SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

MENGELUH


Mengeluh ada dua macam. Salah satunya mengeluh tidak terpuji yang menunjukkan minimnya kesabaran seseorang. Seseorang mengeluh kepada sesama manusia tentang hal-hal yang tidak menyenangkan dirinya. Mungkin tentang sakit yang menimpa, rezeki yang sempit, atau hal lain yang dianggap sebagai kesialannya. Perlu diingat, semua hal yang tidak menyenangkan itu terjadi dengan Allah. Maka, tindakan ini tak ubahnya mengeluhkan Khaliq kepada makhluk, mengadukan Pemberi Rezeki kepada yang diberi rezeki, menceritakan kekecewaan terhadap Yang Maha Penyayang kepada yang belum tentu memiliki sedikit rasa kasih sayang kepadanya.
Satu lagi mengeluh terpuji, yaitu kepada Allah. Dengan kaki bersimpuh dan air mata taubat bercucuran, disertai dengan pengakuan salah  dan perasaan lemah di hadapan-Nya,  seorang hamba mengadukan keadaan sulit yang menimpa dirinya kepada Yang Maha Penyayang seraya memohon kekuatan dan pertolongan-Nya. Keluhan seperti ini tidak mengurangi nilai kesabaran. Hamba Allah yang paling penyabar pun melakukannya.
Ya’qub as. seorang pemiliki kesabaran baik. Yusuf, putra kesayangannya, dikhianati oleh putra-putranya sendiri. Dengan segala muslihat dan bujuk rayu mereka berhasil meyakinkannya untuk membawa Yusuf as. bersama mereka menggembala kambing di tepi hutan. Di situlah Yusuf dianiaya dan dimasukkan ke dalam sumur tua. Setelah merasa semua ‘beres’, malam hari mereka pun datang kepada ayah mereka sambil menangis tersedu-sedu. “Kami pergi mengadakan perlombaan, meninggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu ia diterkam oleh serigala. Engkau tentu tidak percaya kepada kami, meski kami orang-orang yang jujur.” Untuk meyakinkan, mereka datang membawa baju Yusuf yang sudah dilumuri darah domba.
Sangat mudah bagi Ya’kub untuk mengetahui keculasan anak-anaknya itu. Mana mungkin, Yusuf diterkam serigala sementara baju Yusuf yang mereka bawa tetap utuh, meski berlumur darah? Namun, Ya’kub memilih untuk bersabar dan hanya mengadukan masalahnya kepada Allah. “Aku hanya mengadukan duka dan kesedihanku kepada Allah.”
Ayyub ‘alaihis salam adalah contoh lain hamba yang penyaabar. Allah mengujinya dengan berbagai cobaan yang berat. Hartanya habis ludes. Anak-anaknya meninggal dunia. Istrinya pun meninggalkannya. Allah sendiri memberikan pujian kepadanya, “Kami dapati ia seorang penyabar; ia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, ia seorang yang banyak bertaubat.”. Ayyub kadang merasa perlu mengeluhkan keadaan dirinya. Namun, keluhannya hanya ditujukan kepada Allah : “Rabbi, aku sungguh telah disentuh oleh keburukan, sedangkan Engaku Maha Penyayang.”
Mengeluhkan Khaliq kepada makhluk merupakan adab yang buruk bagi seorang beriman. Selain mengurangi atau menghilangkan pahala kesabaran, seringkali keluhan seperti ini justru menambah masalah. Alih-alih mendapat simpati dari orang yang dikeluhi. Tidak jarang yang terjadi justru sebaliknya. Hati orang yang mendengar keluhan itu tertawa-tawa, “Haha… syukurin!”
Jadi, kapan kita berhenti mengeluh?

Iklan

Single Post Navigation

One thought on “MENGELUH

  1. Karena aku lemah, aku mengeluh pada-Mu, ya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: