SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

SAMPAI KAPAN PERTIKAIAN INI ?


Gejala kebangkitan Islam semakin hari semakin kita rasakan. Tanda-tandanya setiap hari kita saksikan. Berita gembira setiap hari kita dengar tentang masyarakat kita yang kembali kepada ajaran Islam dan meramaikan dakwah Islam.
Saya merindukan satu hal, yang barangkali untuk melihatnya masih diperlukan perjuangan dan waktu panjang. Yaitu bersatunya umat Islam di atas jalan petunjuk ini. Well, saya sering mendengar ungkapan kerinduan seperti itu. Saya sering melihat upaya-upaya yang dilakukan para dai untuk merajut persatuan umat ini. Dan sudah sering ayat-ayat dibacakan agar mendorong “khoiru ummah” ini bersatu. Tapi, kenyataan berbicara bahwa perjuangan untuk itu masih panjang. Saling menyakiti, menghujat, memaki, membodohkan, menyesatkan, masih belum berhenti.
Saat cahaya Islam datang, kehidupan masyarakat Islam generasi pertama disinari oleh petunjuk yang berhasil menautkan hati dan menyatukan kata. Mereka menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara yang saling membahu dalam kebajikan dan takwa. Luka pada sebagian orang dirasa sakit oleh seluruhnya. Kebahagiaan pada salah satu merupakan kegembiraan bagi seluruhnya pula. Yang kuat melindungi yang lemah, yang kaya menyantuni yang miskin, dan yang berilmu mengajari yang bodoh. Itulah satu nikmat, yang suatu saat pasti akan dirasakan oleh umat ini ketika mereka telah kembali kepada ajaran ilahi. Semoga tidak terlalu lama, sehingga kita bisa menyaksikannya.
Perbedaan pandangan, kadang memang memicu perselisihan kata dan perselisihan hati. Namun, lihatlah bagaimana Nabi dan para sahabat menyikapi perbedaan pandangan. Suatu ketika beliau menginstruksikan kepada kaum muslimin untuk berangkat ke perkampungan Bani Quraidhah. Beliau bersabda,
“Jangan ada seorang pun di antara kalian yang shalat Ashar, kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para sahabat sama-sama mendengar sabda Nabi saw. ini. Sebagian memahaminya secara tekstual, bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak boleh shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah. Namun, sebagian sahabat memahami bahwa sabda Nabi saw. ini merupakan instruksi untuk mempercepat perjalanan ke perkampungan Bani Quraidhah, sehingga mereka bisa sampai di sana pada waktu Ashar dan bisa melaksanakan shalat Ashar pada waktunya. Kenyataannya, waktu Ashar hampir habis, sementara mereka belum tiba di perkampungan Bani Quraidhah. Maka, sebagian sahabat segera melaksanakan shalat Ashar, karena mengikuti dalil-dalil yang mengharuskan pelaksanaan shalat pada waktunya. Sementara sebagian lain menunda shalat hingga tiba di perkampungan Bani Quraidhah berdasarkan makna tekstual sabda Nabi saw. yang baru mereka dengar.
Saudaraku, bukankah shalat Ashar adalah shalat Wustho, di mana Allah memerintahkan kita untuk memelihara pelaksanaannya? Bukankah masalah menunda shalat hingga melewati batas waktunya adalah persoalan besar? Tapi, bagaimana bila kaum muslimin berbeda pendapat dalam masalah ini karena perbedaan dalam menafsiri sabda Nabi seperti di atas? Apakah yang shalat Ashar sebelum tiba di kampung Bani Quraidhah sesat dan durhaka kepada Nabi? Ataukah yang shalat Ashar setiba di perkampungan Bani Quraidhah yang sesat, karena telah menunda pelaksanaan shalat Ashar hingga memasuki waktu Maghrib?
Tidak, saudaraku! Rasul tidak menyalahkan sahabat yang ini atau itu. Karena mereka sama-sama berijtihad. Dan dalam berijtihad, mereka memiliki banyak kesamaan. Sama-sama ingin taat kepada Rasul. Sama-sama ingin mengikuti dalil yang mereka yakini kebenarannya. Dan sama-sama mengetahui bahwa kadang-kadang pemahaman, ucapan, dan tindakan mereka bisa keliru, sehingga tidak saling menyalahkan. Jadi, apa yang mereka sepakati ternyata lebih banyak daripada yang mereka perselisihkan.
Apakah perselisihan kita selama ini lebih besar dari itu? Perlukah kita saling memaki dan memvonis sesat kepada saudara-saudara kita?

Iklan

Single Post Navigation

2 thoughts on “SAMPAI KAPAN PERTIKAIAN INI ?

  1. Salam kenal juga. Makasih sudah melawat dan komentar di blog saya

  2. hmcahyo on said:

    saya baru baca buku Yusuf Qardhawi Tentang FATWA … wah saya jadi tahu kalo bnyak aktivis yang ngawur memberi fatwa padahal kapabilitasnya jauuuuuuh 😦

    salam kenal pak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: