SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

SEMUA MELIMPAH SELALU MURAH


Catatan ini dilatarbelakangi oleh ingatan saya pada peristiwa beberapa tahun lalu yang hingga kini masih melekat di benak saya. Setiap kali melihat fenomena kejatuhan market suatu produk, saya kembali teringat pada peristiwa itu.
Suatu hari, ibu saya pulang dari sebuah acara pengajian di Madiun. Tidak biasanya, kali ini ibu menurunkan dua bakul besar tomat dari mobil sebagai oleh-oleh. Wow, banyak sekali. Tidak mungkin kalau ibu tadi mampir pasar untuk berbelanja tomat sebanyak itu.
“Ini dari Bu Rukanah. Hasil panenan Bu Rukanah sendiri”, kata ibu seolah tahu keheranan saya.
Ceritanya, saat itu musim panen tomat bagi para petani di Madiun dan Magetan. Mereka menanam tomat dengan menggunakan pupuk organik. Dari aspek kualitas, tentu tomat yang mereka hasilkan jauh lebih baik dibandingkan tomat yang ditanam secara konvensional dengan menggunakan pupuk kimia. Residu kimia dalam sayuran dalam jumlah besar sangat berbahaya bagi kesehatan, karena bisa memicu timbulnya penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker, stroke, dan sebagainya. Sering sayuran hasil pertanian di Indonesia tidak diterima di pasar ekspor lantaran kandungan residu kimia yang besar ini.
Namun, hasil pertanian yang bagus-bagus memang tidak selalu merupakan kabar gembira bagi para petani. Sama dengan yang mereka alami saat itu. Di saat mereka harusnya bergembira dengan hasil panen yang bagus dan melimpah, harga tomat anjlok tajam. Para tengkulak hanya bersedia menawar tomat mereka dengan harga yang menurut saya tidak masuk akal. Hanya 250 rupiah perkilo. Wuih, sama dengan harga sekali parkir sepeda di pasar tradisional Hargodaksino, Gemblegan. Karena itu, banyak petani enggan menjual tomat mereka. 250 rupiah perkilo bukan saja harga yang tak layak, tapi juga merupakan penghinaan atas kerja keras para petani selama beberapa bulan. Maka, tak heran jika banyak petani lebih suka menghadiahkan hasil pertanian mereka kepada keluarga atau sahabat mereka, daripada menjualnya kepada para tengkulak dengan hati dongkol. Seperti yang dilakukan oleh Bu Rukanah itu.
Dari sini, saya mencoba mengambil pelajaran. Dalam berbisnis ternyata tidak cukup kita berpikir tentang produk, tentang apa yang akan kita produksi, bagaimana kita memproduksi, dan sebaik apa hasil produksi kita. Well, itu penting. Tapi, produk dengan kualitas baik pun akan sia-sia jika kita tidak menciptakan dan mengelola marketingnya dengan baik.
Selain itu, kita harus mengendalikan produksi agar tidak terjadi banjir produk di pasaran, melebihi kebutuhan konsumen. Karena limpahan produk di pasar bisa menyebabkan kejatuhan harga yang sangat merugikan bisnis. Sudah merupakan sunatullah bahwa semua yang melimpah itu murah, walau pun besar manfaatnya. Udara itu murah, bisa kita ambil gratis, walau pun tidak ada orang yang bisa hidup tanpa udara.
Saya sering bilang kepada teman-teman, jangan mendiskon barang besar-besaran dalam jumlah besar. Konsumen akan lebih antusias memburu produk kita, jika barang diskon yang kita tawarkan dibatasi, hanya untuk 20 orang di antara 1000 konsumen yang berpotensi menginginkannya. Sehingga mereka akan berebut mendapatkan barang kita serta merasa beruntung setelah mendapatkannya.
Kemudian, bicara soal kesejahteraan para petani, ternyata tidak hanya terkait dengan ketersediaan bibit, pupuk, dan sarana produksi. Tapi, juga terkait dengan tata niaga dan etika para pedagang produk pertanian. Para petani tida akan sejahtera selama pedagang-pedagang yang menampung produk mereka adalah orang-orang tak bermoral yang tidak mempedulikan kesejahteraan para petani.
Selain itu, untuk menyejahterakan petani perlu diciptakan industri pengolahan produk hasil pertanian yang akan meningkatkan daya serap pasar dan memberikan nilai tambah produk pertanian. Akan lebih menyejahterakan jika yang dijual adalah kacang olahan dalam kemasan, saos, kecap, dan sebagainya daripada masih berupa bahan mentah kacang, tomat, lombok, kedele, dan sebagainya.

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: