SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

SABAR YUK!


Saya sempat berpikir lama, termangu antara ingin menulis atau tidak menulis lagi tentang kesabaran. Sebabnya tak lain karena beberapa reaksi negatif sering saya dapati ketika seseorang diajak bersabar. Karena disalahpahami, saya pikir tulisan saya itu akan kontraproduktif.
“Sabar? Emang enak jadi orang sabar? Mendingan selalu happy dan bersyukur daripada menjadi orang susah yang bersabar.” Ya, kadang-kadang orang merasa bahwa diajak bersabar itu sama artinya dengan diajak susah.
“Dari kemarin ngomongnya soal sabar melulu! Lagi susah apa sih? Nyantai ajalah, Mas! Mari kita nikmati hidup ini!” Nah, lho. Inginnya mengajak bersabar, tapi malah dikira mengeluh.
Kadang-kadang, saya malah khawatir karena ketika diajak bersabar, sebagian orang justru tersinggung. “Sabar? Ya, kalau sampeyan bisa sabar. Lha kalau sampeyan jadi saya, apa bisa sabar?” Ufh! Sabar, sabar. Maunya mengajak bersabar, malah bikin emosi orang meledak.
Namun, selalu ada dorongan kuat yang muncul di hati saya untuk menulis soal kesabaran. Ide-ide masih terus berseliweran di benak saya, seakan menggoda saya untuk kembali menulis tentang sabar. Tentu saya tidak ingin mengajak Anda susah, karena tanpa diajak pun masing-masing dari kita sudah memiliki sebagian jatah kesusahannya. Saya juga tidak sedang mengeluh, karena bukan tempatnya mengeluhkan takdir yang ditetapkan Sang Maha Pencipta kepada manusia yang dicipta. Saya juga tidak ingin menambah kesusahan Anda, jika saat ini Anda sedang mengalami kesusahan, dengan meledakkan emosi Anda.
Saya ingin menulis lagi tentang kesabaran, karena sejauh yang saya yakini, kesabaran adalah keberuntungan. Ya, keberuntungan. Keberuntungan besar. Saya tidak bisa membayangkan bahwa ada seseorang yang hari ini meraih keberuntungan kecuali sebelumnya pasti pernah menjalani kesabaran. Andai suatu masa nanti Allah menjadikan saya seorang yang benar-benar penyabar, maka saya yakin, pada saat itu saya akan menjadi orang yang sungguh-sungguh beruntung.
Dikaruniai ilmu, adalah keberuntungan. Dengan ilmu, seseorang bisa melihat kebenaran secara jelas ketika orang lain dalam kekaburan atau ketika orang lain bahkan melihat kebenaran sebagai kekeliruan. Ia bisa memilih sikap dan tindakan yang benar dengan penuh keyakinan, ketika orang lain gamang untuk mengambil sikap dan tindakan yang benar itu, atau ketika orang lain memilih sikap dan tindakan yang salah. Ia menjadi pelita yang menerangi kehidupan orang lain dan menjadi tempat bertanya orang yang tidak tahu. Betapa beruntungnya orang berilmu. Dan saya tidak bisa membayangkan seseorang yang saat ini memiliki ilmu luas dan mendalam, kecuali di masa lalu pernah bersabar menjalani proses belajar yang panjang dan melelahkan.
Hidup ini harus kita isi dengan karya-karya mulia dan amal shalih yang menjadikan kita diridhai Sang Pencipta dan bermanfaat bagi sesama. Setiap karya yang baik, selalu merupakan buah kesabaran. Setiap amal shalih yang sempurna, selalu dilakukan dengan kesabaran.
Menjaga shalat adalah amal shalih yang diridhai Allah. Untuk menjaga shalat, seseorang harus memenuhi semua syarat dan rukunnya, serta menjalankan sunnah-sunnahnya. Ia harus menutup aurat, menjaga pakaian dari najis, dan berwudhu dengan sempurna. Saat berkumandang adzan subuh, ia harus segera mengambil air wudhu meski kadang-kadang serangan kantuk masih mengajak tidur atau siaran langsung Liga Champion menggoda untuk tidak meninggalkan layar televisi. Ia berjalan ke masjid untuk mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Dari mulai takbir ia perlu berkonsentrasi menjalankan setiap gerakan shalat dan menghayati setiap doa yang diucapkan. Sehari lima kali. Setiap hari. Sampai ajal menjemput. Semua itu, membutuhkan kesabaran. Kesabaran yang panjang.
Masih banyak amal shalih di dunia ini yang harus dilakukan. Masih banyak karya yang harus diselesaikan. Jika kita bisa melakukannya, andai kita bisa mewujudkannya, kita akan beruntung. Dan semuanya, sekali lagi membutuhkan kesabaran.
Berdakwah, mengajak orang lain kepada kebenaran, adalah aktivitas mulia yang tidak semua orang bisa melakukannya. Ia merupakan tugas yang diemban oleh para nabi dan rasul, kemudian diwarisi oleh para ulama, dan para juru dakwah hingga akhir zaman. Mengajak orang lain kepada kebaikan, akan diberi pahala besar seperti pelaku kebaikan itu sendiri. Mengajak orang lain kepada petunjuk, lebih besar nilai keberuntungannya daripada pasukan perang yang mendapat harta rampasan berupa unta-unta yang merah. Namun, sekali lagi, dakwah bukanlah jalan lapang tanpa duri. Namun, ia ibarat bukit terjal yang sukar didaki. Memerlukan kesabaran.
Seorang juru dakwah yang sudah sangat kredibel seperti Nabi Muhammad saw., yang sebelum berdakwah sudah digelari sebagai Al-Amin “Yang Terpercaya” pun tak lepas dari ujian berat ketika berdakwah. Banyak tantangan, juga sikap dan ucapan menyakitkan yang beliau terima. Di awal periode dakwahnya, beliau saw. mendapat perintah untuk menyampaikan dakwah kepada keluarga dekatnya. Maka, di suatu pagi buta, beliau saw. mengumpulkan kerabat-kerabat dekat beliau di sebuah bukit. “Andai aku beritahukan kepada kalian, di balik gunung ini ada pasukan berkuda yang akan menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?”dari puncak bukit beliau bertanya lantang.
“Ya, kami tidak pernah melihatmu berdusta”, jawab mereka. Jawaban yang menunjukkan, betapa sempurna kepercayaan mereka kepada beliau. Wajar, andaikata kita menduga, dakwah beliau akan mendapat dukungan dari masyarakat dengan mulusnya.
Namun, pada saat beliau benar-benar menyampaikan perintah Allah, tantangan keras justru datang dari salah seorang keluarga beliau yang sangat dekat, paman beliau, Abu Lahab bin Abdul Muthalib yang merupakan kakak kandung ayahanda beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib. Abu Lahab mengeluarkan umpatan yang kelak dijawab dengan turunnya Surat Al-Lahab. Katanya, “Celaka engkau, wahai Muhammad! Hanya untuk keperluan inikah engkau mengumpulkan kami?”
Jadi, saudara-saudariku. Sekali lagi, yuk kita bersabar. Mari saling berpesan untuk selalu bersabar. Karena, tawashaw bish shabr merupakan salah satu dari empat kunci keberuntungan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah dalam Surat Al-`Ashr : 1-4,
“Demi masa. Sungguh, semua manusia benar-benar merugi. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling berpesan untuk mengikuti kebenaran, dan saling berpesan untuk menjalani kesabaran.”
Satu surat yang sangat pendek. Mungkin, kebanyakan kita sudah hafal. Dulu, kalau ingin shalat cepat selesai, surat ini menjadi bacaan favorit saya. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni saya. Sebenarnya, surat ini memang patut menjadi bacaan favorit. Bukan supaya sholat kita cepat selesai, namun karena kandungannya yang sungguh menakjubkan. Ia pernah menginspirasi Musailamah Al-Kadzab, untuk menggubah puisi guna menandinginya dan mengakuinya sebagai wahyu, namun puisi gubahannya ini justru semakin membuktikan kebohongannya. Amru bin Ash yang saat itu masih kafir berkomentar, “Demi Allah, kamu tahu bahwa aku tahu kalau engkau berbohong.”
Imam Syafi`i rahimahullah berkomentar mengenai Surat Al-`Ashr, yang menunjukkan pentingnya kandungan surat ini. Kata beliau, “Andaikata Allah tidak menurunkan hujah kepada manusia selain surat Al-`Ashr, niscaya surat ini saja cukup untuk mereka.”

Iklan

Single Post Navigation

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: