SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Maret, 2009”

KEBAIKAN MANA YANG BISA DIRAIH TANPA KESABARAN?


Ada dua jenis kesabaran. Satu kesabaran pasif. Yaitu kesabaran ketika Allah menetapkan suatu ketentuan atau nasib yang tidak menyenangkan. Saat Allah mencabut rasa aman dari kita, mengharuskan kita berlapar-lapar, income berkurang, badan sakit, atau ditinggal oleh orang yang kita cintai. Sebagian orang mengira, inilah satu-satunya kesabaran. Tidak ada kesabaran selain ini.
Yusuf as. adalah putra Ya`qub as. yang dianugerahi kelebihan dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Wajahnya tampan. Selain itu, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kelak ia akan mendapat anugerah besar seperti yang diperoleh kakeknya, Ishaq dan Ibrahim. Tentu wajar, Nabi Ya`ub sangat mencintai putranya yang satu ini.
Kecintaan Sang Ayah kepada Yusuf as. menimbulkan kecemburuan di kalangan saudara-saudaranya. Mereka merasa dianaktirikan. “Ayah terlalu mencintai Yusuf, melebihi cintanya kepada kita. Sungguh, ayah telah melakukan kekeliruan besar.” Demikian kata salah seorang dari mereka kepada yang lain. Rupanya, kecemburuan ini terus membara, sehingga membakar seluruh sifat-sifat baik mereka. Hingga akhirnya mereka bersekongkol untuk menentukan cara terbaik untuk menyingkirkan Yusuf dari pandangan Sang Ayah.
“Bunuh saja Yusuf, atau buang ke suatu tempat, agar Ayah tidak lagi melihat selain wajah kalian. Setelah itu, kita berusaha menjadi orang-orang saleh.”
“Jangan! Kita buang saja ia ke sebuah sumur di pinggir hutan. Biar suatu saat ada kafilah yang menemukannya.”
Singkatnya, Yusuf as. dibuang ke dalam sumur di pinggir hutan. Tentu setelah mendapat perlakuan kasar dari saudara-saudaranya. Saat berpamitan, saudara-saudaranya berebut menggendong Yusuf dan menunjukkan kepada sang ayah bahwa mereka begitu mengasihinya. Tapi, mereka menghilang dari pandangan Sang Ayah, Yusuf dilemparkan dan disakiti dengan berbagai cara, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam sumur. Inilah salah satu jenis kesabaran yang dialami Nabi Yusuf as. Bersabar menerima ketetapan Allah yang tidak disukai.
Kesabaran yang lain terjadi ketika ia harus berjuang menghadapi godaan istri pembesar Mesir yang sekaligus pengasuhnya sejak kecil. Wanita yang semasa ia kecil adalah yang memandikan dan menyuapinya makan. Ia dirayu untuk melakukan perbuatan zina, saat tuannya tidak di rumah. Jika tidak mau menurut, maka sang tuan putri mengancam akan membuatnya menyesal.
Situasi yang dihadapi Yusuf as. sungguh tidak mudah. Bagaimanapun, ia seorang pemuda lajang yang normal. Tentu ia punya perasaan tertarik kepada wanita sebagaimana umumnya para pemuda. Tuan putrinya pun terkenal sebagai wanita yang sangat cantik rupawan. Lelaki normal manakah yang tidak terpikat kepadanya. Situasi rumah yang sepi, sungguh merupakan godaan tersendiri. Ia seorang perantau di negeri Mesir, apa pun yang dilakukannya toh tidak akan diketahui oleh keluarganya. Lebih berat lagi, ia diancam jika tidak menuruti kemauan tuan putrinya.
Tapi, sebagaimana ia bersabar dalam musibah di sumur, kini ia harus bersabar dalam bentuk yang berbeda. Jika di sumur, ia tidak memiliki pilihan selain bersabar, tapi di sini ada pilihan lain. Kalau mau ia bisa mengikuti rayuan tuan putrinya. Pilihan kedua ini tentu lebih menyenangkan dalam banyak hal dan bisa menghindarkannya dari ancaman tuan putrinya. Tapi, ia memilih bersabar, menolak rayuan tuan putri dengan segala risikonya. Kesabarannya kali ini jauh lebih berat daripada kesabaran pertama. Dan tentu jauh lebih terpuji.
Apa pun kebaikan dalam hidup ini, pasti harus diperoleh dengan kesabaran. Kedermawanan adalah sifat terpuji. Tapi, menjadi seorang yang dermawan harus bersabar dengan berpindahnya sebagian rezeki dari tangan kita dan berkurangnya keinginan kita yang terpenuhi.
Berilmu adalah sifat terpuji. Allah dan manusia mencintai orang-orang berilmu. Tapi untuk menjadi seorang berilmu, Anda perlu bersabar dalam membaca, menghadiri taklim, membaca buku, datang ke perkuliahan, dan berbagai kesulitan lainnya.
Pemaaf adalah sifat yang terpuji. Untuk menjadi seorang pemaaf, Anda perlu bersabar terhadap sikap buruk orang lain, berlapang dada terhadap kesalahan mereka, dan membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik.
Setiap sifat terpuji dalam Islam, selalu mengandung ruh kesabaran. Karena itu, Nabi saw. pernah bersabda :
“Iman itu, separohnya adalah kesabaran.”

Iklan

KELEMAHAN DEMOKRASI KITA


Dulu saya mengagumi para aktivis demokrasi. Mereka terlihat begitu gigih berjuang melawan penindasan di negeri ini. Khususnya di era Orde Baru yang terkenal sangat represif. Saat itu, saya menganggap mereka adalah pahlawan-pahlawan gagah berani yang patut mendapat acungan dua jempol.

Saat saya menulis artikel ini, negeri ini sedang bersiap menggelar perhelatan pesta demokrasi untuk memilih wakil rakyat di DPR pusat dan daerah, dan sesudah itu presiden dan wakil presiden. Wacana tentang demokrasi menyeruak di mana-mana. Saya mulai tertarik membaca atau menyaksikan berbagai diskusi tentang demokrasi. Dari situ, saya mulai menyadari ternyata demokrasi yang sudah dijalankan puluhan tahun di negeri ini, memiliki berbagai kelemahan fundamental.

Yang pertama, demokrasi yang diterapkan di negeri ini, baik di era Orde Lama, Orde Baru, maupun Reformasi, tidak memberi tempat bagi pelaksanaan syariah Islam di wilayah publik. Bila ada UU yang sedikit berbau syariah, terjadi penolakan, bahkan tekanan hebat dari berbagai pihak atas nama demokrasi. Maka, ketika dulu ada wacana pengesahan UU Sisdiknas dan UU anti pornografi, muncul berbagai demonstrasi untuk menolaknya. Hal serupa juga terjadi ketika kapolda Jawa Timur menghimbau agar para polwan yang beragama Islam mengenakan jilbab. Kesan yang timbul di benak saya, para demonstran itu hendak menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh memberi tempat bagi pelaksanaan syariah Islam. Bahkan, juga tidak bagi undang-undang yang sekadar berbau syariah Islam.

Jika ini benar, maka saya membayangkan betapa buruknya wajah demokrasi. Saya yakin, mayoritas penduduk negeri ini percaya bahwa negeri ini adalah karunia Allah. Kekayaan yang tumbuh dari tanahnya, tersimpan di perutnya, tersebar di hutannya, dan tersedia di lautannya, seluruhnya juga karunia Allah SWT. Dan syariah Islam ini diturunkan oleh Allah untuk melengkapi rahmat-Nya bagi kita. Lantas mengapa, demokrasi di negeri ini selalu memberi tempat leluasa bagi paham, budaya, perilaku, dan hukum apa pun yang kadang-kadang nyata membahayakan dan merugikan masyarakat, akan tetapi menutup pintu rapat-rapat bagi syariah? Tidakkah penduduk negeri ini tahu bahwa syariah merupakan faktor penting yang akan menjadikan kehidupan rakyat di negeri ini lebih makmur, sejahtera, diberkahi dan dirahmati Allah?

Seharusnya, 80% penduduk di negeri ini yang beragama Islam mengingat firman Allah :

“Andaikata penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami limpahkan berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan. Maka, Kami menghukum mereka dikarenakan perbuatannya.” (Al-A`raf [7] : 96)

Pemilu sebagai mekanisme memilih wakil rakyat atau pemimpin juga mengandung kelemahan fundamental. Mekanisme pemilu seperti yang berjalan sekarang, sulit diharapkan untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin terbaik. Hasil beberapa pemilu membuktikan kepada kita bahwa caleg dan capres pemenang pemilu sering tidak lebih baik daripada yang kalah.

Mengapa sulit menghasilkan pemimpin yang baik melalui mekanisme pemilu seperti sekarang?

Pertama, begitu banyaknya partai dan caleg yang ada membuat masyarakat sulit membuat penilaian yang akurat tentang siapakah calon terbaik yang patut mewakili mereka. Memang, mereka bisa melihat kopyah dan jilbab yang dikenakan caleg, senyumnya yang ramah, atau jargon simpatik yang ditulis di pamflet. Mereka juga bisa menghadiri kampanye-kampanye yang menggerakkan hati mereka untuk mengagumi dan akhirnya memilih. Tapi, tetap saja sebagian besar rakyat kesulitan menilai secara akurat calon yang dipilihnya. Banyak konstituen yang memilih hanya berdasarkan emosi saja. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak konstituen yang merasa salah pilih atau bahkan tertipu oleh caleg yang dipilihnya.

By the way, izinkan saya sedikit melebarkan pembicaraan. Berbicara soal tipu-menipu, saya punya pengalaman ditipu orang. (Hiks.. hiks.. Ah tidak. Saya tidak bermaksud mengajak Anda bersedih, tapi saya merasa perlu menceritakannya sekadar sebagai bahan pelajaran).

Pertama kali berkenalan dengan si penipu ini, saya mengiranya orang baik. Dalam beberapa hal bahkan saya merasa ia sangat baik dan luar biasa. Penampilannya ramah dan simpatik. Kelihaian bicaranya mengundang decak kagum. Ia sering terlihat bersama orang-orang yang saya yakini baik dan saya hormati. Sesekali saya juga melakukan perjalanan bersamanya, berkunjung ke rumahnya, serta berdiskusi dengannya dan melihat beberapa kebaikan pada dirinya.

Tapi, pada akhirnya, saya menyadari bahwa semua yang saya lihat sebagai kebaikan itu hanya bungkus dari keahliannya dalam hal menipu. Ya, saya kira dia seorang penipu profesional (Hehe, tentu dong! Kalau amatiran pasti ketahuan sejak awal. Betul?).

Setelah terbongkar kedoknya sebagai penipu, baru beberapa teman yang pernah bergaul dekat dengan orang ini bercerita sebenarnya mereka dulu sempat ingin mengingatkan saya. Tapi sungkan. Khawatir disangka menyebar fitnah. Nah! Rumit kan?

Adapun yang akan saya garis bawahi di sini, jika orang yang kita kenal cukup lama saja bisa menipu, bagaimana dengan orang-orang yang hanya kita kenal melalui poster, iklan televisi, dan kampanye?

Masalah lain yang menyebabkan pemilu sulit menghasilkan pemimpin terbaik adalah karena dominannya faktor uang dan popularitas dalam mengantarkan seorang caleg memenangkan pemilu. Jangan bilang biaya kampanye itu sedikit. Seorang kawan saya konon mengeluarkan dana ratusan juta untuk menjadi caleg DPRD tingkat II. Adapun soal popularitas, Anda pun pasti mafhum bahwa popularitas merupakan modal penting memenangkan pemilu. Karena itu, banyak parpol yang menempatkan artis atau selebritis sebagai vote getter atau calegnya. Maraknya survei tentang popularitas parpol atau calon juga menjadi bukti betapa banyak orang menyadari pentingnya faktor popularitas untuk memenangi pemilu.

Masalahnya, apakah uang dan popularitas selalu berbanding lurus dengan kualitas?

Sama sekali tidak! Banyak calon yang memiliki kualifikasi lebih baik tetapi kalah kaya dan populer. Sejarah banyak berkisah tentang pahlawan-pahlawan hebat yang bahkan kita tidak tahu siapa namanya. Allah pun mencintai hamba-Nya yang bertakwa, meski tidak populer.

Jadi, saya rasa, itulah dua kelemahan fundamental dalam demokrasi yang diterapkan di negeri ini. Tidak memberi tempat bagi pelaksanaan syariah dan tidak bisa menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Mungkinkah hal ini diperbaiki? Bagaimana? Wallahu a’lam.

MUSIBAH ADALAH KEBAIKAN


Setiap musibah tentu membawa kepedihan. Mungkin membuat Anda menangis berurai air mata atau menjerit di dalam hati.
Tapi, Anda perlu tahu, musibah datang bukan hanya dengan kepedihan. Banyak kebaikan yang mungkin akan diperoleh seseorang yang ditimpa suatu musibah.
Salah satu kebaikan yang dibawa musibah adalah revitalisasi kesadaran. Yaitu kesadaran bahwa hidup memang tidak sepenuhnya indah. Seperti langit yang tak selalu cerah. Dengan demikian, seseorang akan terbiasa memiliki mental kesabaran. Kesabaran untuk menghadapi musibah yang sudah menimpa maupun yang boleh jadi menimpa di masa yang akan datang.
Jika musibah itu terkait dengan sakit yang menimpa ayah, ibu, saudara, istri, suami, atau anak maka ia menjadi sarana untuk belajar berempati. Dari situ Anda bisa merasakan apa yang dirasakannya. Anda akan terdorong melakukan sesuatu untuk meringankan deritanya. Mengantarnya ke dokter jika sakit. Mendukungnya jika lemah. Membelai rambut, memeluk, atau menciumnya. Anda akan menunjukkan betapa berharganya dia bagi Anda. Sebaliknya, ia akan sadar bahwa ternyata ia memiliki orang lain yang memperhatikan, menyayangi, dan siap membantu menghadapi kesulitannya.
Lebih dari semua itu, musibah menjadi ujian bagi setiap orang beriman, agar Allah mengetahui hamba-Nya yang layak mendapat pahala kesabaran. Pahala kesabaran ini sungguh besar. Sangat besar. Tidak terbatas. Maka, apa salahnya jika seorang hamba menempuh “sedikit kesulitan” dan “secuil kepedihan” untuk meraih anugerah Allah yang lebih besar?
Maka orang yang menimpakan musibah bukan berarti menimpakan keburukan kepada Anda. Saya teringat pada sirah yang mengisahkan beredarnya haditsul ifki, yaitu berita bohong yang terkait dengan ummul mukminin Aisyah ra, pada bulan Sya`ban 5 H, sepulang kaum muslimin dari Perang Bani Mushtaliq. Sulit menggambarkan betapa hebatnya guncangan dalam masyarakat muslim di Madinah akibat beredarnya berita bohong itu. Ummul Mukminin Aisyah ra. sampai jatuh sakit. Nabi saw. pun tidak mampu berkomentar hingga Allah menurunkan langsung ayat yang menyatakan ummul mukminin bersih dari dosa yang dituduhkan. Yang perlu saya garis bawahi, adalah firman Allah mengenai orang-orang yang telah berperan besar dalam penyebaran berita bohong itu :
“Sesungguhnya, orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah `golongan kamu’ juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah `baik bagimu’.” (An-Nur [24]: 11)
Jika musibah yang demikian dahsyat disebut sebagai kebaikan, bagaimana pula dengan musibah-musibah kecil lainnya yang menjadi sarana terampunnya dosa dan bertambahnya pundi-pundi pahala? Tentu, musibah itu baik bagi orang-orang yang beriman.

Post Navigation