SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Juni, 2009”

KAPAN KITA BERUBAH?


Menolak secara halus merupakan hal yang jamak dilakukan dalam masyarakat kita, terlebih dalam masyarakat Jawa yang dikenal dengan unggah-ungguh-nya. Sebagai contoh, untuk menolak lamaran, seorang gadis Jawa tidak akan mengatakan, “Sorry, lamaranmu kutolak Mas.” Tapi, ia akan menggunakan kata-kata yang lebih halus, seperti: “Mas, Anda terlalu baik untuk gadis seperti saya ini. Semoga Mas mendapatkan jodoh yang sepadan, yang lebih baik dari saya.”
Dengan jawaban seperti itu, pemuda yang melamar tidak akan sakit hati, tapi mengerti dan bisa menerima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Saat menyaksikan debat cawapres di metro TV semalam, saya sempat terkesima dengan jawaban para cawapres ketika ditanya bagaimana mereka memposisikan agama dalam kehidupan bernegara.
“Agama itu terlalu sakral, maka jangan sampai ia dimasukkan ke dalam ranah politik”, kata salah satu kandidat wapres.
Kandidat lain mengatakan, “Agama harus menjadi tuntunan dalam berpolitik, tapi cukup substansinya saja. Tidak perlu secara formal digunakan dalam tatanan berbangsa dan bernegara.”
Cawapres ketiga, akur.
Sejenak, saya merasa surprise. Para cawapres terkesan memiliki sikap takzim dan hormat yang begitu tinggi kepada ajaran agama. Mereka meletakkan agama di kedudukan yang mulia. Semula, saya merasa begitu.
Namun, lama-lama, sebuah pertanyaan muncul di benak, benarkah begitu? Sikap takzim dan hormat kepada agama bisa dilakukan dengan menjauhkan agama dari ranah publik?
Saya rasa, tidak. Saya yakin, hampir semua kita paham bahwa jawaban ketiga cawapres bisa dibilang merupakan bentuk “penolakan secara halus” terhadap diterapkannya agama dalam kehidupan bernegara. Ini tidak sama halnya dengan seorang gadis yang secara halus menolak lamaran atau seorang sahabat yang secara halus menolak saran dari sahabatnya. Sehalus apa pun cara seseorang untuk menolak petunjuk dari Allah, tidak bisa dianggap sebagai sikap takzim dan hormat. Sebab, ini menyangkut hubungan seorang hamba yang diciptakan, dihidupkan, dan diberi rezeki, dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mencipta, Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Mahatahu tentang apa pun yang baik dan buruk. Bagaimana mungkin seorang hamba sanggup berkata, “Ya Allah, petunjuk-Mu sangat sakral, oleh karena itu mohon maaf kami hanya mengambil sebagian saja dari petunjuk-Mu. Mohon maaf, petunjuk-Mu yang menyangkut urusan kenegaraan dan kemasyarakatan tidak bisa kami laksanakan, karena kami memiliki cara sendiri yang menurut kami lebih tepat.” Ucapan seperti ini sama sekali bukan merupakan wujud rasa takzim dan hormat.
Sungguh sayang, memang. Debat cawapres kemarin menunjukkan kepada kita bahwa doktrin pemisahan agama dari negara hingga kini masih mengurat dan mengakar pada diri para elit politik dan pemimpin di Indonesia. Tampaknya, banyak juga masyarakat kita yang lebih menerima dan mengagumi sekulerisme daripada petunjuk Allah Yang Mahabijaksana.
Betapa banyak kesalahan dalam pengelolaan negara ini yang menyebabkan bangsa ini dibelit berbagai persoalan dan dilanda keterpurukan, semua kita tahu. Sayangnya, banyak pemimpin yang tidak melihat bahwa penyebab fundamental dari semua masalah ini adalah karena bangsa ini terlalu lama menjauh atau dijauhkan dari petunjuk ilahi yang merupakan sumber kemuliaan dan kebaikannya. Mereka tidak menyadari bahwa semua persoalan itu merupakan akibat dari banyaknya hukum Allah yang dilanggar, banyaknya petunjuk Allah yang diabaikan, banyaknya hukum yang haram dihalalkan dan yang halal diharamkan.
Tidakkah kita menyadari kekeliruan kita, ketika meletakkan petunjuk agama ini di langit yang tinggi, namun enggan mewujudkannya di bumi, menjadikan agama sebagai angan-angan serta mencegahnya terwujud nyata dalam kehidupan kita? Jika kita selalu berdoa kepada Allah memohon petunjuk-Nya dalam mengelola berbagai urusan, tapi mengapa banyak di antara kita yang justru alergi dengan pelaksanaan hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah dalam kehidupan bernegara? Jika kita mengakui terlalu banyak nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, mengapa kita tidak bersedia mematuhi perintah dan larangan-Nya serta melaksanakan hukum-hukum-Nya? Mengapa banyak di antara kita yang memilah-milah dan memilih-milih petunjuk Allah, yang sebagian dilaksanakan dan yang lain tidak? Bukankah hukum yang diturunkan oleh Allah merupakan hukum terbaik? Bukankah Allah Mahabijaksana melebihi siapa pun yang bijaksana?
Jadi, belum tibakah saatnya untuk berubah? Belum saatnyakah kita menundukkan hati lebih dalam, dengan menerima petunjuk-Nya secara keseluruhan?

ISLAM DI LUAR ATAU DI DALAM?


Islam, dari luar bisa kita lihat sebagai ucapan, sikap, tindakan yang menunjukkan seseorang sebagai muslim. Ia tampak dalam ucapan dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Ia bisa dilihat pada perilaku seseorang yang tidak menzalimi orang lain dengan kata-kata atau tindakan. Ia juga bisa terlihat dalam seluruh aktivitas seeorang yang mematuhi seluruh aspek syariah Islam, baik dalam ibadah maupun muamalah, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Adapun apa yang ada di dalam hati, tidak ada yang bisa melihat. Hanya Allah yang tahu, apakah di hati kita ada keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, dan takdir yang baik maupun buruk. Tidak ada manusia yang tahu secara pasti apakah ucapan, sikap, dan tindakan seseorang yang dilihatnya itu terlahir dari hati yang bertakwa, ikhlas, takut, harap, dan tawakal kepada Allah.
Yang pasti, jika hati kita berisi keimanan, maka keadaan lahir kita akan menunjukkan ucapan, sikap, dan perilaku yang selaras dengannya atau dengan kata lain menunjukkan keislaman kita. Jika lahir kita menunjukkan ucapan, sikap, dan perilaku keislaman, maka semua itu tidak akan ada gunanya jika hati kita kosong dari keimanan.
Maka, kita harus terus berusaha agar keadaan lahir kita dijiwai oleh hati.Keislaman lahir hanya akan diterima oleh Allah apabila dijalankan dengan landasan keimanan di hati. Jika tidak, ia hanyalah sebuah kemunafikan. Keimanan yang benar-benar bercokol di hati tidak mungkin tidak melahirkan ucapan, sikap, dan tindakan yang islami. Jika demikian, sesungguhnya ia hanyalah angan-angan.
Jadi, mengapa kita harus membedakan antara lahir dan batin, serta memisahkan antara keislaman dan keimanan kita?

THIBBUN NABAWI, WAHYU ATAU TRADISI?


