SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

BERSABAR DENGAN PILIHAN


Kadangkala, kesabaran merupakan pilihan. Kita bisa mengambil kesabaran itu, jika mau. Jika tidak, ada pilihan lain yang lebih menyenangkan. Namun, pilihan menyenangkan itu akan berakhir dengan kesengsaraan atau berakhir dengan murka Allah.
Suatu ketika, seorang perempuan cantik memanggil seorang pemuda lajang yang tampan lagi rupawan, yang berpofesi sebagai penjual minyak wangi. Singkat kata, keduanya sudah di dalam ruangan rumah. Hanya berdua. Dan dengan segala tipu daya, perempuan cantik itu mulai menggoda. “Maukah kamu bersenang-senang denganku, tampan?”
Hmm. Jelas, nalurinya sebagai laki-laki mengatakan bahwa perempuan itu cantik. Bagaimanapun, ia pemuda normal. Nafsu kelakiannya mengajaknya untuk bersenang-senang. Tapi, rasa takut-Nya kepada Allah mencoba mencegahnya memenuhi ajakan itu.
Pilihan ini tidak mudah. Nafsu perempuan itu sudah menggebu. Semua kesempatan terbuka. Kemungkinan orang lain mencium perbuatan nistanya, jika ia melakukan sangatlah kecil. Lebih dari itu, perempuan itu juga menebar ancaman. Jika si pemuda menolak, ia akan berteriak, sehingga masyarakat akan berdatangan dan menuduhnya sebagai pemerkosa. Pelik. Memilih untuk menjaga diri dengan berbagai risikonya. Atau menuruti godaan perempuan itu, bersenang-senang dengan segala risiko yang tidak mungkin pula dielakkannya, kelak di hadapan Allah.
Di sini, kesabaran adalah pilihan. Persis yang terjadi pada semua orang dihadapkan kepada pilihan antara mengerjakan dosa atau meninggalkannya. Jika uang suap ada di depan mata, bahkan diletakkan di genggaman tangan, Anda boleh memilih bersabar dengan rezeki halal yang terbatas atau menikmati rezeki haram yang melimpah ruah dan membahagiakan nafsu. Ketika perbincangan dengan kawan semakin asyik, kadang pembicaraan mengarah kepada pergunjingan. Saat itu Anda di hadapkan kepada pilihan, untuk bersabar mengikuti larangan menggunjing atau memuaskan nafsu menggunjing Anda dengan membuka lebar pembicaraan tentang aib saudara Anda, sambil tertawa ria sepuas-puasnya. Meninggalkan semua hal yang dilarang Allah adalah pilihan untuk bersabar.
Begitu pula ketika seseorang dihadapkan dengan perintah Allah. Menutup aurat, sebagai misalnya. Seorang muslimah yang menerima perintah menutup aurat, dihadapkan pada pilihan, apakah ia bersabar mengenakan busana syar`i yang kadang-kadang berisiko mendatangkan ketidaknyamanan dalam berkarir dan bersosial, terutama di lingkungan yang belum familiar dengan syariat ini, ataukah memilih kenyamanan dengan kebiasaan lama yang lebih disukai manusia namun tidak diridhai oleh Allah.
Kesabaran dengan pilihan seperti ini, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kesabaran yang muncul dalam keterpaksaan. Ketika kita dihadapkan pada kenyataan, bahwa bersabar adalah satu-satunya pilihan. Saat secara tidak terduga, Allah mengambil sebagian karunianya kepada kita. Salah seorang yang sangat kita cintai meninggal dunia. Tidak ada pilihan bagi kita, selain bersabar. Karena apa yang terjadi itu di luar kuasa.
Kembali pada kisah pemuda yang digoda tadi, apakah ia memilih bersabar ataukah sebaliknya? Sejenak tentu ia berpikir. Bagaimana jalan keluarnya dari dua pilihan sulit itu. “Baiklah, kalau begitu aku minta izin sebentar. Aku ingin membersihkan tubuhku di kamar mandi”, katanya.
Dan yang dilakukannya sungguh di luar dugaan siapa pun. Setelah masuk kamar mandi, ia mengambil –maaf- tinja yang terdapat di WC kamar mandi itu. Dia lumuri seluruh tubuhnya dengan benda berbau itu. Setelah selesai, ia kembali menemui perempuan penggodanya.
Bau tinja menyengat dari seluruh tubuh pemuda itu ketika ia berkata, “Di mana kita akan bersenang-senang?”
Kontan, perempuan penggoda itu naik pitam. Diusirnya pemuda yang dipikirnya telah gila. Selamatlah pemuda dari dosa, dengan kesabarannya. Kesabaran luar biasa. Yang dia lakukan, dengan pilihannya. Allah pun mengganjarnya dengan karomah luar biasa. Sejak saat itu, tubuh si pemuda selalu mengeluarkan aroma wangi. Meski pun ia tidak menggunakan minyak wangi.
Maukah kita menjadikan kesabaran sebagai pilihan?

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: