SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

KELEMAHAN DEMOKRASI KITA


Dulu saya mengagumi para aktivis demokrasi. Mereka terlihat begitu gigih berjuang melawan penindasan di negeri ini. Khususnya di era Orde Baru yang terkenal sangat represif. Saat itu, saya menganggap mereka adalah pahlawan-pahlawan gagah berani yang patut mendapat acungan dua jempol.

Saat saya menulis artikel ini, negeri ini sedang bersiap menggelar perhelatan pesta demokrasi untuk memilih wakil rakyat di DPR pusat dan daerah, dan sesudah itu presiden dan wakil presiden. Wacana tentang demokrasi menyeruak di mana-mana. Saya mulai tertarik membaca atau menyaksikan berbagai diskusi tentang demokrasi. Dari situ, saya mulai menyadari ternyata demokrasi yang sudah dijalankan puluhan tahun di negeri ini, memiliki berbagai kelemahan fundamental.

Yang pertama, demokrasi yang diterapkan di negeri ini, baik di era Orde Lama, Orde Baru, maupun Reformasi, tidak memberi tempat bagi pelaksanaan syariah Islam di wilayah publik. Bila ada UU yang sedikit berbau syariah, terjadi penolakan, bahkan tekanan hebat dari berbagai pihak atas nama demokrasi. Maka, ketika dulu ada wacana pengesahan UU Sisdiknas dan UU anti pornografi, muncul berbagai demonstrasi untuk menolaknya. Hal serupa juga terjadi ketika kapolda Jawa Timur menghimbau agar para polwan yang beragama Islam mengenakan jilbab. Kesan yang timbul di benak saya, para demonstran itu hendak menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh memberi tempat bagi pelaksanaan syariah Islam. Bahkan, juga tidak bagi undang-undang yang sekadar berbau syariah Islam.

Jika ini benar, maka saya membayangkan betapa buruknya wajah demokrasi. Saya yakin, mayoritas penduduk negeri ini percaya bahwa negeri ini adalah karunia Allah. Kekayaan yang tumbuh dari tanahnya, tersimpan di perutnya, tersebar di hutannya, dan tersedia di lautannya, seluruhnya juga karunia Allah SWT. Dan syariah Islam ini diturunkan oleh Allah untuk melengkapi rahmat-Nya bagi kita. Lantas mengapa, demokrasi di negeri ini selalu memberi tempat leluasa bagi paham, budaya, perilaku, dan hukum apa pun yang kadang-kadang nyata membahayakan dan merugikan masyarakat, akan tetapi menutup pintu rapat-rapat bagi syariah? Tidakkah penduduk negeri ini tahu bahwa syariah merupakan faktor penting yang akan menjadikan kehidupan rakyat di negeri ini lebih makmur, sejahtera, diberkahi dan dirahmati Allah?

Seharusnya, 80% penduduk di negeri ini yang beragama Islam mengingat firman Allah :

โ€œAndaikata penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami limpahkan berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan. Maka, Kami menghukum mereka dikarenakan perbuatannya.โ€ (Al-A`raf [7] : 96)

Pemilu sebagai mekanisme memilih wakil rakyat atau pemimpin juga mengandung kelemahan fundamental. Mekanisme pemilu seperti yang berjalan sekarang, sulit diharapkan untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin terbaik. Hasil beberapa pemilu membuktikan kepada kita bahwa caleg dan capres pemenang pemilu sering tidak lebih baik daripada yang kalah.

Mengapa sulit menghasilkan pemimpin yang baik melalui mekanisme pemilu seperti sekarang?

Pertama, begitu banyaknya partai dan caleg yang ada membuat masyarakat sulit membuat penilaian yang akurat tentang siapakah calon terbaik yang patut mewakili mereka. Memang, mereka bisa melihat kopyah dan jilbab yang dikenakan caleg, senyumnya yang ramah, atau jargon simpatik yang ditulis di pamflet. Mereka juga bisa menghadiri kampanye-kampanye yang menggerakkan hati mereka untuk mengagumi dan akhirnya memilih. Tapi, tetap saja sebagian besar rakyat kesulitan menilai secara akurat calon yang dipilihnya. Banyak konstituen yang memilih hanya berdasarkan emosi saja. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak konstituen yang merasa salah pilih atau bahkan tertipu oleh caleg yang dipilihnya.

By the way, izinkan saya sedikit melebarkan pembicaraan. Berbicara soal tipu-menipu, saya punya pengalaman ditipu orang. (Hiks.. hiks.. Ah tidak. Saya tidak bermaksud mengajak Anda bersedih, tapi saya merasa perlu menceritakannya sekadar sebagai bahan pelajaran).

Pertama kali berkenalan dengan si penipu ini, saya mengiranya orang baik. Dalam beberapa hal bahkan saya merasa ia sangat baik dan luar biasa. Penampilannya ramah dan simpatik. Kelihaian bicaranya mengundang decak kagum. Ia sering terlihat bersama orang-orang yang saya yakini baik dan saya hormati. Sesekali saya juga melakukan perjalanan bersamanya, berkunjung ke rumahnya, serta berdiskusi dengannya dan melihat beberapa kebaikan pada dirinya.

Tapi, pada akhirnya, saya menyadari bahwa semua yang saya lihat sebagai kebaikan itu hanya bungkus dari keahliannya dalam hal menipu. Ya, saya kira dia seorang penipu profesional (Hehe, tentu dong! Kalau amatiran pasti ketahuan sejak awal. Betul?).

Setelah terbongkar kedoknya sebagai penipu, baru beberapa teman yang pernah bergaul dekat dengan orang ini bercerita sebenarnya mereka dulu sempat ingin mengingatkan saya. Tapi sungkan. Khawatir disangka menyebar fitnah. Nah! Rumit kan?

Adapun yang akan saya garis bawahi di sini, jika orang yang kita kenal cukup lama saja bisa menipu, bagaimana dengan orang-orang yang hanya kita kenal melalui poster, iklan televisi, dan kampanye?

Masalah lain yang menyebabkan pemilu sulit menghasilkan pemimpin terbaik adalah karena dominannya faktor uang dan popularitas dalam mengantarkan seorang caleg memenangkan pemilu. Jangan bilang biaya kampanye itu sedikit. Seorang kawan saya konon mengeluarkan dana ratusan juta untuk menjadi caleg DPRD tingkat II. Adapun soal popularitas, Anda pun pasti mafhum bahwa popularitas merupakan modal penting memenangkan pemilu. Karena itu, banyak parpol yang menempatkan artis atau selebritis sebagai vote getter atau calegnya. Maraknya survei tentang popularitas parpol atau calon juga menjadi bukti betapa banyak orang menyadari pentingnya faktor popularitas untuk memenangi pemilu.

Masalahnya, apakah uang dan popularitas selalu berbanding lurus dengan kualitas?

Sama sekali tidak! Banyak calon yang memiliki kualifikasi lebih baik tetapi kalah kaya dan populer. Sejarah banyak berkisah tentang pahlawan-pahlawan hebat yang bahkan kita tidak tahu siapa namanya. Allah pun mencintai hamba-Nya yang bertakwa, meski tidak populer.

Jadi, saya rasa, itulah dua kelemahan fundamental dalam demokrasi yang diterapkan di negeri ini. Tidak memberi tempat bagi pelaksanaan syariah dan tidak bisa menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Mungkinkah hal ini diperbaiki? Bagaimana? Wallahu a’lam.

Iklan

Single Post Navigation

11 thoughts on “KELEMAHAN DEMOKRASI KITA

  1. wa alaikum salam, Ad! Terima kasih sudah beri koment.

  2. Assalamualaikum….
    Hi,,salam knal ya….
    hmmm,,,artikelnya mnurut sya sngat bagus….tpi sya pnya sdikit komentar tntang tlisan anda….

    di akhir tulisan anda mngatakan bahwa”siapakah yg akan memprbaiki.”….
    menurut apa yg tlah sya dpatkan,bahwa sistem di indonesia ini tdak bsa diperbaiki lgi,,…analoginya,,sistem di indonesia ini sperti rumah yg telah tua, lapuk dan bnyak bocornya,,jika mw diperbaiki maka usaha itu hanya seperti menambal lubang2 yg ada,,sementara rumah trsbt tetap sja lapuk….jadi,jika diperhatikan,sistem diindonesia ini lama2 akan hancur jga,sperti analogi tdi….

    Ini sesuai dgn QS 7/34,,bahwa tiap2 umat pasti ada batas waktuny…… smoga apa yg sy tlis ini bsa membuka wawasan kita…Amiiinnn…..

  3. @ Sis Yenny : oh, ya. Terima kasih tautan URLnya. Saya agak merinding juga melihat klip tsb. Sayang, saya nggak bisa download lengkap.

  4. Dalam pikiran saya, orang memilih demokrasi karena melihat betapa sengsaranya ketika seorang pemimpin pemerintahan diberi kekuasaan mutlak. Dulu, hanya raja yang memiliki kekuasaan mutlak seperti itu. Tapi, pengalaman menunjukkan, seorang presiden yang dipilih rakyat pun bisa memiliki kekuasaan nyaris mutlak pula. Ia banyak menggunakan kekuasaan mutlak itu untuk memuaskan ambisi pribadi dengan mengorbankan dan menzalimi rakyat.
    Dalam demokrasi pemimpin dipilih oleh rakyat. Aturan bernegara dibuat pula oleh orang-orang yang `dianggapโ€™ mewakili rakyat. Sehingga, diharapkan kepentingan rakyat bisa terjaga.
    Sejak 1945 kita terapkan demokrasi dengan berbagai modelnya, namun hasilnya masih sangat menyedihkan. Rasanya keadaan kita tidak lebih baik dari Brunei yang menggunakan sistem kesultanan, Saudi yang menggunakan sistem kerajaan, atau Malaysia yang menerapkan sistem demokrasi yang berbeda dari kita. Rasanya tidak percaya, bahwa kita merdeka sudah hampir 64 tahun. Jangankan mensejahterakan rakyat di pulau-pulai terpencil, di ibukota saja banyak rakyat hidup menderita. Jangankan membangun desa, jalan raya antar provinsi saja berlobang-lobang sebesar kolam lele.
    Hehe, saya jadi ingin meluapkan kekesalan ni. Setiap kali berkendaraan melalui jalur Brebes-Cirebon atau Cilacap-Ciamis, rasanya seperti naik kapal dengan ombak yang terus menghempas. Sudah terlalu banyak ban kendaraan yang menjadi korban, dimakan jalan raya berlobang di jalur antar provinsi tersebut. Apakah para wakil rakyat dan pemimpin tidak malu, melihat kondisi jalan seperti itu? Atau mereka memang tidak pernah bepergian melalui jalur darat? Kepentingan rakyat mana yang telah mereka perjuangkan selama ini? Maaf, bukan saya mau menafikan, tapi berapa ribu orang sehari yang melihat jalan-jalan berlobang itu? Berapa puluh kendaraan yang setiap hari menjadi korban?
    Kembali soal demokrasi atau bukan, saya berpendapat, kekuasaan manusia harus dibatasi. Kekuasaan presiden harus dibatasi. Kekuasaan anggota legislatif harus dibatasi. Kekuasaan rakyat pun harus dibatasi. Silakan presiden memerintah, lembaga legislatif membuat undang-undang, rakyat menuntut. Namun, selama semuanya muslim, kekuasaan dan wewenang mereka dibatasi oleh kekuasaan dan wewenang Allah.
    Itu pendapat saya. Kekuasaan hampir sama dengan kepemilikan. Kepemilikan kita terhadap sesuatu dibatasi oleh kepemilikan Allah yang mutlak. Kita boleh mengelola apa yang kita miliki dalam batas-batas yang diizinkan oleh Allah. Karena kita mengaku muslim. Karena kita harus konsekuen dengan pengakuan Islam kita.

  5. @bro hawin
    Sulit mencari sebuah ketulusan di tengah “debu” yang senantiasa menutupi mata hati manusia. Tetapi saya yakin, suatu hari nanti, akan ada orang-orang yang hadir dengan sebuah kejujuran dan niatan baik untuk membenahi moralitas masyarakat ini. Yang penting adalah, bagaimana setiap individu menjaga masing2 nuraninya dan nurani orang2 di sektarnya agar tetap menjaga kefitrahannya…

    Tentang anak2 prodem….hmmm….lebih militan anak2 masjid deh kayaknya ๐Ÿ˜€

    Btw, kebetulan banget pas saya berkunjung ke blog seorang teman…dia punya klip tragedi ’98 dengan backsound nya syair dia atas. Ini URL nya…
    http://zaldym.wordpress.com/2009/04/07/revolusi-sampai-mati-darah-juang/

    @Ummu Salamah
    Semoga kita tidak terjebak pada istilah dan “cover”
    Bukankah konsep demokrasi itu juga diajarkan oleh Rasulullah? Hanya saja, implementasi demokrasi yang saat ini telah terjadi penyimpangan2 dan monopoli atas nama kepentingan modal. Bukan demokrasinya yang salah, ukhti…tetapi orang2nya… ๐Ÿ™‚

    Jika ummu salamah ada waktu, coba baca Sirah Nabawiyah keluaran Rabithah Alam Islamy. Yang nulis Syaikh Shafiyyur Rahman.

    Afwan sebelumnya jika ad ayang tak berkenan ๐Ÿ™‚

  6. ummu salamah on said:

    Demokrasi itu sistem kufur…. dasarnya kapitalis… yang penting duit…. Demokrasi tu… yang ada rakyat di kibulin…Ah….. kalo milih pejabat di sistem kayak gini …parah…

    mau nggak salah pilih… Sistemnya ganti dengan Sistem Islam, yang kaffah…. ini pokok2 dalam Sistem Islam.

    Pejabat negara berkewajiban memenuhi kebutuhan hidup seluruh rakyat yaitu:
    Sandang, Pangan, Kesehatan gratis, Pendidikan Gratis, Lapangan kerja yang halal, Makanan yang halalan toyiban, Obat-obatan yang halalan toyiban.

    Nah dengan dasar Sistem Islam ini baru rakyat bisa sejahtera baik muslim, ato non muslim

    Sistem demokrasi…mmh Parah… gak.. aja..deh…

  7. he..he.. ada sedikit bisnis sis. Tidak pernah saya mempercayai orang untuk beberapa pekerjaan penting seperti kpd dia. Ternyata, saya masih terlalu lugu soal dunia tipu-menipu. Apa benar, dunia politik penuh dengan intrik dan tipu daya? Melebihi dunia bisnis?
    Terima kasih tambahannya, sis. Saya makin tahu betapa militannya para aktivis prodem itu. Orang-orang lemah memang selalu membutuhkan pembelaan. Namun, rasanya jarang saya menemukan pembelaan yang tulus. Yang sering terlihat mereka disanjung saat dibutuhkan. Seperti dalam pemilu.

  8. Ngomong2…temen antum yang nipu itu…nipu pa, bro?
    Jadi takut … ๐Ÿ˜€

    Agak Out of Topic, menyinggung paragraph pertama tulisan Anda yang berbicara tentang gerakan mahasiswa…cuma mau menambahkan bahwa di era 90-an, gerakan mahasiswa dengan pola yang massif dalam melakukan kontrol terhadap rejim Soeharti, tidak lagi menjadi monopoli rekan2 Prodem (Pro Demokrasi). Muncul sekelompok anak2 muda yang berbasis gerakan religi (dakwah) yang pada akhirnya mengawali sebuah gerakan sistematis untuk menjatuhkan Soeharto tahun ’98.

    Meski saya akui, militansi kedu akelompok tersebut sama2 luarbiasa…tetapi ada jurang ideologi yang sangat besar antara keduanya…nah saya yakin bro Hawin lebih tahu itu ๐Ÿ™‚

    Salah satu yang masih membekas dari interaksi saya dengan rekan2 Pro Demokrasi (jaman kuliah….) adalah lagu bikinan mereka yang bikin saya merinding sampai sekarang…

    “Di sini negeri kami….
    Tempat padi terhampar
    Samuderanya kaya raya
    Negeri kami subur, Tuhan…..”

    “Di sini negeri kami…
    Berjuta rakyat bersimbah luka
    Anak kecil tak sekolah
    Pemuda desa tak kerja…”

    “Mereka dirampas haknya
    Tergusur dan lapar
    Bunda relakan DARAH JUANG kami
    Untuk bebaskan negeri ini….”
    …..

    Nampaknya syair tersebut masih relevan hingga kini ya, bro…

  9. setuju… ๐Ÿ™‚ makanya dakwah harus digencarkan ya Pak? agar cuman islam yang jadi pilihan ๐Ÿ™‚

  10. agak rskan bila kita menyederhanakan demokrasi hanya daam konteks pemilu. naskah ini harusnya bisa lebih jitu.. salam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: