SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

DUKA SEORANG LELAKI TUA


Saya masih belum bisa melupakan bayangan orang tua itu. Rambutnya memutih, suaranya parau. Tidak banyak kata yang terdengar dari mulutnya. Matanya menerawang. Bagian putih matanya terlihat sedikit memerah. Ujung kelopak matanya basah, seperti sedang menahan sesuatu.
Entahlah, apa yang dirasakan oleh lelaki tua yang anaknya dituduh teroris itu. Tapi, jika Anda seorang ayah dan mempunyai anak laki-laki kesayangan, mungkin bisa sedikit memahami perasaannya. Bagi seorang ayah, anak laki-laki tak ubanyah dirinya sendiri. Derita yang menimpa anak laki-lakinya sangat mudah membuatnya berduka. Bahkan ia bisa terharu, sedih, dan menangis karena hal sepele yang dialami anaknya, yang bagi orang lain bukan apa-apa. Seakan, putranya adalah dirinya, bahkan lebih dari dirinya.
Tiba-tiba saja, saya teringat pada kisah Nabi Ya`qub as. yang pernah saya baca dalam Surah Yusuf. Sungguh dahsyat duka yang dirasakan Nabi Ya’qub sebagai ayah ketika kehilangan Yusuf, putra kesayangannya. Terlebih, ia telah berharap Yusuf akan menjadi penerus kemuliaan kakek dan ayahnya, Ibrahim dan Ishaq. Sempat terucap dari mulutnya, “Duhai, betapa kasihan Yusuf!” Sementara kedua bola matanya memutih akibat terlalu lama menahan kesedihan dan amarah. Cahaya matahari sudah tidak bisa lagi membantunya melihat warna-warni dunia, karena ia telah buta.
Sebagai manusia pilihan Allah, Nabi Ya`qub as. tentu memiliki kesabaran yang istimewa. Kesabaran yang indah, di mana tidak pernah terlontar keluhan dan pengaduan kepada manusia. “Aku hanya mengadukan duka dan kesedihanku kepada Allah. Aku mengetahui dari Allah informasi yang tidak kalian ketahui”, katanya kepada putra-putranya, sambil menahan amarahnya karena anak-anaknya itulah yang dulu bersekongkol mencelakai Yusuf itu.
Saya hanya menduga. Mungkinkah, perasaan duka serupa itu yang kini dirasakan oleh lelaki tua di hadapan saya ini? Ia tahu putranya sama sekali bukan penjahat atau teroris seperti yang dituduhkan. Putranya adalah seorang pemuda santun dan cerdas. Banyak prestasi yang pernah ditorehkannya pada masa belajarnya dulu. Dan banyak kelebihan yang dimilikinya sekarang, membuatnya terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Ia yakin, selain dirinya, banyak orang yang merasa kehilangan dengan kepergian putranya itu. Dulu, saat putranya masih berusia belasan tahun, putranya itu telah menyelesaikan hafalan Al-Quran. Wawasan agamanya luas, karena selain belajar di pesantren, putranya rajin membaca buku dan mendengarkan ceramah para ulama. Putranya juga pandai bergaul, dan yang tidak dilupakannya ia sangat berbakti kepada bapak ibunya. Dari penuturannya, saya tahu, lelaki tua ini semula sangat berharap putranya itu kelak menjadi pelanjut cita-cita luhur yang belum dirampungkannya sekarang, yaitu membina masyarakat desanya agar menjadi masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah.
Tapi, saat ini, ia tidak dapat berbuat apa pun terhadap tuduhan yang menimpa putranya. Keadilan di negeri ini dirasakannya terlalu mahal untuk diraih oleh seorang lelaki tua tanpa harta melimpah dan kedudukan tinggi seperti dirinya. Mana mungkin ia bisa memberikan pembelaan yang sebanding terhadap tuduhan yang terlanjur dialamatkan kepada putranya ? Bukankah untuk mengambil jasad putranya yang tidak bernyawa pun, seorang ayah masih dipermainkan dengan prosedur berbelit, di tengah caci maki media massa dan demonstrasi para preman bayaran yang sudah memvonis putranya sebagai teroris?
Betapa mudahnya saat ini, di negeri ini, label teroris dituduhkan. Terutama kepada orang-orang yang punya ciri-ciri rajin ke masjid, berjenggot, berjubah dan terlebih punya istri bercadar. Apalagi jika ia alumnus pesantren. Tuduhan itu bisa berasal dari pernyataan pengamat, laporan intelejen, atau sekedar isu tendensius pihak-pihak tertentu yang lantas dibenarkan oleh kepolisian dan diblow up oleh media massa. Yang mengherankan, tampaknya kita tidak pernah mempertanyakan bagaimana jika pernyataan pengamat itu salah, laporan intelejen itu tidak akurat, dan isu-isu itu merupakan kebohongan belaka?
Ketika propaganda “Perang terhadap Teror” semakin gencar dan terlihat membabi buta, mungkin sudah ada puluhan, atau jangan-jangan ratusan ayah seperti lelaki tua di hadapan saya ini. Kadang, saya merinding ketika membayangkan, bagaimana bila bibir –bibir rapuh para lelaki tua itu tidak mampu lagi menahan semua duka yang dirasakannya , sehingga tumpahlah dari mulut mereka kalimat-kalimat aduan kepada Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa? Bagaimana jika di kegelapan sepertiga malam terakhir, saat kebanyakan orang terlelap, puluhan atau ratusan lelaki tua ini berseru dengan hati hancur dan perasaan putus asa dari selain-Nya, “Ya Allah! Wahai Yang Mahahidup dan tidak pernah berhenti mengurus makhluk-Nya! Wahai Engkau Yang Maha Adil dan Maha Agung! Wahai Penguasa Arasy! Wahai Engkau yang tidak ada Sembahan yang Benar selain Engkau!” Bagaimana bila doa-doa menuntut keadilan meluncur dari bibir mereka? Akankah Allah Yang Mahaadil tidak menghiraukan pengaduan mereka yang tidak memiliki pembela itu? Ataukah dengan segera Allah mengubah doa-doa itu ibarat peluru-peluru dahsyat yang tak berhenti memburu sampai mendapatkan para penzalim?
Jika itu terjadi, jangan heran jika Anda melihat bencana yang lebih mengerikan dari ledakan sebuah bom atau berondongan peluru yang berhari-hari tayangannya pernah kita lihat secara live di televisi, yaitu saat seseorang atau beberapa orang yang disangka teroris berada di dalam sebuah rumah yang diberondong dengan senapan dan bom, sementara mata dan telinga kita menikmatinya seperti sebuah tontonan atau filem action belaka. Saat itu, kebanyakan dari kita lupa atau pura-pura lupa, bahwa siapa pun yang ada di dalam rumah itu, sebenarnya masih tersangka. Lantas, apa bukti bahwa sangkaan itu benar jika belum digelar pengadilan dan belum ada pembelaan? Ke mana perginya asas “praduga tidak bersalah” yang sudah sangat populer itu? Wajarkah seorang yang belum terbukti bersalah dibunuh?
Hmm, entahlah, jika pola penanganan kasus teror seperti ini terus berlangsung, mungkin akan banyak lelaki-lelaki tua seperti yang terlihat di depan saya ini. Dan saya semakin merinding membayangkan apa yang terjadi sesudahnya.

Iklan

Single Post Navigation

One thought on “DUKA SEORANG LELAKI TUA

  1. Nabi Ya’qub..potret seorang Ayah yang penuh kesabaran…semoga bisa menirunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: