SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

MENGHALAU TAKUT DENGAN TAKUT


Takut adalah reaksi emosional yang muncul secara spontan ketika seseorang dihadapkan kepada sesuatu yang akan membinasakan, membahayakan, atau merugikannya. Perasaan ini secara alamiah bisa muncul pada setiap orang, karena itu bukan hal yang tercela. Al-Quran mengisahkan, Nabi Musa as., salah seorang rasul yang tergolong ulul `azmi pun pernah diliputi rasa takut. Setelah meninju seseorang, yang menyebabkan orang itu tewas, beliau berada di dalam kota dengan diliputi rasa takut. Dan ketika seseorang dari ujung kota bergegas menyampaikan informasi kepada beliau bahwa para pembesar negeri sedang berunding untuk membunuh beliau, beliau pun meninggalkan kota dengan diliputi perasaan takut pula. Al-Quran menggambarkan dengan ungkapan : fakhoroja minhâ khô’ifay yataroqqob ‘maka, Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan cemas’. (QS. Al-Qoshosh [28] : 21)
Takut kepada kekuatan yang zalim dan jahat, harimau yang buas, api yang menyala berkobar-kobar, dan dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan kebinasaan, bahaya, dan kerugian adalah reaksi emosi yang wajar. Bukan sesuatu yang tercela.
Namun, perasaan yang wajar ini bisa berubah menjadi tercela ketika ia menghalangi seseorang dari melaksanakan kewajibannya. Ketika orang-orang Quraisy hendak menyerang Madinah, banyak orang mencoba menghembuskan rasa takut di kalangan kaum muslimin dengan mengatakan, “Sesungguhnya, orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” Mereka berharap kaum muslimin kehilangan nyali untuk berjihad fi sabilillah.
Allah SWT. mencela rasa takut semacam ini. Ia berfirman:innamâ dzâlikumu `sy-syaithônu yukhowwifu awliyâ’ahu falâ takhôfûhum wa khôfûnî in kuntum mukminîn ‘Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman’. (QS. Ali Imron [3] : 175)
Ayat ini memberikan satu resep untuk menghalahu rasa takut tercela itu. Caranya? Dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Takut perhitungan Allah yang sangat cepat. Takut hukuman-Nya yang dahsyat jika tidak melaksanakan perintah-Nya. Takut beratnya hisab di akhirat. Takut kengerian siksa neraka. Takut dijauhkan dari rahmat-Nya. Dan seterusnya.
Subhanallah, sejenak saya tertegun. Teringat kepada ucapan salah seorang pakar pengobatan herba ketika mengajarkan sebuah kaidah pengobatan yang berlaku di kalangan para herbalis. Menurutnya, ada kaidah yang digunakan oleh para pakar pengobatan herba dalam mengobati suatu penyakit, yaitu : “hilangkan lemak dengan lemak, gula dengan gula, asin dengan asin”.
Maksudnya, bila seseorang mengalami kelebihan lemak, maka resep mujarab untuk menghilangkannya adalah dengan lemak yang berbeda, misalnya yang terdapat pada minyak vco, minyak zaitun, dan minyak habatus sauda’. Kelebihan kadar gula pada penderita diabetes bisa diobati dengan jenis gula berbeda yang terkandung dalam madu dan buah-buahan. Rasa asin pada ikan bisa dihilangkan dengan direndam di dalam air asin. Lemak dengan lemak, gula dengan gula, asin dengan asin. Dan ayat ke-175 Surat Ali Imran di atas mengajarkan kaidah pengobatan penyakit hati, yang hampir mirip, yaitu “takut dengan takut”. Menghalau rasa takut negatif yang dihembuskan oleh setan, yang menghalangi seseorang dari kewajibannya, dengan takut kepada Allah.
Takut kepada Allah akan mendorong seseorang untuk berusaha keras meraih ridha-Nya, menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya, serta menjauhi kemaksiatan. Sebab, tidak ada yang bisa melindungi seseorang dari murka Allah selain ridha-Nya. Rasa takut kepada Allah juga memiliki energi dahsyat untuk mencegah seseorang dari kemaksiatan, meski dorongan nafsu sudah sangat menggelora. Dan yang tak kalah penting, rasa takut kepada Allah akan menghilangkan rasa takut kepada selain-Nya.
Takut kepada Allah merupakan salah satu ibadah hati. Dengannya seseorang berharap mendapat pahala dan ridha Allah. Ia juga menyempurnakan ibadah-ibadah yang dilaksanakan dengan anggota badan. Sejauh mana kita merasa takut kepada Allah, juga bisa menjadi indikasi sejauh mana kita memahami Dinul Islam. Seorang ulama, ketika mendefinisikan ilmu, mengatakan, “Ilmu adalah khosy-yah (takut).” Ya, karena rasa takut kepada Allah adalah buah kedalaman ilmu.
Semoga Allah SWT. mengaruniakan ilmu dan ma`rifah kita tentang Allah, sifat-sifat-Nya, ayat-ayat-Nya, dan hukum-hukum-Nya, sehingga menumbuhkan di hati kita perasaan takut kepada-Nya, yang menghalangi kita dari kemaksiatan dan memotivasi kita untuk menyempurnakan amal ibadah.

Iklan

Single Post Navigation

One thought on “MENGHALAU TAKUT DENGAN TAKUT

  1. Takut adalah nikmat yang harus disyukuri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: