SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

BOCAH-BOCAH GAZA


Oleh : Fida Madhun

Jet-jet tempur Israel belum berhenti menghujani bom, sejak beberapa jam tadi. Setiap ada bom jatuh di lokasi tidak jauh, rumah ini beserta seluruh penghuninya berguncang hebat. Di antara mereka anak-anak. Keponakanku Lami 6 tahun dan Muhsin 4 tahun terbangun. Setiap kali mendengar suara ledakan, mereka berkata : “Kami tidak takut, karena kami lebih kuat dan Allah bersama kami.”
Namun, ledakan-ledakan itu terdengar sangat keras dan bertubi-tubi, terlebih bagi kami yang tinggal di kawasan pantai Gaza, tidak mengizinkan siapa pun di antara kami, dewasa maupun anak-anak, untuk memejamkan mata.
***
Malam tadi sungguh mencekam. Pagi hari ini, aku memutuskan akan menemani Mushin atau Hasun –demikian panggilan kesayangan kami untuknya- dan Lami untuk membeli beberapa kebutuhan dan mencari udara yang berbeda dari kejamnya udara malam yang baru saja kami rasakan.
Aku berusaha meyakinkan mama mereka yang mencemaskan keluarnya mereka ke jalan-jalan Gaza yang masih menjadi sasaran jet-jet tempur penjajah Israel. Tiba-tiba Hasun mengagetkan mamanya dengan kata-kata, “Mama, jangan takut! Jika kami mati, kami akan ke surga!”
Mamanya tersenyum, menuruti ucapannya, dan meminta waktu sebentar untuk mengganti pakaian mereka.
Hasun dan Lami sangat gembira. Mereka membuka pintu rumah sambil menggandeng tanganku. Mereka berjalan di jalan raya sambil menoleh ke kanan ke kiri dan mengomentari apa yang mereka saksikan di sepanjang jalan. Tiba-tiba, Lami berhenti dan meletakkan tangan di mulutnya. Dengan setengah terkejut ia bertanya kepadaku : “Bibi, rumah Farah sahabatku dibom?” Sambil menunjuk kepada sebuah rumah di samping kantor kepolisan di wilayah yang dihancurkan.
Aku menenangkan hatinya. Kukatakan kepadanya, sekarang Farah pasti sedang bermain dengan teman-temannya. Pemboman itu tidak menyisakan rumahnya.
Kami melanjutkan perjalanan. Aku mencoba menyelidik mata orang-orang yang berlalu di jalan raya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Tidak kutemukan selain wajah-wajah tegar, tangguh, dan sabar. Anda bisa melihat itu dari anak-anak yang bermain dan bercanda, sorot mata kaum wanita, duduk para orang tua, dan ketegaran para pria.
Aku mengambil foto beberapa kejadian yang kusaksikan di antara gang-gang dan jalan-jalan Gaza, tapi kebanyakan sudah kuhapus setelah kami dihentikan oleh seorang polisi berpakaian sipil. Ia meminta maaf dan menyarankan untuk menghapus foto-foto itu karena alasan keamanan. Jangan ada foto-foto di antara gang-gang dan jalan-jalan Gaza di tengah peperangan. Setiap foto mungkin akan memberikan petunjuk kepada pasukan penjajah.
Aku menghargai sudut pandangnya. Aku serahkan kameraku kepadanya agar ia menghapus foto-foto yang dikehendakinya. Dia lebih tahu daripada aku.
Kami melanjutkan perjalanan. Hasun dan Lami minta dibelikan beberapa keperluan dari toko kelontong. Tentu saja aku turuti keinginan mereka. Ketika kami dalam perjalanan pulang, tiba-tiba telepon genggamku berbunyi keras dengan nada dering yang keras : “Pergilah perampok, jangan usik ketenangan Gaza Jabaroh!”
Sebelum aku mengangkat telepon, tiba-tiba Hasun bertanya, “Bibi, apa maksudnya Gaza Jabaroh?”
Lami pun menoleh kepadanya dan menjawab, “Artinya kuat, orang-orang Yahudi tidak bisa memasukinya!”
Jawaban gadis kecil ini membuatku terkesima. Perasaanku campur aduk, menyaksikan bocah-bocah Palestina yang memiliki keyakinan jauh sebelum dewasa, bahwa Gaza tidak akan bisa dipatahkan.

Diterjemahkan dari Aljazeera.talk oleh Hawin Murtadlo

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s