SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

ADAKAH HARAPAN UNTUK PERUBAHAN?


تغييرSaya tahu, banyak orang berharap dari pemilu. Saya tahu, banyak orang mencoba menumbuhkan harapan-harapan pada rakyat melalui pemilu. Pemerintahan yang baik, bersih dan adil. Kesejahteraan. Sandang pangan murah. Sekolah mudah. Lapangan kerja yang luas. Stabilitas keamanan. Dan seterusnya. Dan sebagainya. Semua yang dianggap akan menjadikan kehidupan rakyat lebih indah dari yang ada sekarang dijanjikan. Berharap dan menumbuhkan harapan, selalu terjadi bukan pada pemilu kali ini saja. Tapi berkali-kali. Setiap kali pemilu. Sejak tahun 1955 dulu, ketika pertama kali pemilu diselenggarakan di negeri ini. Dan masih begitu, pada pemilu kali ini.
Saya termasuk orang yang tidak terlalu banyak berharap dari hasil pemilu. Karena, sejauh yang saya lihat, dengar, dan rasakan, apa yang terjadi pasca pemilu hampir selalu berulang. Harapan demi harapan yang semula tumbuh akan memudar, satu persatu. Semua orang segera melupakan harapan-harapan itu, satu persatu pula. Masing-masing kembali disibukkan oleh masalahnya sendiri-sendiri. Yang menganggur kembali bingung mencari pekerjaan. Yang tak mampu sekolah tetap meratapi betapa sulitnya bersekolah. Korupsi, suap, dan birokrasi berbelit-belit tetap berkelanjutan. Begitu pula yang lainnya. Itulah yang terjadi pada pemilu-pemilu dulu. Apakah di masa mendatang akan berbeda? Saya tidak bisa menduga-duga.Tapi, saya pun tidak memiliki alasan untuk mengharapkan hal yang berbeda dari pemilu sekarang.
Lihatlah, isu-isu kampanye dari satu pemilu ke pemilu yang lain, tetap berkutat pada kemiskinan, pemberantasan korupsi, pemerintahan bersih, dan sebagainya. Hampir tidak berubah. Entahlah, mungkin sampai sekarang kita belum bosan untuk terus menerima janji-janji yang sama, tanpa pernah mengenyamnya. Ini menunjukkan betapa saat ini kita dibelit oleh persoalan-persoalan yang hampir sama dengan yang kita alami dulu-dulu. Tanpa perubahan berarti.
Terlalu berharap dari hasil pemilu, hanya akan membuat hati kita kecewa. Pengalaman memberitahu kita, betapa sulit menghasilkan anggota-anggota DPR ideal yang memiliki sifat amanah dalam membela kepentingan rakyat melalui pemilu. Betapa sulit mendapatkan presiden dan wakil presiden terbaik yang peduli, melindungi, dan mengayomi kebanyakan rakyat melalui pemilu. Pengalaman juga dengan fasih berbicara, betapa sulit mendapatkan undang-undang kuat dan tepat yang mampu melindungi kepentingan-kepentingan dan hak-hak rakyat lemah. Juga betapa sulit menghasilkan pemerintahan bersih yang memberikan pelayanan kepada rakyat tanpa korupsi, kolusi, pungli, dan suap. Sungguh, membandingkan antara harapan yang ditumbuhkan menjelang pemilu dengan realita pasca pemilu, rasanya seperti mengingat pepatah “jauh panggang dari api”.
Saya berpendapat, pemenang pemilu selama ini selalu bukan calon yang paling baik, melainkan calon yang berhasil “mencitrakan dirinya lebih baik”. Maka, untuk memenangkan sebuah pemilu, yang penting bagi caleg, capres, dan cawapres bukanlah upaya-upaya serius untuk menjadikan diri lebih berkualitas, baik secara spiritual, emosional, maupun intelektual dibandingkan para rivalnya. Namun, yang dibutuhkannya adalah upaya-upaya yang cerdas, jika tidak licik, dalam mengemas diri supaya terlihat dan terkesan baik di mata rakyat.
Dalam hal pencitraan diri, ada dua hal yang sangat berpengaruh, yaitu uang dan retorika. Uang dan retorika inilah yang akan membiayai dan membantu terwujudnya iklan-iklan yang jitu, tim sukses yang dinamis, dan kampanye yang berhasil. Uang, jika “terpaksa”, juga bisa membiayai kecurangan-kecurangan dan rekayasa-rekayasa licik yang menguntungkan bagi pencitraan diri, apabila diperlukan.
Maka, tidak ada alasan untuk terlalu berharap dari hasil pemilu kali ini.
Rabbi, ampuni hati kami yang mungkin sudah terlalu bebal. Musibah demi musibah, keterpurukan demi keterpurukan, kehinaan demi kehinaan yang diterima bangsa ini tampaknya belum menyadarkan kami dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kecuali segelintir orang yang Engkau rahmati. Apa yang tidak kami punya sebagai bangsa? Kekayaan alam yang melimpah atau sumber daya manusia yang berkualitas dan besar? Kami tahu, Engkau telah mengaruniakan semua itu kepada kami. Namun, yang tidak kami punyai selama ini adalah sikap rendah hati kepada-Mu dan kerelaan mematuhi ajaran-ajaran-Mu. Banyak di antara kami yang dengan sombong beranggapan bahwa mengikuti petunjuk-Mu adalah sumber keterbelakangan, kehinaan, perpecahan, dan keburukan lainnya.
Rabbi! Bila perubahan bangsa ini kelak terjadi, pastilah perubahan itu akan berawal dari perubahan hati rakyat dan para pemimpinnya. Jika perubahan hati rakyat dan para pemimpin itu terjadi, pastilah akan berawal dari tumbuhnya rasa bertakwa kepada-Mu, rasa takut kepada cepat dan dahsyat-Nya hukuman-Mu, serta rasa berharap kepada karunia-karunia-Mu dan janji kemuliaan-Mu. Dan semua itu, akan terlihat dari kepatuhan kami dalam menjalankan ajaran-ajaran-Mu, dengan keikhlasan. Dengan keikhlasan. Dengan keikhlasan. Untuk menggapai ridha-Mu semata.
Jika Engkau meridhai kami, apa yang tidak mampu Engkau berikan kepada kami? Engkau Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Kaya, dan Maha Luas Rahmat-Mu. Engkau yang telah memberikan banyak karunia kepada kami, dan Engkau mampu menambah karunia itu, jika kami bersyukur. Kepada-Mulah kami bisa meletakkan harapan kami. Kini. Esok. Selamanya.

Iklan

Single Post Navigation

One thought on “ADAKAH HARAPAN UNTUK PERUBAHAN?

  1. Janji hanyalah kata-kata yang terucap tanpa dilaksanakan…
    Bukti adalah kenyataan dari yang terjanjikan
    Pemiilu adalah tebaran kata menggiurkan
    Kampanye adalah bukti bahwa mereka berjanji
    Pemerintahan adalah kenyataan akan janji-janj palsu
    CaPresiden adalah orang yang ngotot menyampaikan janji pada kampanye
    CaWapres adalah orang yang terbata-bata mengatakan solusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: