SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

KAPAN KITA BERUBAH?


Menolak secara halus merupakan hal yang jamak dilakukan dalam masyarakat kita, terlebih dalam masyarakat Jawa yang dikenal dengan unggah-ungguh-nya. Sebagai contoh, untuk menolak lamaran, seorang gadis Jawa tidak akan mengatakan, “Sorry, lamaranmu kutolak Mas.” Tapi, ia akan menggunakan kata-kata yang lebih halus, seperti: “Mas, Anda terlalu baik untuk gadis seperti saya ini. Semoga Mas mendapatkan jodoh yang sepadan, yang lebih baik dari saya.”
Dengan jawaban seperti itu, pemuda yang melamar tidak akan sakit hati, tapi mengerti dan bisa menerima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Saat menyaksikan debat cawapres di metro TV semalam, saya sempat terkesima dengan jawaban para cawapres ketika ditanya bagaimana mereka memposisikan agama dalam kehidupan bernegara.
“Agama itu terlalu sakral, maka jangan sampai ia dimasukkan ke dalam ranah politik”, kata salah satu kandidat wapres.
Kandidat lain mengatakan, “Agama harus menjadi tuntunan dalam berpolitik, tapi cukup substansinya saja. Tidak perlu secara formal digunakan dalam tatanan berbangsa dan bernegara.”
Cawapres ketiga, akur.
Sejenak, saya merasa surprise. Para cawapres terkesan memiliki sikap takzim dan hormat yang begitu tinggi kepada ajaran agama. Mereka meletakkan agama di kedudukan yang mulia. Semula, saya merasa begitu.
Namun, lama-lama, sebuah pertanyaan muncul di benak, benarkah begitu? Sikap takzim dan hormat kepada agama bisa dilakukan dengan menjauhkan agama dari ranah publik?
Saya rasa, tidak. Saya yakin, hampir semua kita paham bahwa jawaban ketiga cawapres bisa dibilang merupakan bentuk “penolakan secara halus” terhadap diterapkannya agama dalam kehidupan bernegara. Ini tidak sama halnya dengan seorang gadis yang secara halus menolak lamaran atau seorang sahabat yang secara halus menolak saran dari sahabatnya. Sehalus apa pun cara seseorang untuk menolak petunjuk dari Allah, tidak bisa dianggap sebagai sikap takzim dan hormat. Sebab, ini menyangkut hubungan seorang hamba yang diciptakan, dihidupkan, dan diberi rezeki, dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mencipta, Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Mahatahu tentang apa pun yang baik dan buruk. Bagaimana mungkin seorang hamba sanggup berkata, “Ya Allah, petunjuk-Mu sangat sakral, oleh karena itu mohon maaf kami hanya mengambil sebagian saja dari petunjuk-Mu. Mohon maaf, petunjuk-Mu yang menyangkut urusan kenegaraan dan kemasyarakatan tidak bisa kami laksanakan, karena kami memiliki cara sendiri yang menurut kami lebih tepat.” Ucapan seperti ini sama sekali bukan merupakan wujud rasa takzim dan hormat.
Sungguh sayang, memang. Debat cawapres kemarin menunjukkan kepada kita bahwa doktrin pemisahan agama dari negara hingga kini masih mengurat dan mengakar pada diri para elit politik dan pemimpin di Indonesia. Tampaknya, banyak juga masyarakat kita yang lebih menerima dan mengagumi sekulerisme daripada petunjuk Allah Yang Mahabijaksana.
Betapa banyak kesalahan dalam pengelolaan negara ini yang menyebabkan bangsa ini dibelit berbagai persoalan dan dilanda keterpurukan, semua kita tahu. Sayangnya, banyak pemimpin yang tidak melihat bahwa penyebab fundamental dari semua masalah ini adalah karena bangsa ini terlalu lama menjauh atau dijauhkan dari petunjuk ilahi yang merupakan sumber kemuliaan dan kebaikannya. Mereka tidak menyadari bahwa semua persoalan itu merupakan akibat dari banyaknya hukum Allah yang dilanggar, banyaknya petunjuk Allah yang diabaikan, banyaknya hukum yang haram dihalalkan dan yang halal diharamkan.
Tidakkah kita menyadari kekeliruan kita, ketika meletakkan petunjuk agama ini di langit yang tinggi, namun enggan mewujudkannya di bumi, menjadikan agama sebagai angan-angan serta mencegahnya terwujud nyata dalam kehidupan kita? Jika kita selalu berdoa kepada Allah memohon petunjuk-Nya dalam mengelola berbagai urusan, tapi mengapa banyak di antara kita yang justru alergi dengan pelaksanaan hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kehidupan bernegara? Jika kita mengakui terlalu banyak nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, mengapa kita tidak bersedia mematuhi perintah dan larangan-Nya serta melaksanakan hukum-hukum-Nya? Mengapa banyak di antara kita yang memilah-milah dan memilih-milih petunjuk Allah, yang sebagian dilaksanakan dan yang lain tidak? Bukankah hukum yang diturunkan oleh Allah merupakan hukum terbaik? Bukankah Allah Mahabijaksana melebihi siapa pun yang bijaksana?
Jadi, belum tibakah saatnya untuk berubah? Belum saatnyakah kita menundukkan hati lebih dalam, dengan menerima petunjuk-Nya secara keseluruhan?

Iklan

Single Post Navigation

One thought on “KAPAN KITA BERUBAH?

  1. Dalam pendirian republik ini landasannya jelas, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketiga Cawapres tau itu, sayangnya kurang paham.Padahal pertanyaan moderatornya gak seribet jawaban mereka, malah moderatornya yg bingung, Apalagi menyinggung soal agama, mereka pasti hati2 karena takut kepleset. Sebenarnya gak paham.
    Berubah? Pasti. Ayo……!!!
    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: