SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

HARTA YANG SHALIH DI TANGAN LELAKI SHALIH


Kemarin saya baru membaca sinopsis dan daftar isi sebuah buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mumtaza. Buku unik ini menceritakan kisah-kisah para pengemis yang menjadi miliarder. Ada satu bagian dalam buku itu yang masih saya ingat. Di suatu kawasan di Pakistan, trik-trik menjadi “pengemis sukses” ditrainingkan. Karena masyarakat di sana menganggap bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih prospektif daripada mengemis. Tanpa modal dan resiko. Keuntungannya 100% dan bisa membuat mereka hidup mewah, dengan rumah mewah, kendaraan mewah, dan berbagai fasilitas mewah lain yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.
Begitulah, banyak cara untuk mendapatkan kekayaan. Tapi mengemis adalah salah satu cara yang tercela. Sebuah hadits menyebutkan, para peminta-minta yang kaya raya itu kelak di akhirat akan berjumpa dengan Allah, sedangkan wajah mereka hanyalah tulang tak berdaging. Uhh, ngeri membayangkannya.
Selain itu, masih banyak cara lain yang bisa menjadikan orang kaya raya, namun diharamkan. Korupsi, pungli, suap, riba, merampok, mencuri, dan menipu adalah beberapa contoh yang mudah dan sering kita temukan.
Masih ada cara meraih kekayaan yang terpuji dan halal. Cara itulah yang digunakan oleh orang-orang shalih yang kaya raya. Di tangan mereka tergenggam harta kekayaan yang shalih. Harta melimpah yang diperoleh dari usaha-usaha yang baik seperti bisnis, pertanian, profesi, dan cara lain yang halal dan dilakukan dengan cara-cara yang halal pula.
Di tangan orang-orang yang shalih, kekayaan merupakan sarana, bukan tujuan. Karena itu, peluang meraih kekayaan besar kadang-kadang ditinggalkan untuk kepentingan yang lebih besar. Kita tentu ingat, sikap fenomenal sahabat Nabi, Utsman bin Affan radhiyallahu `anhu, ketika di Madinah terjadi kelangkaan bahan pangan. Hampir semua pedagang saat itu kehabisan stok bahan makanan. Penduduk Madinah terancam kelaparan. Satu-satunya pedagang yang memiliki stok bahan makanan melimpah adalah Utsman bin Affan. Para pedagang pun berburu dagangan milik Utsman. Mereka menawarkan keuntungan berlipat-lipat untuk membeli dagangan tersebut. Namun, Utsman justru memilih menyedekahkan dagangannya.
Sungguh kontras jika kita membandingkan sikap Utsman bin Affan, dengan kondisi yang sering kita lihat sekarang. Banyak orang memburu kekayaan, tanpa peduli dari sumber yang halal ataukah haram. Tanpa peduli, dengan cara yang benar atau yang salah. Ketika terjadi kelangkaan pupuk, BBM, atau komoditas lain yang menjadi hajat orang banyak, kita justru membaca berita tentang orang-orang kaya yang menimbun barang. Mereka yang kaya itu ingin menambah kekayaannya meski membahayakan masyarakat banyak.

Iklan

Single Post Navigation

2 thoughts on “HARTA YANG SHALIH DI TANGAN LELAKI SHALIH

  1. Andy Setyawan on said:

    Ustadz, jangan cuma menyalahkan yang ngemis. Salahkan juga yang “ngasih”. Kan udah tahu kalo para pengemis itu ngemis bukan karena kelaparan, tapi karena itulah profesi dia. Justru kalo pengemis-pengemis ini dikasih malah memanjakan mental mereka, so anak keturunannya pun bakal dididik untuk jadi pengemis semua. Makanya, jadilah bangsa ini sarang pengemis. Kalo udah begini, ya yang “ngasih” juga salah dong. Udah turut melestarikan mental pengemis. hi hi hi

    • Tulisan ini dimaksudkan sekadar untuk memotret sebagian fakta menarik di sekitar kita, mungkin bisa menjadi bahan renungan dan pelajaran. Jadi, bukan untuk menyalah-nyalahkan, Mas Andi. Wah, gimana kalau antum nulis artikel, “jangan ngasih pengemis”? hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: