SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Juni, 2009”

BATAS KESABARAN


Ambang batasPada awalnya, menjadi orang yang menegakkan sholat membutuhkan kesabaran. Ada saja hal yang mengundang keluhan.
“Bacaan imam terlalu panjang. Mana suaranya nggak merdu.” Aha, kita sudah mendapatkan satu alasan logis untuk mengurangi kesempurnaan sholat kita. Dengan tidak berjamaah di masjid. Atau bahkan dengan sholat munfarid, di rumah.
Urusan-urusan dunia yang menyibukkan, kadang-kadang juga membuat kita tidak bersabar untuk melaksanakan sholat secara jamaah, di masjid. Kadang adzan dikumandangkan, sedangkan pembicaraan kita tentang bisnis sedang di puncak kemenarikannya. Atau pekerjaan yang dikerjakan sedang mencapai tahap paling mengasyikkan untuk diselesaikan. Sayang, kalau dihentikan. Atau kalau dihentikan, ide-ide yang sedang bermunculan bisa menguap.
Kadang-kadang, problem berat mengganggu konsentrasi. Agen yang belum membayar piutang jatuh tempo, dead line yang belum terpenuhi, tawaran-tawaran yang belum dipelajari, beberapa masalah manajemen yang rumit, tiba-tiba semua mencuat pada saat kita mengangkat tangan sambil mengucapkan takbiratul ihram. Maka, berat rasanya berkonsentrasi untuk menyertai setiap gerakan sholat yang kita lakukan dengan kehadiran hati. Sulit sekali mengikuti doa-doa yang kita ucapkan dengan fikiran sadar.
Meski begitu, kita tidak boleh menyerah. Kita harus memaksakan diri. Mencoba menikmati suara bacaan imam, meski panjang melelahkan dan dengan suara tak merdu yang menjemukan. Ingat, bagaimanapun, yang dibacanya adalah kalam ilahi yang lafazh-lafazh dan makna-maknanya berasal dari ucapan Allah, Sang Pencipta, Pemberi Rezeki dan satu-satunya yang berhak mendapat cinta, kita ketaatan, dan penghormatan sempurna dari kita. Ingat pula, bahwa kita sedang mencoba menyempurnakan sebuah amalan yang akan menjadi barometer bagi kebaikan dan keburukan seluruh amalan kita. Ia lebih penting dari seluruh urusan kita yang lain. Kita harus berkonsentrasi, untuk menjalankan setiap gerakannya dan mengucapkan doa-doanya, dengan penghayatan dan kesadaran.
Memang, pada awalnya, menegakkan sholat membutuhkan kesabaran. Sampai kapan? Sampai Allah mengaruniakan perasaan nikmat di hati kita ketika menjalankannya. Sampai sholat berjamaah bukan lagi menjadi sesuatu beban yang berat. Ia bahkan menjadi hiburan yang membuat kita lupa dari segala kesedihan. Ia menjadi rehat bagi hati kita dari kepenatan mengurus persoalan dunia. Kedatangannya menjadi kita rindukan. “Arihna bi `sh-sholah, ya Bilal. Istirahatkan kita dengan sholat, wahai Bilal!” Begitu kata Nabi saw. suatu ketika saat memerintah Bilal mengumandangkan adzan sebagai pertanda bahwa shalat akan dilaksanakan. Beliau juga pernah mengatakan bahwa Allah telah menjadikan qurrota `ain (hiburan hati) beliau terletak di dalam sholat. Pada saat itu, bukan kesabaran lagi yang kita perlukan dalam mengerjakan sholat. Namun, kesyukuran tak terhingga kepada Allah, yang telah menjadikan kita salah seorang hamba yang mendapat taufik-Nya, dengan dimudahkan menjaga sholat. Yang telah memberikan kenikmatan ibadah sholat kepada kita.
Melaksanakan kebajikan dan meninggalkan kemungkaran, pada awalnya selalu membutuhkan kesabaran demi kesabaran. Karena itu, banyak orang yang tidak sanggup. Banyak orang yang tidak beruntung mendapat ganjarannya, baik berupa kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat.
Buah durian, mengapa musti dibungkus dengan kulit tebal yang berduri? Karena supaya kenikmatannya itu tidak disantap oleh kelelawar dan makhluk lain yang tidak dikehendaki untuk menikmatinya. Agar manusia saja yang menikmati. Untuk itu, manusia harus bersedia membuka kulit berdurinya, sebelum menikmati dagingnya yang lezat.
Jadi, di manakah batas kesabaran itu? Di ujung ganjaran yang kita tunggu-tunggu. Ganjaran dunia berupa kenikmatan menjalani hidup di atas kebaikan atau di akhirat berupa surga dan berbagai kenikmatannya.

Iklan

BERSABAR DENGAN PILIHAN


Kadangkala, kesabaran merupakan pilihan. Kita bisa mengambil kesabaran itu, jika mau. Jika tidak, ada pilihan lain yang lebih menyenangkan. Namun, pilihan menyenangkan itu akan berakhir dengan kesengsaraan atau berakhir dengan murka Allah.
Suatu ketika, seorang perempuan cantik memanggil seorang pemuda lajang yang tampan lagi rupawan, yang berpofesi sebagai penjual minyak wangi. Singkat kata, keduanya sudah di dalam ruangan rumah. Hanya berdua. Dan dengan segala tipu daya, perempuan cantik itu mulai menggoda. “Maukah kamu bersenang-senang denganku, tampan?”
Hmm. Jelas, nalurinya sebagai laki-laki mengatakan bahwa perempuan itu cantik. Bagaimanapun, ia pemuda normal. Nafsu kelakiannya mengajaknya untuk bersenang-senang. Tapi, rasa takut-Nya kepada Allah mencoba mencegahnya memenuhi ajakan itu.
Pilihan ini tidak mudah. Nafsu perempuan itu sudah menggebu. Semua kesempatan terbuka. Kemungkinan orang lain mencium perbuatan nistanya, jika ia melakukan sangatlah kecil. Lebih dari itu, perempuan itu juga menebar ancaman. Jika si pemuda menolak, ia akan berteriak, sehingga masyarakat akan berdatangan dan menuduhnya sebagai pemerkosa. Pelik. Memilih untuk menjaga diri dengan berbagai risikonya. Atau menuruti godaan perempuan itu, bersenang-senang dengan segala risiko yang tidak mungkin pula dielakkannya, kelak di hadapan Allah.
Di sini, kesabaran adalah pilihan. Persis yang terjadi pada semua orang dihadapkan kepada pilihan antara mengerjakan dosa atau meninggalkannya. Jika uang suap ada di depan mata, bahkan diletakkan di genggaman tangan, Anda boleh memilih bersabar dengan rezeki halal yang terbatas atau menikmati rezeki haram yang melimpah ruah dan membahagiakan nafsu. Ketika perbincangan dengan kawan semakin asyik, kadang pembicaraan mengarah kepada pergunjingan. Saat itu Anda di hadapkan kepada pilihan, untuk bersabar mengikuti larangan menggunjing atau memuaskan nafsu menggunjing Anda dengan membuka lebar pembicaraan tentang aib saudara Anda, sambil tertawa ria sepuas-puasnya. Meninggalkan semua hal yang dilarang Allah adalah pilihan untuk bersabar.
Begitu pula ketika seseorang dihadapkan dengan perintah Allah. Menutup aurat, sebagai misalnya. Seorang muslimah yang menerima perintah menutup aurat, dihadapkan pada pilihan, apakah ia bersabar mengenakan busana syar`i yang kadang-kadang berisiko mendatangkan ketidaknyamanan dalam berkarir dan bersosial, terutama di lingkungan yang belum familiar dengan syariat ini, ataukah memilih kenyamanan dengan kebiasaan lama yang lebih disukai manusia namun tidak diridhai oleh Allah.
Kesabaran dengan pilihan seperti ini, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kesabaran yang muncul dalam keterpaksaan. Ketika kita dihadapkan pada kenyataan, bahwa bersabar adalah satu-satunya pilihan. Saat secara tidak terduga, Allah mengambil sebagian karunianya kepada kita. Salah seorang yang sangat kita cintai meninggal dunia. Tidak ada pilihan bagi kita, selain bersabar. Karena apa yang terjadi itu di luar kuasa.
Kembali pada kisah pemuda yang digoda tadi, apakah ia memilih bersabar ataukah sebaliknya? Sejenak tentu ia berpikir. Bagaimana jalan keluarnya dari dua pilihan sulit itu. “Baiklah, kalau begitu aku minta izin sebentar. Aku ingin membersihkan tubuhku di kamar mandi”, katanya.
Dan yang dilakukannya sungguh di luar dugaan siapa pun. Setelah masuk kamar mandi, ia mengambil –maaf- tinja yang terdapat di WC kamar mandi itu. Dia lumuri seluruh tubuhnya dengan benda berbau itu. Setelah selesai, ia kembali menemui perempuan penggodanya.
Bau tinja menyengat dari seluruh tubuh pemuda itu ketika ia berkata, “Di mana kita akan bersenang-senang?”
Kontan, perempuan penggoda itu naik pitam. Diusirnya pemuda yang dipikirnya telah gila. Selamatlah pemuda dari dosa, dengan kesabarannya. Kesabaran luar biasa. Yang dia lakukan, dengan pilihannya. Allah pun mengganjarnya dengan karomah luar biasa. Sejak saat itu, tubuh si pemuda selalu mengeluarkan aroma wangi. Meski pun ia tidak menggunakan minyak wangi.
Maukah kita menjadikan kesabaran sebagai pilihan?

SABAR YUK!


Saya sempat berpikir lama, termangu antara ingin menulis atau tidak menulis lagi tentang kesabaran. Sebabnya tak lain karena beberapa reaksi negatif sering saya dapati ketika seseorang diajak bersabar. Karena disalahpahami, saya pikir tulisan saya itu akan kontraproduktif.
“Sabar? Emang enak jadi orang sabar? Mendingan selalu happy dan bersyukur daripada menjadi orang susah yang bersabar.” Ya, kadang-kadang orang merasa bahwa diajak bersabar itu sama artinya dengan diajak susah.
“Dari kemarin ngomongnya soal sabar melulu! Lagi susah apa sih? Nyantai ajalah, Mas! Mari kita nikmati hidup ini!” Nah, lho. Inginnya mengajak bersabar, tapi malah dikira mengeluh.
Kadang-kadang, saya malah khawatir karena ketika diajak bersabar, sebagian orang justru tersinggung. “Sabar? Ya, kalau sampeyan bisa sabar. Lha kalau sampeyan jadi saya, apa bisa sabar?” Ufh! Sabar, sabar. Maunya mengajak bersabar, malah bikin emosi orang meledak.
Namun, selalu ada dorongan kuat yang muncul di hati saya untuk menulis soal kesabaran. Ide-ide masih terus berseliweran di benak saya, seakan menggoda saya untuk kembali menulis tentang sabar. Tentu saya tidak ingin mengajak Anda susah, karena tanpa diajak pun masing-masing dari kita sudah memiliki sebagian jatah kesusahannya. Saya juga tidak sedang mengeluh, karena bukan tempatnya mengeluhkan takdir yang ditetapkan Sang Maha Pencipta kepada manusia yang dicipta. Saya juga tidak ingin menambah kesusahan Anda, jika saat ini Anda sedang mengalami kesusahan, dengan meledakkan emosi Anda.
Saya ingin menulis lagi tentang kesabaran, karena sejauh yang saya yakini, kesabaran adalah keberuntungan. Ya, keberuntungan. Keberuntungan besar. Saya tidak bisa membayangkan bahwa ada seseorang yang hari ini meraih keberuntungan kecuali sebelumnya pasti pernah menjalani kesabaran. Andai suatu masa nanti Allah menjadikan saya seorang yang benar-benar penyabar, maka saya yakin, pada saat itu saya akan menjadi orang yang sungguh-sungguh beruntung.
Dikaruniai ilmu, adalah keberuntungan. Dengan ilmu, seseorang bisa melihat kebenaran secara jelas ketika orang lain dalam kekaburan atau ketika orang lain bahkan melihat kebenaran sebagai kekeliruan. Ia bisa memilih sikap dan tindakan yang benar dengan penuh keyakinan, ketika orang lain gamang untuk mengambil sikap dan tindakan yang benar itu, atau ketika orang lain memilih sikap dan tindakan yang salah. Ia menjadi pelita yang menerangi kehidupan orang lain dan menjadi tempat bertanya orang yang tidak tahu. Betapa beruntungnya orang berilmu. Dan saya tidak bisa membayangkan seseorang yang saat ini memiliki ilmu luas dan mendalam, kecuali di masa lalu pernah bersabar menjalani proses belajar yang panjang dan melelahkan.
Hidup ini harus kita isi dengan karya-karya mulia dan amal shalih yang menjadikan kita diridhai Sang Pencipta dan bermanfaat bagi sesama. Setiap karya yang baik, selalu merupakan buah kesabaran. Setiap amal shalih yang sempurna, selalu dilakukan dengan kesabaran.
Menjaga shalat adalah amal shalih yang diridhai Allah. Untuk menjaga shalat, seseorang harus memenuhi semua syarat dan rukunnya, serta menjalankan sunnah-sunnahnya. Ia harus menutup aurat, menjaga pakaian dari najis, dan berwudhu dengan sempurna. Saat berkumandang adzan subuh, ia harus segera mengambil air wudhu meski kadang-kadang serangan kantuk masih mengajak tidur atau siaran langsung Liga Champion menggoda untuk tidak meninggalkan layar televisi. Ia berjalan ke masjid untuk mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Dari mulai takbir ia perlu berkonsentrasi menjalankan setiap gerakan shalat dan menghayati setiap doa yang diucapkan. Sehari lima kali. Setiap hari. Sampai ajal menjemput. Semua itu, membutuhkan kesabaran. Kesabaran yang panjang.
Masih banyak amal shalih di dunia ini yang harus dilakukan. Masih banyak karya yang harus diselesaikan. Jika kita bisa melakukannya, andai kita bisa mewujudkannya, kita akan beruntung. Dan semuanya, sekali lagi membutuhkan kesabaran.
Berdakwah, mengajak orang lain kepada kebenaran, adalah aktivitas mulia yang tidak semua orang bisa melakukannya. Ia merupakan tugas yang diemban oleh para nabi dan rasul, kemudian diwarisi oleh para ulama, dan para juru dakwah hingga akhir zaman. Mengajak orang lain kepada kebaikan, akan diberi pahala besar seperti pelaku kebaikan itu sendiri. Mengajak orang lain kepada petunjuk, lebih besar nilai keberuntungannya daripada pasukan perang yang mendapat harta rampasan berupa unta-unta yang merah. Namun, sekali lagi, dakwah bukanlah jalan lapang tanpa duri. Namun, ia ibarat bukit terjal yang sukar didaki. Memerlukan kesabaran.
Seorang juru dakwah yang sudah sangat kredibel seperti Nabi Muhammad saw., yang sebelum berdakwah sudah digelari sebagai Al-Amin “Yang Terpercaya” pun tak lepas dari ujian berat ketika berdakwah. Banyak tantangan, juga sikap dan ucapan menyakitkan yang beliau terima. Di awal periode dakwahnya, beliau saw. mendapat perintah untuk menyampaikan dakwah kepada keluarga dekatnya. Maka, di suatu pagi buta, beliau saw. mengumpulkan kerabat-kerabat dekat beliau di sebuah bukit. “Andai aku beritahukan kepada kalian, di balik gunung ini ada pasukan berkuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?”dari puncak bukit beliau bertanya lantang.
“Ya, kami tidak pernah melihatmu berdusta”, jawab mereka. Jawaban yang menunjukkan, betapa sempurna kepercayaan mereka kepada beliau. Wajar, andaikata kita menduga, dakwah beliau akan mendapat dukungan dari masyarakat dengan mulusnya.
Namun, pada saat beliau benar-benar menyampaikan perintah Allah, tantangan keras justru datang dari salah seorang keluarga beliau yang sangat dekat, paman beliau, Abu Lahab bin Abdul Muthalib yang merupakan kakak kandung ayahanda beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib. Abu Lahab mengeluarkan umpatan yang kelak dijawab dengan turunnya Surat Al-Lahab. Katanya, “Celaka engkau, wahai Muhammad! Hanya untuk keperluan inikah engkau mengumpulkan kami?”
Jadi, saudara-saudariku. Sekali lagi, yuk kita bersabar. Mari saling berpesan untuk selalu bersabar. Karena, tawashaw bish shabr merupakan salah satu dari empat kunci keberuntungan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah dalam Surat Al-`Ashr : 1-4,
“Demi masa. Sungguh, semua manusia benar-benar merugi. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling berpesan untuk mengikuti kebenaran, dan saling berpesan untuk menjalani kesabaran.”
Satu surat yang sangat pendek. Mungkin, kebanyakan kita sudah hafal. Dulu, kalau ingin shalat cepat selesai, surat ini menjadi bacaan favorit saya. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni saya. Sebenarnya, surat ini memang patut menjadi bacaan favorit. Bukan supaya sholat kita cepat selesai, namun karena kandungannya yang sungguh menakjubkan. Ia pernah menginspirasi Musailamah Al-Kadzab, untuk menggubah puisi guna menandinginya dan mengakuinya sebagai wahyu, namun puisi gubahannya ini justru semakin membuktikan kebohongannya. Amru bin Ash yang saat itu masih kafir berkomentar, “Demi Allah, kamu tahu bahwa aku tahu kalau engkau berbohong.”
Imam Syafi`i rahimahullah berkomentar mengenai Surat Al-`Ashr, yang menunjukkan pentingnya kandungan surat ini. Kata beliau, “Andaikata Allah tidak menurunkan hujah kepada manusia selain surat Al-`Ashr, niscaya surat ini saja cukup untuk mereka.”

Post Navigation