SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

Archive for the month “Februari, 2009”

PERCAKAPAN DI MALAM PENGANTIN


“Wahai Sya`bi, nikahilah wanita Bani Tamim. Sungguh, aku melihat mereka adalah wanita-wanita cerdas.” kata Syuraih suatu ketika kepada Sya`bi.
“Kecerdasan macam apa yang pernah kau lihat pada mereka?” tanya Sya`bi.
Syuraih pun menceritakan kisahnya sebagai berikut:
***
Suatu siang, aku mengantarkan jenazah, melewati perkampungan Bani Tamim. Tiba-tiba aku melihat seorang perempuan tua berada di depan pintu rumah, didampingi seorang gadis paling cantik yang pernah kulihat. Aku pun menepi, lalu meminta air, padahal aku tidak merasa haus.
Gadis itu bertanya, “Minuman apakah yang Anda inginkan?”
“Apa saja, seadanya”, jawabku.
Yang tua berkata, “Kamu ini bagaimana sih, Nak?! Ambilkan susu untuknya! Kukira ia seorang pria asing!”
“Siapakah gadis tadi?” tanyaku kepada wanita itu.
“Zainab, putri Jarir”, jawabnya.
“Bersuami atau tidak?” tanyaku lagi.
“Tidak!” jawabnya.
“Kalau begitu, nikahkan dia denganku!”
“Tidak masalah, jika engkau sekufu.”
Aku pun berlalu untuk tidur siang, tetapi tidak bisa. Usai sholat Zhuhur, aku mengajak saudara-saudaraku, para qori’ terpandang, yaitu : Alqomah, Aswad, Musayyab, dan Musa bin `Arfathoh. Aku pergi menemui paman gadis itu.
“Wahai Abu Umayah, apa keperluanmu?” tanya paman gadis itu.
“Aku ingin melamar Zainab”, jawabku.
“Zainab tidak menolakmu!” katanya.
“Kalau begitu, nikahkan aku dengannya!”
Setelah menikah, aku merasa menyesal. Dalam hati aku berkata, “Apa yang barusan kulakukan dengan wanita Bani Tamim? Mereka terkenal berhati keras. Kupikir, lebih baik kuceraikan saja. Ah, tidak! Biarlah dia hidup bersamaku. Jika aku melihat apa yang kusuka, pernikahan ini kulanjutkan. Jika tidak, baru kuceraikan.
***
Setelah kedua pengantin dipertemukan.
***
Apabila seorang wanita dipertemukan dengan suaminya, maka suami disunahkan melaksanakan sholat sunat dua rekaat lalu berdoa memohon kebaikan istrinya dan berlindung dari keburukannya.
Aku sholat dua rekaat, sedangkan istriku sholat di belakangku. Selesai sholat para pelayannya datang kepadaku, mengambil pakaianku dan memberiku selimut yang telah diwenter dengan kunyit.
Setelah suasana rumah sepi, aku mendekatinya. Aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Sabarlah, Abu Umayah. Tetaplah di tempat.” Sejurus kemudian ia berkata : “Alhamdulillah. Aku memuji dan memohon pertolongan kepada Allah. Kuucapkan shalawat untuk Muhammad dan keluarganya. Aku ini wanita asing yang belum mengenal sifat-sifatmu, maka beritahukan kepadaku apa yang engkau sukai agar kulaksanakan dan apa yang kau benci agar kutinggalkan!”
Maka, kukatakan, “Alhamdulillah, aku memuji dan memohon pertolongan Alloh. Kuucapkan pula sholawat dan salam untuk Nabi dan keluarganya. Wa ba`du. Telah kau ucapkan kata-kata yang jika kau pegang teguh, maka akan menjadi keberuntunganmu. Tapi jika kau lalaikan, akan menjadi alasan untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu serta membenci ini dan itu. Ketika kita bersama, janganlah beranjak pergi. Jika kau melihat kebaikan, maka sebarkanlah. Namun jika melihat keburukan, rahasiakanlah!”
Ia pun menanyakan sesuatu yang belum kusebutkan, “Apakah kau menyukai kunjungan keluarga?”
“Aku tidak ingin besanku merasa bosan kepadaku.”
“Siapakah tetangga yang kau perbolehkan masuk ke rumahmu, agar aku beri izin dan siapa yang kau benci agar aku benci?”
“Bani Fulan orang-orang yang saleh, sedangkan Bani Fulan orang-orang yang jahat.”
Saat itu aku merasakan malam yang paling membahagiakan.
***
Inilah wanita shalihah. Rasulullah saw. menyebutnya sebagai sebaik-baik kesenangan dunia.

Catatan : Riwayat Ibnu Abdi Robbih Al-Andalusi, dalam kitab Thobâ’i`un Nisâ’.
Diterjemahkan oleh : Hawin Murtadlo

BOCAH-BOCAH GAZA


Oleh : Fida Madhun

Jet-jet tempur Israel belum berhenti menghujani bom, sejak beberapa jam tadi. Setiap ada bom jatuh di lokasi tidak jauh, rumah ini beserta seluruh penghuninya berguncang hebat. Di antara mereka anak-anak. Keponakanku Lami 6 tahun dan Muhsin 4 tahun terbangun. Setiap kali mendengar suara ledakan, mereka berkata : “Kami tidak takut, karena kami lebih kuat dan Allah bersama kami.”
Namun, ledakan-ledakan itu terdengar sangat keras dan bertubi-tubi, terlebih bagi kami yang tinggal di kawasan pantai Gaza, tidak mengizinkan siapa pun di antara kami, dewasa maupun anak-anak, untuk memejamkan mata.
***
Malam tadi sungguh mencekam. Pagi hari ini, aku memutuskan akan menemani Mushin atau Hasun –demikian panggilan kesayangan kami untuknya- dan Lami untuk membeli beberapa kebutuhan dan mencari udara yang berbeda dari kejamnya udara malam yang baru saja kami rasakan.
Aku berusaha meyakinkan mama mereka yang mencemaskan keluarnya mereka ke jalan-jalan Gaza yang masih menjadi sasaran jet-jet tempur penjajah Israel. Tiba-tiba Hasun mengagetkan mamanya dengan kata-kata, “Mama, jangan takut! Jika kami mati, kami akan ke surga!”
Mamanya tersenyum, menuruti ucapannya, dan meminta waktu sebentar untuk mengganti pakaian mereka.
Hasun dan Lami sangat gembira. Mereka membuka pintu rumah sambil menggandeng tanganku. Mereka berjalan di jalan raya sambil menoleh ke kanan ke kiri dan mengomentari apa yang mereka saksikan di sepanjang jalan. Tiba-tiba, Lami berhenti dan meletakkan tangan di mulutnya. Dengan setengah terkejut ia bertanya kepadaku : “Bibi, rumah Farah sahabatku dibom?” Sambil menunjuk kepada sebuah rumah di samping kantor kepolisan di wilayah yang dihancurkan.
Aku menenangkan hatinya. Kukatakan kepadanya, sekarang Farah pasti sedang bermain dengan teman-temannya. Pemboman itu tidak menyisakan rumahnya.
Kami melanjutkan perjalanan. Aku mencoba menyelidik mata orang-orang yang berlalu di jalan raya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Tidak kutemukan selain wajah-wajah tegar, tangguh, dan sabar. Anda bisa melihat itu dari anak-anak yang bermain dan bercanda, sorot mata kaum wanita, duduk para orang tua, dan ketegaran para pria.
Aku mengambil foto beberapa kejadian yang kusaksikan di antara gang-gang dan jalan-jalan Gaza, tapi kebanyakan sudah kuhapus setelah kami dihentikan oleh seorang polisi berpakaian sipil. Ia meminta maaf dan menyarankan untuk menghapus foto-foto itu karena alasan keamanan. Jangan ada foto-foto di antara gang-gang dan jalan-jalan Gaza di tengah peperangan. Setiap foto mungkin akan memberikan petunjuk kepada pasukan penjajah.
Aku menghargai sudut pandangnya. Aku serahkan kameraku kepadanya agar ia menghapus foto-foto yang dikehendakinya. Dia lebih tahu daripada aku.
Kami melanjutkan perjalanan. Hasun dan Lami minta dibelikan beberapa keperluan dari toko kelontong. Tentu saja aku turuti keinginan mereka. Ketika kami dalam perjalanan pulang, tiba-tiba telepon genggamku berbunyi keras dengan nada dering yang keras : “Pergilah perampok, jangan usik ketenangan Gaza Jabaroh!”
Sebelum aku mengangkat telepon, tiba-tiba Hasun bertanya, “Bibi, apa maksudnya Gaza Jabaroh?”
Lami pun menoleh kepadanya dan menjawab, “Artinya kuat, orang-orang Yahudi tidak bisa memasukinya!”
Jawaban gadis kecil ini membuatku terkesima. Perasaanku campur aduk, menyaksikan bocah-bocah Palestina yang memiliki keyakinan jauh sebelum dewasa, bahwa Gaza tidak akan bisa dipatahkan.

Diterjemahkan dari Aljazeera.talk oleh Hawin Murtadlo

TENTANG ROKOK LAGI


Tadi saya membaca sebuah artikel tentang rokok. Pro kontra tentang rokok seakan memang tidak pernah habis. Walau pun beberapa waktu lalu MUI telah mengeluarkan fatwa tentang hukum rokok. Namun, pandangan masyarakat tampaknya masih sangat beragam dalam menyikapi fatwa tersebut.
Saya jadi teringat kepada seorang kenalan saya. Seorang muslim keturunan Arab warga negara swedia, tapi tinggal di Malaysia. Sudah 30 tahun ia memiliki pabrik obat-obatan herbal di negeri Jiran itu. Sejak dulu, kenalan saya ini sangat antipati terhadap rokok. Bahkan, konon ia pernah menolak membukakan pintu saat seseorang hendak bertamu ke rumahnya. Sebabnya, ia tahu orang itu perokok. Mmh.
Ada yang lebih ekstrim dari itu. Suatu ketika seorang mantan pasiennya mengajukan diri untuk menjadi distributor, setelah membuktikan khasiat obat-obatan herbal yang diproduksinya. Namun rupanya, orang itu seorang perokok. Kenalan saya menolak keinginan orang itu untuk menjadi distributor. Alasannya? “Produk yang Anda jual ini ditujukan untuk membantu konsumen agar mendapatkan kesehatan lebih baik,” katanya. “Sementara, Anda memiliki kebiasaan yang membahayakan kesehatan. Anda boleh mengajukan diri menjadi distributor, setelah berhenti merokok!” Mmh!
Di mana-mana, dari dulu, ia selalu meyakinkan orang-orang yang dikenalnya, bahwa rokok itu haram. Tak peduli baru lima menit ia berkenalan dengan orang itu.
Suatu ketika kami mampir di sebuah rumah makan. Dilihatnya, pemilik restoran sedang merokok. Ia pun terlibat dalam obrolan dengan pemilik rumah makan. Seru sekali tampaknya. Kemudian saya melihat si pemilik warung ke belakang rumah, mengambil mushaf Al-Quran. Kenalan saya itu, lalu menunjukkan sebuah ayat dalam mushaf tersebut. Dan pemilik warung itu pun mengangguk.
Ternyata, ia baru saja menunjukkan ayat yang mengharamkan rokok kepada pemilik warung. Sebuah ayat di surat Al-A`raf. Ayat itu menjelaskan bahwa Allah telah mengutus Rasul-Nya antara lain untuk “menghalalkan hal-hal yang baik” serta “mengharamkan hal-hal yang buruk”.
Kemudian, ia bertanya kepada pemilik warung tadi, “Menurut Anda, rokok termasuk hal-hal yang baik atau hal-hal yang buruk?”
“Buruk.” jawab pemilik warung.
“Sekarang Anda tahu, bahwa hukum merokok haram. Dalilnya ayat ini. Karena, ayat ini menjelaskan bahwa hal-hal yang buruk diharamkan. Anda tentu tidak akan mendapati ayat Al-Quran atau sebuah hadits yang menyatakan, `Anu atau Anu (ia menyebut beberapa merek rokok terkenal) itu haram’ . Tapi, Anda tahu, ayat ini mengharamkannya,” katanya.
Tampaknya, dalam beberapa kali obrolan yang saya lihat, ia sering berhasil meyakinkan kawan bicaranya, bahwa rokok itu haram.

Post Navigation