SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

KEBAIKAN MANA YANG BISA DIRAIH TANPA KESABARAN?


Ada dua jenis kesabaran. Satu kesabaran pasif. Yaitu kesabaran ketika Allah menetapkan suatu ketentuan atau nasib yang tidak menyenangkan. Saat Allah mencabut rasa aman dari kita, mengharuskan kita berlapar-lapar, income berkurang, badan sakit, atau ditinggal oleh orang yang kita cintai. Sebagian orang mengira, inilah satu-satunya kesabaran. Tidak ada kesabaran selain ini.
Yusuf as. adalah putra Ya`qub as. yang dianugerahi kelebihan dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Wajahnya tampan. Selain itu, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kelak ia akan mendapat anugerah besar seperti yang diperoleh kakeknya, Ishaq dan Ibrahim. Tentu wajar, Nabi Ya`ub sangat mencintai putranya yang satu ini.
Kecintaan Sang Ayah kepada Yusuf as. menimbulkan kecemburuan di kalangan saudara-saudaranya. Mereka merasa dianaktirikan. “Ayah terlalu mencintai Yusuf, melebihi cintanya kepada kita. Sungguh, ayah telah melakukan kekeliruan besar.” Demikian kata salah seorang dari mereka kepada yang lain. Rupanya, kecemburuan ini terus membara, sehingga membakar seluruh sifat-sifat baik mereka. Hingga akhirnya mereka bersekongkol untuk menentukan cara terbaik untuk menyingkirkan Yusuf dari pandangan Sang Ayah.
“Bunuh saja Yusuf, atau buang ke suatu tempat, agar Ayah tidak lagi melihat selain wajah kalian. Setelah itu, kita berusaha menjadi orang-orang saleh.”
“Jangan! Kita buang saja ia ke sebuah sumur di pinggir hutan. Biar suatu saat ada kafilah yang menemukannya.”
Singkatnya, Yusuf as. dibuang ke dalam sumur di pinggir hutan. Tentu setelah mendapat perlakuan kasar dari saudara-saudaranya. Saat berpamitan, saudara-saudaranya berebut menggendong Yusuf dan menunjukkan kepada sang ayah bahwa mereka begitu mengasihinya. Tapi, mereka menghilang dari pandangan Sang Ayah, Yusuf dilemparkan dan disakiti dengan berbagai cara, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam sumur. Inilah salah satu jenis kesabaran yang dialami Nabi Yusuf as. Bersabar menerima ketetapan Allah yang tidak disukai.
Kesabaran yang lain terjadi ketika ia harus berjuang menghadapi godaan istri pembesar Mesir yang sekaligus pengasuhnya sejak kecil. Wanita yang semasa ia kecil adalah yang memandikan dan menyuapinya makan. Ia dirayu untuk melakukan perbuatan zina, saat tuannya tidak di rumah. Jika tidak mau menurut, maka sang tuan putri mengancam akan membuatnya menyesal.
Situasi yang dihadapi Yusuf as. sungguh tidak mudah. Bagaimanapun, ia seorang pemuda lajang yang normal. Tentu ia punya perasaan tertarik kepada wanita sebagaimana umumnya para pemuda. Tuan putrinya pun terkenal sebagai wanita yang sangat cantik rupawan. Lelaki normal manakah yang tidak terpikat kepadanya. Situasi rumah yang sepi, sungguh merupakan godaan tersendiri. Ia seorang perantau di negeri Mesir, apa pun yang dilakukannya toh tidak akan diketahui oleh keluarganya. Lebih berat lagi, ia diancam jika tidak menuruti kemauan tuan putrinya.
Tapi, sebagaimana ia bersabar dalam musibah di sumur, kini ia harus bersabar dalam bentuk yang berbeda. Jika di sumur, ia tidak memiliki pilihan selain bersabar, tapi di sini ada pilihan lain. Kalau mau ia bisa mengikuti rayuan tuan putrinya. Pilihan kedua ini tentu lebih menyenangkan dalam banyak hal dan bisa menghindarkannya dari ancaman tuan putrinya. Tapi, ia memilih bersabar, menolak rayuan tuan putri dengan segala risikonya. Kesabarannya kali ini jauh lebih berat daripada kesabaran pertama. Dan tentu jauh lebih terpuji.
Apa pun kebaikan dalam hidup ini, pasti harus diperoleh dengan kesabaran. Kedermawanan adalah sifat terpuji. Tapi, menjadi seorang yang dermawan harus bersabar dengan berpindahnya sebagian rezeki dari tangan kita dan berkurangnya keinginan kita yang terpenuhi.
Berilmu adalah sifat terpuji. Allah dan manusia mencintai orang-orang berilmu. Tapi untuk menjadi seorang berilmu, Anda perlu bersabar dalam membaca, menghadiri taklim, membaca buku, datang ke perkuliahan, dan berbagai kesulitan lainnya.
Pemaaf adalah sifat yang terpuji. Untuk menjadi seorang pemaaf, Anda perlu bersabar terhadap sikap buruk orang lain, berlapang dada terhadap kesalahan mereka, dan membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik.
Setiap sifat terpuji dalam Islam, selalu mengandung ruh kesabaran. Karena itu, Nabi saw. pernah bersabda :
“Iman itu, separohnya adalah kesabaran.”

Iklan

Single Post Navigation

One thought on “KEBAIKAN MANA YANG BISA DIRAIH TANPA KESABARAN?

  1. betul sekali kebaikan harus di awali dengan kesabaran.. salam kenal yah semoga kita bisa saling kunjung..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: