SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Mei, 2009”

KEMBALI KEPADA ALLAH


رجوع إلى اللهMusibah memberi kita pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang mungkin sulit untuk benar-benar kita pahami andaikata ia tidak menampar dan membangunkan kesadaran kita.
Keadaan serba lapang kadang membuat sebagian dari kita lupa bahwa nikmat yang ada ini bisa dicabut. Uang melimpah, rasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga serta menjaga eksistensi korporasi di tengah ketatnya kompetisi. Pengalaman bertahun-tahun, rasanya cukup untuk memupuk percaya diri menaklukkan tantangan apa pun yang dihadapi. Para pendukung setia siap menyokong agenda apa pun yang hendak dijalankan. Semua faktor menuju kejayaan ada di tangan. Siapa yang akan mencegah kepastian untuk mencapai puncak kejayaan?
Di sini setan mendapat kesempatan, untuk mendorong seseorang kepada kondifensi di luar batas yang dibolehkan. Mata, telinga, dan pikiran terbuka lebar untuk melihat, mendengar, dan memikirkan semua jalan menuju kejayaan, namun tertutup rapat dari Pencipta semua jalan kejayaan itu. Entah di mana Allah ketika itu. Dia tidak terlihat di mata, tidak terdengar di telinga, tidak terpikirkan di hati. Harta melimpah seakan tidak bisa diambil-Nya. Pengalaman panjang seolah tidak menyisakan hal-hal besar yang mungkin masih disembunyikan oleh-Nya. Para pendukung setia seolah tidak memiliki hati yang bisa dibolak-balikkan oleh Ar-Rahman sehingga menjadi tangan-tangan khianat yang menggunting dalam lipatan. Rasanya, semuanya aman-aman saja.
Dunia tidak pernah sepi dari kisah-kisah pencabutan nikmat semacam itu. Dan andaikata semua itu tidak pernah terjadi pada kita, mudah saja bagi Allah untuk mengirimkan sebab-sebab lain yang tidak biasa. Mungkin Dia berkehendak mendatangkan banjir bandang di Situ Gintung, mengirim tsunami dahsyat di Aceh, melongsorkan bukit di Mogol, menjatuhkan pesawat Adam Air di Menado, Garuda di Yogyakarta, dan Hercules di Magetan, menenggelamkan KM Mulia di Laut Jawa, meletuskan gunung, mengguncang pasar modal, menjatuhkan nilai tukar rupiah, melambungkan harga minyak, dan menciptakan ribuan faktor tak terduga lainnya. Tiba-tiba, semua sebab kejayaan itu berubah menjadi kabut suram yang tebal dan pekat. Sulit untuk melihat, di mana jalan menuju harapan yang masih tersisa?
Musibah mengajarkan agar kita kembali kepada Allah dan jangan pernah mengandalkan sebab. Musibah memberitahu kita, agar kembali merajuk di hadapan-Nya. Dengan kaki bersimpuh, lisan mengakui kesalahan, mulut berucap kalimat taubat, mata bercucuran menangisi kelalaian dan dosa, tangan menengadah, sambil mengumandangkan segenap permohonan kepada-Nya. Bukankah, Allah suka bila keadaan ini menjadi perhiasan dalam keseharian kita? Keadaan yang sering tidak terjadi pada saat kita dalam kondisi lapang?
Mudah bagi Allah untuk mengabulkan permohonan kita. Pun tidak sulit bagi Allah untuk memudahkan sebab-sebab terkabulnya permohonan kita. Dan yang terjadi kemudian, tiba-tiba Dia tunjukkan jalan keluar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tiba-tiba Dia mengubah musuh menjadi sahabat setia. Tiba-tiba datang rezeki besar dari arah yang tak disangka.
Musibah mengajarkan kepada kita, untuk jangan pernah merasa aman, sehingga kita lupa kepada Sang Pemberi Segala Karunia. Musibah mengajarkan, bahwa hanya Dia yang sepatutnya menjadi sandaran. Dalam setiap keadaan.
Inilah salah satu pelajaran dari datangnya musibah. Pelajaran berharga, yang sulit untuk benar-benar kita pahami dalam kondisi lapang. Pelajaran yang akan menjadikan kita bersyukur kepada-Nya, karena sepahit apa pun yang diberikan-Nya ternyata merupakan hal terbaik untuk kita. Karena Dia menyadarkan, bahwa semua adalah milik-Nya dan banyak kebaikan di luar yang kita sangka.

Iklan

DI MESIR SUAMI DIPUKULI ISTRI



Percaya atau tidak, 28% suami di Mesir sering menerima pukulan dari istri. Sedang alat yang dipakai untuk memukul adalah sandal. Ini sesuai dengan hasil survei yang dilakukan oleh Biro Statistik Nasional dan dipublikasikan oleh harian Asy-Syarqul Awsath. Diketahui, banyak dari para suami yang menjadi korban kekerasan rumah tangga ini tergolong kaum kaya. Nampaknya, istri yang selalu dimanjakan dengan uang dan belbagai fasilitas, terkadang lancang pada suami sehingga berani memukulnya dengan penuh emosi apabila suami membuatnya marah atau tidak mau mendengar ucapannya.
Sumber : Rumah Tanggaku Paling Bahagia, Muhammad Ahmad Isa, hal. 135, Wacana Ilmiah Press, Solo, Cet. I Februari 2009.

Post Navigation