SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Agustus, 2009”

BERTAWAKAL KEPADA ALLAH


Kita ingin mendatangkan hal-hal bermanfaat bagi diri kita. Ingin memiliki ilmu yang menerangi, amal shalih yang membekali, rezeki halal yang mencukupi, kawan-kawan baik tempat berbagi, dan kesehatan yang memadai. Sebaliknya, kita ingin menghindari hal-hal yang bermudharat. Kebodohan, penyakit, kemiskinan, penjahat, binatang buas, dan banyak lagi.

Tawakal adalah keyakinan bahwa Allah saja yang berkuasa mendatangkan semua yang bermanfaat dan mencegah semua yang bermudharat. Ia merupakan bukti keberadaan iman sekaligus bagian dari kesempurnaannya. Allah SWT berfirman :

“Hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah [5] : 23)

Bertawakal bukanlah sikap malas atau lemah. Orang yang bertawakal berusaha sebaik yang ia bisa. Ia membuat rencana secermat yang ia mampu. Ia menyadari semua ketetapan Allah datang dan pergi melalui sebab-sebabnya. Ketika rasa lapar menyerang, ia makan sebagaimana orang lain makan. Ketika sakit menimpa, ia berobat sebagaimana orang lain berobat. Ketika tidak memahami suatu persoalan, ia belajar sebagaimana orang lain belajar. Ketika membutuhkan rezeki, ia bekerja sebagaimana orang lain bekerja. Tapi, ia memiliki keyakinan yang belum tentu ada pada setiap orang lain, yaitu sambil mengupayakan seluruh sebab tersebut, ia menggantungkan hati dan berserah kepada Allah, apakah Dia mewujudkan kesembuhan, kesehatan, ilmu, dan rezeki.
Rasulullah saw. adalah contoh ideal hamba yang bertawakal kepada Allah. Lihatlah! Bukankah beliau menempuh sebab-sebab ketika ingin mendatangkan suatu manfaat maupun mencegah suatu mudharat? Beliau bekerja keras menyebarkan dakwah, mencari perlindungan ke Thaif ketika tekanan masyarakat Quraisy menghebat, memerintahkan sebagian sahabat berhijrah ke Habasyah untuk menghindari kejahatan kaum musyrikin, kemudian membangun masyarakat Anshar yang membela dakwah beliau di Madinah. Beliau tidak berpangku tangan, seraya mengatakan, “Allah berkuasa memberi petunjuk semua orang musyrik supaya beriman atau mengalahkan mereka jika menentang petunjuk-Nya.” Beliau tidak mengatakan itu, lantas berpangku tangan.
Tawakal merupakan penyempurna ikhtiar orang beriman. Bukan kemalasan. Lain dengan kelemahan. Sungguh keliru orang yang mengira kelemahan dirinya sebagai tawakal atau menjadikan tawakalnya alasan untuk melemahkan ikhtiar.

Tawakal menjadikan orang-orang beriman selalu memiliki harapan. Tidak ada kata “putus asa” dalam kamus kehidupannya walau segelap dan selengang apa pun jalan yang ada di hadapannya. Karena Allah yang akan menerangi jalannya dan mengawani perjalanannya. Allah yang akan memberikan kemudahan baginya, jika Dia menghendaki, ketika Dia menghendaki, sesuai dengan kadar yang Dia kehendaki.
Allah berjanji, barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya  niscaya Dia mencukupi kebutuhan-kebutuhannya. Janji Allah benar dan Dia berkuasa memenuhi janji-Nya. Apa pun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Allah SWT. berfirman:

“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia yang memberinya kecukupan.Sungguh, Allah berkuasa melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 3)

Rasulullah saw. bersabda :

“Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberikan rezeki kepadamu sebagaimana kepada burung yang berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Kesalahan bertawakal kadang-kadanag menjerumuskan seseorang dalam syirik akbar, seperti ketergantungan seseorang kepada benda mati atau manusia yang sudah mati. Hal ini dikarenakan ia meyakini bahwa benda mati atau orang yang mati itu memiliki kekuatan tersembunyi yang mempengaruhi alam. Ketergantungan semacam ini salah, baik ditujukan kepada seorang yang berstatus nabi, orang shalih, maupun dukun dan paranormal.
Ada pula kesalahan yang menjerumuskan kepada syirik ashghar. Yaitu, kuatnya ketergantungan seseorang pada suatu sebab disertai perasaan rendah diri di hadapan sebab tersebut. Seperti orang yang menggantungkan sumber kehidupannya kepada orang lain, bos, atau perusahaan. Seakan, tanpa orang lain, bos, atau perusahaan tersebut, Allah tidak mampu mendatangkan sebab-sebab rezekinya. Tidak mengapa seseorang menggunakan sesuatu sebagai sebab, jika ia benar-benar berpengaruh sebagai sebab terjadinya sesuatu, asal ia tetap meyakini bahwa Allah yang mentakdirkan dan menjalankan sebab tersebut.

Iklan

Post Navigation