SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Juli, 2009”

MENGHALAU TAKUT DENGAN TAKUT


Takut adalah reaksi emosional yang muncul secara spontan ketika seseorang dihadapkan kepada sesuatu yang akan membinasakan, membahayakan, atau merugikannya. Perasaan ini secara alamiah bisa muncul pada setiap orang, karena itu bukan hal yang tercela. Al-Quran mengisahkan, Nabi Musa as., salah seorang rasul yang tergolong ulul `azmi pun pernah diliputi rasa takut. Setelah meninju seseorang, yang menyebabkan orang itu tewas, beliau berada di dalam kota dengan diliputi rasa takut. Dan ketika seseorang dari ujung kota bergegas menyampaikan informasi kepada beliau bahwa para pembesar negeri sedang berunding untuk membunuh beliau, beliau pun meninggalkan kota dengan diliputi perasaan takut pula. Al-Quran menggambarkan dengan ungkapan : fakhoroja minhâ khô’ifay yataroqqob ‘maka, Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan cemas’. (QS. Al-Qoshosh [28] : 21)
Takut kepada kekuatan yang zalim dan jahat, harimau yang buas, api yang menyala berkobar-kobar, dan dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan kebinasaan, bahaya, dan kerugian adalah reaksi emosi yang wajar. Bukan sesuatu yang tercela.
Namun, perasaan yang wajar ini bisa berubah menjadi tercela ketika ia menghalangi seseorang dari melaksanakan kewajibannya. Ketika orang-orang Quraisy hendak menyerang Madinah, banyak orang mencoba menghembuskan rasa takut di kalangan kaum muslimin dengan mengatakan, “Sesungguhnya, orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” Mereka berharap kaum muslimin kehilangan nyali untuk berjihad fi sabilillah.
Allah SWT. mencela rasa takut semacam ini. Ia berfirman:innamâ dzâlikumu `sy-syaithônu yukhowwifu awliyâ’ahu falâ takhôfûhum wa khôfûnî in kuntum mukminîn ‘Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman’. (QS. Ali Imron [3] : 175)
Ayat ini memberikan satu resep untuk menghalahu rasa takut tercela itu. Caranya? Dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Takut perhitungan Allah yang sangat cepat. Takut hukuman-Nya yang dahsyat jika tidak melaksanakan perintah-Nya. Takut beratnya hisab di akhirat. Takut kengerian siksa neraka. Takut dijauhkan dari rahmat-Nya. Dan seterusnya.
Subhanallah, sejenak saya tertegun. Teringat kepada ucapan salah seorang pakar pengobatan herba ketika mengajarkan sebuah kaidah pengobatan yang berlaku di kalangan para herbalis. Menurutnya, ada kaidah yang digunakan oleh para pakar pengobatan herba dalam mengobati suatu penyakit, yaitu : “hilangkan lemak dengan lemak, gula dengan gula, asin dengan asin”.
Maksudnya, bila seseorang mengalami kelebihan lemak, maka resep mujarab untuk menghilangkannya adalah dengan lemak yang berbeda, misalnya yang terdapat pada minyak vco, minyak zaitun, dan minyak habatus sauda’. Kelebihan kadar gula pada penderita diabetes bisa diobati dengan jenis gula berbeda yang terkandung dalam madu dan buah-buahan. Rasa asin pada ikan bisa dihilangkan dengan direndam di dalam air asin. Lemak dengan lemak, gula dengan gula, asin dengan asin. Dan ayat ke-175 Surat Ali Imran di atas mengajarkan kaidah pengobatan penyakit hati, yang hampir mirip, yaitu “takut dengan takut”. Menghalau rasa takut negatif yang dihembuskan oleh setan, yang menghalangi seseorang dari kewajibannya, dengan takut kepada Allah.
Takut kepada Allah akan mendorong seseorang untuk berusaha keras meraih ridha-Nya, menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya, serta menjauhi kemaksiatan. Sebab, tidak ada yang bisa melindungi seseorang dari murka Allah selain ridha-Nya. Rasa takut kepada Allah juga memiliki energi dahsyat untuk mencegah seseorang dari kemaksiatan, meski dorongan nafsu sudah sangat menggelora. Dan yang tak kalah penting, rasa takut kepada Allah akan menghilangkan rasa takut kepada selain-Nya.
Takut kepada Allah merupakan salah satu ibadah hati. Dengannya seseorang berharap mendapat pahala dan ridha Allah. Ia juga menyempurnakan ibadah-ibadah yang dilaksanakan dengan anggota badan. Sejauh mana kita merasa takut kepada Allah, juga bisa menjadi indikasi sejauh mana kita memahami Dinul Islam. Seorang ulama, ketika mendefinisikan ilmu, mengatakan, “Ilmu adalah khosy-yah (takut).” Ya, karena rasa takut kepada Allah adalah buah kedalaman ilmu.
Semoga Allah SWT. mengaruniakan ilmu dan ma`rifah kita tentang Allah, sifat-sifat-Nya, ayat-ayat-Nya, dan hukum-hukum-Nya, sehingga menumbuhkan di hati kita perasaan takut kepada-Nya, yang menghalangi kita dari kemaksiatan dan memotivasi kita untuk menyempurnakan amal ibadah.

Iklan

SEHARUSNYA KITA BERHARAP


الرجاءBerharap, dalam bahasa Arab disebut raja’. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin menjelaskan makna raja’ adalah ar-roghbah fi syai’in qorîbi `l-manâl, ‘menginginkan sesuatu yang mudah diperoleh’. Sedikit berbeda dengan berangan-angan yaitu berkeinginan kepada sesuatu yang mustahil atau nyaris mustahil diperoleh. Berharap adalah salah satu jenis perbuatan hati. Orang beriman selalu punya harapan. Harapan untuk mendapat rahmat Allah, untuk berjumpa dengan Allah dengan amal shalih yang diterima, harapan agar Allah mengampuni dosa-dosanya.
Rahmat, kasih sayang, pahala dan ampunan dari Allah adalah sesuatu yang bisa diharapkan oleh semua orang, tanpa kecuali. Betapa pun perbedaan keadaan setiap orang hari ini, salih atau jahat, pandai atau bodoh, bisa berharap mendapatkannya. Semua bisa dirahmati, disayangi, diganjar pahala, dan diampuni oleh Allah. Seorang mukmin selalu menjaga harapan ini agar tetap ada dan tumbuh mekar di hatinya.
Harapan yang terpuji ada pada orang yang berharap pahala dari Allah lalu beribadah kepada-Nya. Harapan itu mendorongnya untuk bersikap, berucap, dan dan bertindak yang diridhai dan dicintai oleh Allah. Harapan yang terpuji ada pada orang yang berharap ampunan dari Allah, lantas bertaubat dan beristighfar kepada-Nya. Ia meninggalkan dosa dan kesalahannya, menyesalinya, dan bertekad tidak akan mengulang kesalahan yang sama di masa akan datang. Ia bermunajat di hadapan-Nya, mengakui kesalahan dan memohon ampunan-Nya. Semua itu dilakukan, semata karena-Nya, bukan untuk tujuan lainnya.
Namun, ada juga harapan yang tidak semestinya. Seperti seseorang yang berharap kepada ridha-Nya, tapi harapan itu tidak mendorongnya untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kerendahan hati, takzim, dan kecintaan kepada-Nya. Ia berharap kepada ampunan-Nya, tetapi tidak tergerak untuk bertaubat dari kesalahan-kesalahannya. Di sini, harapan tak ubah seperti lamunan dan angan-angan. Ia merupakan harapan yang tercela. Harapan yang mustahil. Seperti berharap kapal berlayar di daratan.
Allah menjelaskan, bagaimana keadaan orang yang benar-benar memiliki harapan terpuji, dalam firman-Nya:
“Barangsiapa yang berharap berjumpa dengan Tuhannya, hendaklah ia melaksanakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18] : 110)

ADAKAH HARAPAN UNTUK PERUBAHAN?


تغييرSaya tahu, banyak orang berharap dari pemilu. Saya tahu, banyak orang mencoba menumbuhkan harapan-harapan pada rakyat melalui pemilu. Pemerintahan yang baik, bersih dan adil. Kesejahteraan. Sandang pangan murah. Sekolah mudah. Lapangan kerja yang luas. Stabilitas keamanan. Dan seterusnya. Dan sebagainya. Semua yang dianggap akan menjadikan kehidupan rakyat lebih indah dari yang ada sekarang dijanjikan. Berharap dan menumbuhkan harapan, selalu terjadi bukan pada pemilu kali ini saja. Tapi berkali-kali. Setiap kali pemilu. Sejak tahun 1955 dulu, ketika pertama kali pemilu diselenggarakan di negeri ini. Dan masih begitu, pada pemilu kali ini.
Saya termasuk orang yang tidak terlalu banyak berharap dari hasil pemilu. Karena, sejauh yang saya lihat, dengar, dan rasakan, apa yang terjadi pasca pemilu hampir selalu berulang. Harapan demi harapan yang semula tumbuh akan memudar, satu persatu. Semua orang segera melupakan harapan-harapan itu, satu persatu pula. Masing-masing kembali disibukkan oleh masalahnya sendiri-sendiri. Yang menganggur kembali bingung mencari pekerjaan. Yang tak mampu sekolah tetap meratapi betapa sulitnya bersekolah. Korupsi, suap, dan birokrasi berbelit-belit tetap berkelanjutan. Begitu pula yang lainnya. Itulah yang terjadi pada pemilu-pemilu dulu. Apakah di masa mendatang akan berbeda? Saya tidak bisa menduga-duga.Tapi, saya pun tidak memiliki alasan untuk mengharapkan hal yang berbeda dari pemilu sekarang.
Lihatlah, isu-isu kampanye dari satu pemilu ke pemilu yang lain, tetap berkutat pada kemiskinan, pemberantasan korupsi, pemerintahan bersih, dan sebagainya. Hampir tidak berubah. Entahlah, mungkin sampai sekarang kita belum bosan untuk terus menerima janji-janji yang sama, tanpa pernah mengenyamnya. Ini menunjukkan betapa saat ini kita dibelit oleh persoalan-persoalan yang hampir sama dengan yang kita alami dulu-dulu. Tanpa perubahan berarti.
Terlalu berharap dari hasil pemilu, hanya akan membuat hati kita kecewa. Pengalaman memberitahu kita, betapa sulit menghasilkan anggota-anggota DPR ideal yang memiliki sifat amanah dalam membela kepentingan rakyat melalui pemilu. Betapa sulit mendapatkan presiden dan wakil presiden terbaik yang peduli, melindungi, dan mengayomi kebanyakan rakyat melalui pemilu. Pengalaman juga dengan fasih berbicara, betapa sulit mendapatkan undang-undang kuat dan tepat yang mampu melindungi kepentingan-kepentingan dan hak-hak rakyat lemah. Juga betapa sulit menghasilkan pemerintahan bersih yang memberikan pelayanan kepada rakyat tanpa korupsi, kolusi, pungli, dan suap. Sungguh, membandingkan antara harapan yang ditumbuhkan menjelang pemilu dengan realita pasca pemilu, rasanya seperti mengingat pepatah “jauh panggang dari api”.
Saya berpendapat, pemenang pemilu selama ini selalu bukan calon yang paling baik, melainkan calon yang berhasil “mencitrakan dirinya lebih baik”. Maka, untuk memenangkan sebuah pemilu, yang penting bagi caleg, capres, dan cawapres bukanlah upaya-upaya serius untuk menjadikan diri lebih berkualitas, baik secara spiritual, emosional, maupun intelektual dibandingkan para rivalnya. Namun, yang dibutuhkannya adalah upaya-upaya yang cerdas, jika tidak licik, dalam mengemas diri supaya terlihat dan terkesan baik di mata rakyat.
Dalam hal pencitraan diri, ada dua hal yang sangat berpengaruh, yaitu uang dan retorika. Uang dan retorika inilah yang akan membiayai dan membantu terwujudnya iklan-iklan yang jitu, tim sukses yang dinamis, dan kampanye yang berhasil. Uang, jika “terpaksa”, juga bisa membiayai kecurangan-kecurangan dan rekayasa-rekayasa licik yang menguntungkan bagi pencitraan diri, apabila diperlukan.
Maka, tidak ada alasan untuk terlalu berharap dari hasil pemilu kali ini.
Rabbi, ampuni hati kami yang mungkin sudah terlalu bebal. Musibah demi musibah, keterpurukan demi keterpurukan, kehinaan demi kehinaan yang diterima bangsa ini tampaknya belum menyadarkan kami dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kecuali segelintir orang yang Engkau rahmati. Apa yang tidak kami punya sebagai bangsa? Kekayaan alam yang melimpah atau sumber daya manusia yang berkualitas dan besar? Kami tahu, Engkau telah mengaruniakan semua itu kepada kami. Namun, yang tidak kami punyai selama ini adalah sikap rendah hati kepada-Mu dan kerelaan mematuhi ajaran-ajaran-Mu. Banyak di antara kami yang dengan sombong beranggapan bahwa mengikuti petunjuk-Mu adalah sumber keterbelakangan, kehinaan, perpecahan, dan keburukan lainnya.
Rabbi! Bila perubahan bangsa ini kelak terjadi, pastilah perubahan itu akan berawal dari perubahan hati rakyat dan para pemimpinnya. Jika perubahan hati rakyat dan para pemimpin itu terjadi, pastilah akan berawal dari tumbuhnya rasa bertakwa kepada-Mu, rasa takut kepada cepat dan dahsyat-Nya hukuman-Mu, serta rasa berharap kepada karunia-karunia-Mu dan janji kemuliaan-Mu. Dan semua itu, akan terlihat dari kepatuhan kami dalam menjalankan ajaran-ajaran-Mu, dengan keikhlasan. Dengan keikhlasan. Dengan keikhlasan. Untuk menggapai ridha-Mu semata.
Jika Engkau meridhai kami, apa yang tidak mampu Engkau berikan kepada kami? Engkau Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Kaya, dan Maha Luas Rahmat-Mu. Engkau yang telah memberikan banyak karunia kepada kami, dan Engkau mampu menambah karunia itu, jika kami bersyukur. Kepada-Mulah kami bisa meletakkan harapan kami. Kini. Esok. Selamanya.

Post Navigation