SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “November, 2009”

BERDAKWAH DENGAN KELEMBUTAN


Saya sungguh terkesan ketika menghadiri beberapa majelis ilmu, di mana sang ustadz mengawali majlisnya dengan kalimat-kalimat lembut yang menggetarkan perasaan dan menggerakkan hati, dengan pengantar-pengantar yang bermuatan motivasi dan doa kebaikan bagi jamaah yang hadir di majlisnya. Tiba-tiba saja, hati merasa tentram berada di majlis itu, sangat haus mendengarkan kalimat-kalimat bernas dan bermuatan ilmu yang mengalir satu persatu dari bibir sang dai yang tidak segan-segan memberikan senyuman tulus menyejukkan hati.
Saudaraku! Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayang kepadamu serta mempertemukan kita di negeri kasih sayang-Nya yang abadi, di surga. Izinkan saya menyampaikan satu hal yang kadang saya atau sebagian saudaraku lupakan ketika menyampaikan dakwah, baik melalui mimbar maupun media tulisan. Semoga, apa yang saya sampaikan ini menjadi pengingat bagi diri saya maupun saudaraku yang sudah mengetahui, serta menjadi informasi bermanfaat bagi yang belum mengetahui.
Saudaraku! Dakwah harus disampaikan dengan sikap lembut, santun, simpatik dan bijaksana. Allah SWT. memuji sikap lembut Nabi Muhammad saw. kepada sahabat-sahabatnya. “Berkat nikmat dari Allah, kamu bersikap lembut kepada mereka. Andaikata engkau bertutur kasar dan berhati keras, tentulah mereka bercerai-berai dari sisimu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan itu.”
Jangan mencampuradukkan antara sikap di medan dakwah dengan sikap di medan jihad fi sabilillah. Jika sedang berjihad, sudah pada tempatnya jika seseorang mempertontonkan kekerasan dan keperwiraan, sebagaimana difirmankan oleh Allah, “Wahai Nabi, berjihadlah terhadap orang-orang kafir dan munafik, serta bersikap keraslah terhadap mereka.”
Namun, ingatlah saudaraku, di medan dakwah engkau tidak sedang berperang! Di sini engkau perlu menunjukkan kasih sayang dan kelembutan kepada orang-orang yang engkau dakwahi. Ingatkah saudaraku, pesan Allah kepada Nabi Musa as. dan Nabi Harun as., dua da’i terbaik di muka bumi di masanya, ketika hendak mendakwahi Fir’aun, manusia paling kufur kala itu? Allah berfirman, “Pergilah engkau berdua menjumpai Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Katakan kepadanya perkataan yang lembut, mudah-mudahan ia mengambil pelajaran atau takut.’”
Jika kepada Fir’aun yang dengan sombongnya memplokamirkan, “Aku adalah Tuhanmu yang Mahatinggi” sang dai harus mengucapkan perkataan lembut, bagaimana pula kepada saudara muslim yang selalu mengulang ucapan, “Mahasuci Rabbku yang Mahatinggi”?
Saudaraku! Metode dakwah sudah ada tuntunannya dari Allah. Ia tidak berubah, meski situasi berubah. Ia termuat dalam firman-Nya, “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik. Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”
Bijaksana artinya menyampaikan ucapan yang seharusnya, pada saat yang seharusnya, dalam situasi yang seharusnya. Pilar-pilarnya adalah : ilmu, kesantunan, dan kesabaran. Wallahu a’lam.

GUGURNYA KEWAJIBAN JUMATAN PADA HARI RAYA


Ada kemungkinan, Hari Raya Idul Adha 1430 H ini jatuh pada hari Jumat, 27 November 2009. Jika demikian, maka kewajiban berjumatan (menghadiri dan melaksanakan shalat Jumat) gugur dari siapa yang pagi harinya telah menjalankan shalat Id. Ia boleh melaksanakan shalat Zhuhur. Hal ini berdasarkan riwayat dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, ia berkata :

شهدت معاوية يسأل زيد بن أرقم هل شهدت مع رسول الله عيدين اجتمعا في يوم واحد؟ قال : نعم. قال : فكيف صنع؟ قال : صلى العيد ثم رخص في الجمعة فقال : “من شاء أن يصلي فليصل” رواه أبو داود و الإمام أحمد ولفظه “من شاء أن يجمع فليجمع

“Aku pernah menyaksikan Muawiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, ‘Pernahkah engkau bersama Rasulullah saw. mengalami dua hari raya yang bertemu dalam satu hari?’ Zaid menjawab, ‘Ya, pernah.’ Muawiyah bertanya, ‘Bagaimana yang dilakukan oleh beliau?’ Zaid menjawab, ‘Beliau melaksanakan shalat Id, kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk tidak berjumatan. Beliau bersabda : “Barangsiapa yang berkehendak melaksanakan shalat, silakan ia melaksanakan shalat.”’” (HR. Abu Dawud dan Ahmad. Sedangkan redaksi dalam riwayat Ahmad berbunyi, “Barangsiapa yang hendak berjumatan, silakan berjumatan.”)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw. yang bersabda :

“اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون” رواه ابن ماجه
“Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya. Barangsiapa yang berkehendak tidak berjumatan, maka shalat Id ini telah cukup sebagai pengganti jumatan, namun kami akan berjumatan.” (HR. Ibnu Majah)

Masih terdapat riwayat semacam itu melalui Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dari Nabi saw..
Kelebihan shalat Jumat, dibandingkan shalat Zhuhur adalah adanya khotbah. Maka, orang yang telah mendengarkan khotbah pada sholat Id, tidak berkewajiban mendengarkan khotbah dua kali pada hari itu, dengan menghadiri shalat Jumat.

KEWAJIBAN JUMATAN TIDAK GUGUR BAGI IMAM

Kewajiban berjumatan tidak gugur dari imam. Hal ini didasarkan pada teks hadits di atas:

وإنا مجمعون
“Sesungguhnya kami berjumatan.”

Jika imam tidak berjumatan, maka orang yang berkewajiban jumatan atau orang yang hendak berjumatan meski kewajibannya telah gugur, tidak mendapatkan tempat berjumatan.

Sumber bacaan: Al-Mughni ‘ala Mukhtashori ‘l-Khorqi, dan beberapa kitab fikih lain.

Siapa yang Engkau Cintai?


Sebuah pertanyaan yang sangat berharga tentang cinta pernah disampaikan oleh seorang Badwi kepada Nabi Muhammad -ucapkanlah shalawat untuk beliau- : “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, namun tidak berjumpa dengan mereka?”
Nabi saw. menjawab, “ٍٍSeseorang akan bersama siapa yang dicintainya, pada Hari Kiamat.”
Sejauh ini, belum banyak buku yang saya baca menerangkan secara gamblang makna kalimat “Seseorang akan bersama siapa yang dicintainya pada Hari Kiamat”. Mungkin bacaan saya memang tidak terlalu banyak. Namun, garis besar penjelasan yang disampaikan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Ighotsatul Lahfan min Mashoyidis Syaithon yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Al-Qowam dengan judul Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan sedikit membantu pemahaman saya. Beliau mengemukakan bahwa di akhirat kelak, seseorang akan dikumpulkan bersama apa dan siapa yang dicintainya. Jika kecintaan itu dalam keridhaan Allah, maka kebersamaan tersebut dalam kenikmatan dan rahmat dari Allah di Surga. Namun, jika kecintaan tersebut dibangun di atas landasan yang tidak diridhai oleh Allah, maka kebersamaan itu kelak dalam siksa di neraka.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mencontohkan. Orang yang sangat mencintai harta. Ia senantiasa terobsesi untuk mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya. Tenaga, fikiran, dan daya upaya dikerahkannya untuk mengumpulkan harta sehingga banyak kewajibannya kepada Allah dilalaikan. Kadang ia mengumpulkan harta dengan menzalimi orang lain, mengambil harta yang haram, dan melakukan hal-hal yang diharamkan syariat. Ia gunakan harta untuk bermegah-megahan dan untuk menikmati berbagai kesenangan dalam kemaksiatan. Zakat hartanya, yang merupakan hak orang lain dan sekaligus merupakan rukun Islam ketiga, tidak dia tunaikan. Maka, Allah SWT. kelak mengumpulkan orang semacam ini dengan hartanya pada Hari Kiamat. Saat itu, Allah mengubah harta tersebut menjadi seekor ular cobra yang selalu menggigit sambil berkata, “Akulah hartamu, akulah barang-barang simpananmu!”
Tentang Si Badwi, ia menjadi contoh tentang orang yang nasibnya terkatrol karena cinta. Ada jarak yang sangat jauh antara dirinya dengan Rasulullah saw. Rasulullah saw. tinggal di Madinah, sedangkan Si Badwi hidup tidak menetap, berpindah-pindah dari satu padang ke padang yang lain. Ia jarang bertemu dengan beliau. Ilmunya tidak seberapa dibandingkan dengan para sahabat yang saban hari bergaul dengan Nabi. Dalam hal budi pekerti, para sahabat Nabi sempat memarahinya karena berteriak-teriak, “Hei Muhammad!” dan bersikap kurang sopan sesaat sebelum menyampaikan pertanyaan kepada beliau. Begitu pun amal, ibadah, dan ketakwaannya kepada Allah. Tidak bisa dibandingkan dengan sahabat Rasulullah saw., apalagi dengan Rasulullah saw. Namun demikian, ia mencintai Rasullah saw. Sangat mudah untuk memahami jika kedudukan Si Badwi ini di akhirat kelak jauh dari kedudukan Rasululullah saw.. Namun karena cintanya kepada Rasulullah saw., ia kelak dipertemukan dengan orang yang dicintainya, Rasulullah saw.
Seseorang bersama siapa yang dicintainya pada Hari Kiamat. Juga bersama apa pun yang dicintainya. Semua kekasih, kesayangan, dan kesukaannya akan bersamanya, kelak. Namun, apakah kebersamaan tersebut dalam kenikmatan? Mungkin. Tapi, bisa jadi sebaliknya, dalam kesengsaraan. Tergantung siapa dan apa yang dia cintai. Juga bagaimana ia mencintai. Jika yang dicintainya dan cara mencintainya itu diridhai oleh Allah, maka kebersamaannya kelak dalam kenikmatan di surga. Namun, jika yang dicintainya dan cara mencintainya tidak diridhai oleh Allah, maka ia akan disiksa dengan yang dicintainya, di neraka. Allahumma ajirna minan naar.
Maka, perlu sesekali diri ini bertanya, bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri, kepada jiwa yang dibalut oleh kulit dan daging kita sendiri : siapa yang engkau cintai? Apa yang engkau cintai? Apakah yang kau cintai itu dicintai oleh Allah? Apakah engkau mencintainya dengan cara yang diridhai Allah?
Jawaban yang jujur terhadap semua pertanyaan itu, akan bisa menjadi cermin yang membantu kita untuk melihat bagaimana keadaan kita kelak di akhirat. Syukurlah bila jawaban pertanyaan itu seperti yang kita harapkan. Semoga Allah memberi kita keistiqomahan hingga akhir hayat untuk mampu mencintai karena Allah. Andaikata tidak demikian, semoga Dzat yang membolak-balikkan hati memalingkan hati kita kepada kekasih, kecintaan, kesayangan, dan kesukaan yang lain, yang dicintai-Nya. Senyampang ada waktu untuk berbenah diri.
Mencintai Allah, mencintai apa yang dicintai oleh Allah, mencintai siapa yang dicintai oleh Allah, seperti : Rasulullah saw., para sahabatnya, para ulama dan hamba yang shalih sesudah mereka, akan mengantarkan seseorang berkumpul dengan mereka di Hari Kiamat. Dalam kenikmatan dan kasih sayang Allah. Di surga-Nya, insya Allah. Ya Allah, masukkan kami ke surga-Mu. Jauhkan kami dari neraka-Mu. Wallahu a’lam.
(Catatan kecil, setelah mengikuti majelis kajian tentang Riyadhus Shalihin)

Post Navigation