sembuh dan kembali bisa beraktivitas normal sebagai sopir angkot setelah menjalani beberapa kali terapi bekam.

Dengan mata kepala sendiri, saya melihat seorang bapak berusia 50-an tahun, tidur mendengkur saat menjalani terapi bekam. Padahal, sebelumnya ia mengaku tidak bisa tidur selama beberapa pekan meski sudah menjalani beberapa macam terapi, di antaranya minum obat tidur yang diresepkan dokter.

Sebenarnya banyak testimoni lain yang menunjukkan Thibb Nabawi benar-benar terbukti menjadi solusi untuk banyak kasus kesehatan. Banyak di antaranya justru merupakan penyakit serius yang sulit diobati dengan metode pengobatan konvensional, seperti : diabetes, stroke, hipertensi, asam urat, migrain, dan sebagainya. Artikel kecil ini tidak cukup untuk menceritakannya satu persatu. Namun, saya berhatap artikel ringkas ini menjadi bahan renungan yang bisa menyadarkan pembaca bahwa Thibb Nabawi sungguh merupakan fakta yang tak terbantahkan. Ia bukan isapan jempol segelintir orang. Ia benar-benar sebuah terapi menakjubkan yang terbukti memiliki kekuatan dahsyat untuk mengatasi banyak problem kesehatan manusia modern.

Sebagai muslim, tentu kita tidak perlu menunggu orang lain untuk mempercayai kebenaran Thibb Nabawi. Bukankah hadits Nabi saw. jika terbukti kesahihan riwayatnya adalah wahyu? Wallahu a’lam bishawab.

Post Navigation