Dari beberapa tulisan yang saya baca dan diskusi dengan beberapa teman, saya menyimpulkan ternyata banyak orang yang menganggap thibbun nabawi sama sekali tidak berhubungan dengan wahyu. Tapi ia merupakan pengobatan yang diresepkan Nabi berdasarkan tradisi pengobatan orang Arab. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa beberapa metode pengobatan yang diresepkan oleh Nabi saw. telah digunakan jauh sebelum Nabi saw. datang.
Kalau dirunut, pendapat ini merujuk kepada pendapat filosof muslim, Ibnu Khaldun di dalam buku tarikhnya. Ketika berbicara tentang klasifikasi dan sumber-sumber pengobatan, beliau berkata : “Orang-orang Badwi maupun penduduk perkotaan memiliki metode pengobatan yang sebagian besar mereka bangun berdasarkan uji coba terbatas terhadap beberapa orang, kemudian motode tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui para tetua kampung. Kadang-kadang, metode pengobatan itu benar, akan tetapi tidak didasarkan kepada pemahaman yang benar tentang karakter dan unsur. Di kalangan bangsa Arab terdapat tabib-tabib semacam ini yang terkenal seperti Harits bin Kaldah dan lain-lain. Metode pengobatan yang diambil dari berbagai syariat termasuk dalam jenis ini, sama sekali bukan berasal dari wahyu. Ia merupakan metode pengobatan yang mentradisi di kalangan orang-orang Arab.”
Saya tidak ingin masuk dalam perdebatan mendetil soal ini. Karena, di seputar ini memang banyak hal lagi yang perlu didiskusikan secara panjang. Perlu waktu khusus untuk membahasnya satu persatu. Namun, saya ingin membuat catatan buat para sahabat saya yang berpendapat demikian.
Pertama, beberapa sabda Nabi saw. mengindikasikan bahwa resep yang beliau sampaikan itu bukan berdasarkan pengetahuan yang beliau peroleh dari para tetua kampung, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khaldun. Di antaranya adalah ketika beliau meresepkan madu untuk seseorang yang mengadukan saudaranya mengalami diare. Setelah meminum madu, seperti yang beliau resepkan, diare semakin parah. Beliau menyuruh untuk meminumkan madu lagi. Sakit pun semakin parah. Beliau kembali menyuruh resep yang sama. Hingga, ketika orang itu mengadukan keadaan serupa yang ketiga kali atau keempat kalinya, beliau bersabda:
Shodaqollohu wa kadzaba bathnu akhika (Mahabenar Allah, perut saudaramu berdusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa beliau memberikan resep berdasarkan wahyu dari Allah. Bukan dari informasi para tetua kampung. Jika resep itu berasal dari tetua kampung, tentu beliau tidak mengatakan “Mahabenar Allah, perut saudaramu berdusta.”
Beberapa hadits tentang bekam juga menunjukkan bahwa informasi tentang manfaat bekam beliau terima dari para malaikat pada saat beliau melakukan isra’. Artinya, itu wahyu. Karena sifat para malaikat itu melaksanakan perintah dari Allah.
Kedua, bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai resep yang diberikan oleh Nabi saw. jauh lebih maju daripada pengetahuan orang-orang di zaman beliau. Beliau banyak memberikan informasi medis yang pembuktiannya baru diketahui baru-baru ini. Misalnya, beliau pernah menginformasikan bahwa pada sebelah sayap lalat terdapat penyakit, dan di sebelahnya lagi ada obat. Pengetahuan tentang itu, jauh lebih maju daripada wawasan orang di zaman beliau. Bahkan, sampai saat ini pun, masih banyak ilmuwan atau intelektual yang belum tahu bahwa dari beberapa bagian sayap ternyata diperoleh beberapa zat yang bisa dijadikan sebagai antibiotik yang sangat ampuh, sebagaimana ditemukan oleh beberapa ilmuwan Kanada, Jerman, dan Inggris sekitar satu abad yang lalu.
Ketiga, pengalaman membuktikan, sangat banyak penyakit yang tidak bisa ditangani dengan tindakan medis biasa, meskipun dengan biaya besar dan peralatan sangat canggih, namun dengan izin Allah berhasil disembuhkan melalui penggunaan resep-resep Nabi saw. dengan peralatan lebih sederhana dan biaya murah. Sangat banyak kesaksian tentang orang yang sembuh dari stroke, darah tinggi, diabetes, asam urat, dan berbagai penyakit berat lainnya pada akhirnya memperoleh kesembuhan, dengan izin Allah, setelah melakukan terapi dengan resep-resep thibbun nabawi. Anda tahu, penyakit-penyakit tersebut tidak mudah ditangani oleh para dokter yang sangat ahli sekali pun. Maka, informasi tentang manfaat bekam sebagai metode pengobatan paling bermanfaat sungguh akurat dan terlalu hebat jika informasi tersebut beliau terima hanya dari para tetua kampung.
Keempat, saya perlu pula tuliskan dalam catatan ini. Bahwa Nabi saw. adalah yang menyampaikan kepada kita ayat-ayat yang melarang kita berbicara tanpa ilmu. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya. Sudah tentu, beliau merupakan teladan kita dalam mengamalkan ayat-ayat tersebut. Lantas, bagaimana mungkin beliau berbicara tentang pengobatan jika beliau tidak mengetahui ilmunya? Bagaimana mungkin beliau memerintahkan suatu resep pengobatan, melarang yang lain, menyatakan manfaat yang satu dan mengingatkan bahaya yang lain, tanpa ilmu?
Terakhir, Allah Swt. Berfirman dalam surat An-Najm :
“Tidaklah yang ia ucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Akan tetapi, ucapannya hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm [53] : 3-4)
Jadi, adakah yang bisa membuktikan bahwa Nabi saw. menerima informasi tentang pengobatan dari tetua kampung?

Post Navigation