SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the day “Juni 15, 2009”

BATAS KESABARAN


Ambang batasPada awalnya, menjadi orang yang menegakkan sholat membutuhkan kesabaran. Ada saja hal yang mengundang keluhan.
“Bacaan imam terlalu panjang. Mana suaranya nggak merdu.” Aha, kita sudah mendapatkan satu alasan logis untuk mengurangi kesempurnaan sholat kita. Dengan tidak berjamaah di masjid. Atau bahkan dengan sholat munfarid, di rumah.
Urusan-urusan dunia yang menyibukkan, kadang-kadang juga membuat kita tidak bersabar untuk melaksanakan sholat secara jamaah, di masjid. Kadang adzan dikumandangkan, sedangkan pembicaraan kita tentang bisnis sedang di puncak kemenarikannya. Atau pekerjaan yang dikerjakan sedang mencapai tahap paling mengasyikkan untuk diselesaikan. Sayang, kalau dihentikan. Atau kalau dihentikan, ide-ide yang sedang bermunculan bisa menguap.
Kadang-kadang, problem berat mengganggu konsentrasi. Agen yang belum membayar piutang jatuh tempo, dead line yang belum terpenuhi, tawaran-tawaran yang belum dipelajari, beberapa masalah manajemen yang rumit, tiba-tiba semua mencuat pada saat kita mengangkat tangan sambil mengucapkan takbiratul ihram. Maka, berat rasanya berkonsentrasi untuk menyertai setiap gerakan sholat yang kita lakukan dengan kehadiran hati. Sulit sekali mengikuti doa-doa yang kita ucapkan dengan fikiran sadar.
Meski begitu, kita tidak boleh menyerah. Kita harus memaksakan diri. Mencoba menikmati suara bacaan imam, meski panjang melelahkan dan dengan suara tak merdu yang menjemukan. Ingat, bagaimanapun, yang dibacanya adalah kalam ilahi yang lafazh-lafazh dan makna-maknanya berasal dari ucapan Allah, Sang Pencipta, Pemberi Rezeki dan satu-satunya yang berhak mendapat cinta, kita ketaatan, dan penghormatan sempurna dari kita. Ingat pula, bahwa kita sedang mencoba menyempurnakan sebuah amalan yang akan menjadi barometer bagi kebaikan dan keburukan seluruh amalan kita. Ia lebih penting dari seluruh urusan kita yang lain. Kita harus berkonsentrasi, untuk menjalankan setiap gerakannya dan mengucapkan doa-doanya, dengan penghayatan dan kesadaran.
Memang, pada awalnya, menegakkan sholat membutuhkan kesabaran. Sampai kapan? Sampai Allah mengaruniakan perasaan nikmat di hati kita ketika menjalankannya. Sampai sholat berjamaah bukan lagi menjadi sesuatu beban yang berat. Ia bahkan menjadi hiburan yang membuat kita lupa dari segala kesedihan. Ia menjadi rehat bagi hati kita dari kepenatan mengurus persoalan dunia. Kedatangannya menjadi kita rindukan. “Arihna bi `sh-sholah, ya Bilal. Istirahatkan kita dengan sholat, wahai Bilal!” Begitu kata Nabi saw. suatu ketika saat memerintah Bilal mengumandangkan adzan sebagai pertanda bahwa shalat akan dilaksanakan. Beliau juga pernah mengatakan bahwa Allah telah menjadikan qurrota `ain (hiburan hati) beliau terletak di dalam sholat. Pada saat itu, bukan kesabaran lagi yang kita perlukan dalam mengerjakan sholat. Namun, kesyukuran tak terhingga kepada Allah, yang telah menjadikan kita salah seorang hamba yang mendapat taufik-Nya, dengan dimudahkan menjaga sholat. Yang telah memberikan kenikmatan ibadah sholat kepada kita.
Melaksanakan kebajikan dan meninggalkan kemungkaran, pada awalnya selalu membutuhkan kesabaran demi kesabaran. Karena itu, banyak orang yang tidak sanggup. Banyak orang yang tidak beruntung mendapat ganjarannya, baik berupa kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat.
Buah durian, mengapa musti dibungkus dengan kulit tebal yang berduri? Karena supaya kenikmatannya itu tidak disantap oleh kelelawar dan makhluk lain yang tidak dikehendaki untuk menikmatinya. Agar manusia saja yang menikmati. Untuk itu, manusia harus bersedia membuka kulit berdurinya, sebelum menikmati dagingnya yang lezat.
Jadi, di manakah batas kesabaran itu? Di ujung ganjaran yang kita tunggu-tunggu. Ganjaran dunia berupa kenikmatan menjalani hidup di atas kebaikan atau di akhirat berupa surga dan berbagai kenikmatannya.

Iklan

Post Navigation