SURGA HATI

Mari Bicara tentang Hati

SEDERHANA ITU PERCAYA


Kita bisa menjalani hidup dengan sederhana. Jauh dari kerumitan yang seringkali kita paksakan kepada diri kita sendiri.

Kita adalah hamba Sang Pencipta. Dalam posisi ini, kewajiban kita adalah mengabdi kepada-Nya. Mengabdi bagaimana? Al-Qur’an yang diturunkan-Nya sebagai petunjuk telah memberikan jawabannya. Rasul yang diutus-Nya melengkapi penjelasannya. Memahami petunjuk Allah itu lebih sederhana dibanding menciptakan sendiri aturan hidup kita. Juga lebih sederhana daripada meniru aturan hidup ciptaan manusia, meski manusia yang kita anggap hebat luar biasa.

Kita adalah makhluk yang diciptakan. Tidak ada seorang pun yang merasa menciptakan dirinya. Segala yang ada pada diri kita ditetapkan dan diciptakan oleh Allah. Sebagai makhluk, kita berkewajiban menyempurnakan usaha dan permohonan kepada-Nya. Apa pun yang terjadi kemudian mutlak kehendak-Nya, baik kita suka atau tidak suka.

Banyak misteri kehidupan yang tidak kita mengerti. Banyak rahasia alam yang tak kasat mata. Memaksa diri melakukan apa yang bukan kewajiban dan kewenangan kita,  akan membuat kita beralih dari satu kelelahan kepada kelelahan lainnya.  Dan itu tidak akan berakhir sampai kita kembali kepada cara yang sederhana.

Cara sederhana bagaimana? Sederhana dalam iman. Yaitu ketika kita percaya kepada Allah dan kemahakuasaan-Nya, pemeliharaan-Nya, dan kebenaran firman-Nya. Percaya bahwa semua janji-Nya benar, surga itu benar, neraka itu juga benar. Percaya bahwa kita akan dimudahkan menuju arah mana pun kita hendak diciptakan.

Banyak orang yang berbahagia dengan cara hidupnya yang sederhana. Apakah Anda percaya?

2014 in review


Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Satu kereta gantung di San Francisco mengangkut 60 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 2.200 kali di 2014. Jika itu adalah kereta gantung, dibutuhkan sekitar 37 perjalanan untuk mengangkut orang sebanyak itu.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

AGAR KALIAN BERTAKWA


“Wahai orang-orang beriman, puasa telah ditetapkan sebagai kewajiban bagi kalian, sebagaimana telah ditetapkan sebagai kewajiban bagi umat-umat sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Hari ini, kita menapaki hari pertama bulan Ramadhan. Keputusan sidang itsbat Kemenag RI dan banyak ormas Islam lain memang menyatakan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Ahad 29 Juni 2014 M. Adapun Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam maklumat sebelumnya menyatakan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh kemarin, Sabtu 28 Juni 2014 M berdasarkan hisab hakiki.

Di luar perbedaan awal Ramadhan yang agaknya memang sudah lumrah terjadi ini, kita bersyukur, tahun ini Allah masih memberi kita kesempatan menjalani hari-hari di bulan yang penuh barakah dan maghfirah ini. Kita sedang berada di hari-hari awal menjalankan sebuah kewajiban agung, berpuasa satu bulan penuh di bulan ini. Dan ini merupakan salah satu rukun Islam.

Allah telah menetapkan puasa sebagai kewajiban bagi kita. Artinya, selama 29 atau 30 hari di bulan ini, kita harus menahan diri dari makan, minum, dan “hubungan suami istri” (bagi yang bersuami dan beristri), sejak terbit fajar di pagi hari hingga tenggelamnya matahari di sore hari. Selain itu, ada beberapa pembatal puasa lain yang juga harus hindari. Semua itu harus kita laksanakan semata-mata karena Allah, untuk memenuhi kewajiban yang ditetapkan-Nya serta mengharap pahala dan ridha-Nya.

Puasa mengandung hikmah memperbaiki sekaligus membersihkan diri. Anda mungkin pernah tahu istilah detoksifikasi yang dilakukan para ahli pengobatan untuk membebaskan tubuh dari racun-racun dan zat-zat yang membahayakan kesehatan. Nah, puasa bisa diibaratkan sebagai “detoksifikasi ruhani” yang membebaskan diri kita dari sifat-sifat kotor dan perilaku tercela. Dalam puasa, nafsu makan dan minum serta nafsu seksual dikekang “sedikit ekstrim”. Bukan saja dikekang dari hal-hal yang haram, akan tetapi juga dari hal-hal yang biasa dimubahkan bagi kita. Kita tidak hanya dilarang makan daging babi dan minum khamr, tetapi makan daging sapi dan minum susu pun dilarang. Kita tidak hanya dilarang berzina, tetapi berhubungan seksual dengan pasangan yang halal pun tidak dibolehkan selama berpuasa.

Pelarangan ini mengandung hikmah tarbiah, agar jiwa kita terbiasa memikul kewajiban-kewajiban serta bersih dari keinginan kepada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Jika kita berhasil dalam proses tarbiah Ramadhan ini maka kita akan memiliki kemampuan hebat dalam pengendalian nafsu. Akan lebih mudah kita menjalankan perintah dan akan semakin ringan kita menjauhi larangan di luar bulan Ramadhan. Itulah hakikat ketakwaan yang menjadi tujuan disyariatkannya kewajiban puasa.

Umat-umat terdahulu telah menjalankan kewajiban puasa yang ditetapkan bagi mereka. Mereka telah menjadi contoh bagi kita tentang bagaimana menjalankan kewajiban ini sebaik-baiknya. Adapun sekarang, tibalah giliran kita untuk menjalankannya. Mari bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban ini secara lebih sempurna. Kalau bisa, lebih sempurna daripada yang telah dilakukan oleh umat-umat yang mendahului kita. Semoga kita bisa!

Sukoharjo, 29 Juni 214 M

Hawin Murtadlo

MENGUBAH NAWAITU


“Seringkali perbuatan besar itu dikecilkan oleh niat. Seringkali pula, perbuatan kecil itu dibesarkan oleh niat.” (Ibnu Mubarak)

Perbuatan Sepele

yang Mengantar ke Surga

Perempuan pelacur itu memandangi iba seekor anjing di depannya. Lidah binatang itu menjulur-julur, menjilat-jilat debu karena kehausan. Kontan, perempuan itu melepas sepatu, lalu turun ke dalam sumur. Setiba kembali di atas sumur, di mulutnya terlihat sepatu yang berisi air dalam gigitannya. Perempuan itu menyodorkan air tersebut kepada anjing yang nyaris mati kehausan itu.

Apa hebatnya perbuatan  yang dilakukan perempuan ini? Hanya memberi minum seekor anjing kehausan. Bagi banyak orang, amalan seperti ini tidaklah seberapa nilainya. Namun, keikhlasan niat telah membesarkannya. Bukan hal aneh, jika Allah melipatgandakan pahala bagi amalan kecil itu atau amal shalih lainnya, sepuluh kali lipat, tujuh ratus kali lipat, hingga berlipat-lipat tak terhingga.

Namun, tahukah Anda, amal baik yang dilakukan seorang wanita pelacur kepada seekor anjing yang “tampak sepele” , bisa menjadi sebab terampunkannya dosa  perempuan pelacur itu, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat sahih yang dirilis oleh Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang bermiripan, menunjukkan diampunkan  dan masuk surganya seorang wanita pelacur gara-gara perbuatan “sepele” seperti itu. Salah satu redaksi riwayat tersebut berbunyi:

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيْفُ بِرَكيَّةٍ قَدْ كاَدَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيْلَ، فَنَزَعَتْ مُوْقَهَا ، فَاسْتَقَتْ لَهُ بِهِ، فَسَقَتْهُ إِيَّاهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ (رواه البخاري ومسلم)

“Suatu ketika, ada seekor anjing terus berkeliling di sekitar sumur, ia nyaris tewas karena kehausan. Tiba-tiba seorang perempuan pelacur Bani Israil melihatnya. Ia pun melepas sepatu, lalu mengambil air dengannya, kemudian meminumkannya kepadanya. Maka, dosanya diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Amalan Besar yang Rusak Karena Salah Nawaitunya

Jika, perbuatan “sepele” di atas bisa berubah menjadi begitu besar nilainya, bagaimana dengan perbuatan besar? Baiklah, mari kita bahas.

Belajar agama adalah sebuah amalan besar. Kegiatan ini bisa dikatakan merupakan amalan terbaik, atau salah satu amalan terbaik yang tinggi nilainya dalam Islam. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :

الْعِلْمُ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْءٌ إِذَا صَحَّتِ النِّيَّةُ

 “(Mempelajari dan mengajarkan) ilmu itu tidak bisa dibandingkan (keutamaannya) dengan amalan apa pun, jika niatnya benar.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري ومسلم)

“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Terlalu banyak dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, baik belajar maupun mengajarkannya. Karena itu, Islam memuliakan orang berilmu. Juga memuliakan orang yang belajar ilmu. Juga menjadikan nilai amalan ini setara dengan jihad fi sabilillah yang merupakan puncak tertinggi amalan dalam Islam.

Sayangnya, barangkali tidak sedikit orang yang salah nawaitunya ketika mempelajari ilmu. Ia melakukan kegiatan mulia ini dengan niatan yang salah. Mungkin ia ingin menjadi manusia menonjol, hebat melebihi teman-temannya, dikenal sebagai ulama, disegani banyak orang, memiliki banyak pengikut, dan mendapat berbagai kesenangan duniawi sementara seperti jabatan, harta, dan pujian orang. Berbagai keutamaan orang menuntut ilmu yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya sama sekali tidak terbetik dalam pikirannya. Bahkan, mungkin ia tidak yakin bahwa pahala dan keutamaan yang dijanjikan itu benar-benar ada.

Bagaimana nilai amalan orang yang seperti ini? Apakah amalan besar itu, dengan niatan seperti ini dinilai sebagai amalan besar di sisi Allah?

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa salah satu dari tiga orang yang pertama kali dijadikan sebagai bahan bakar api neraka adalah seorang penuntut ilmu. Ia menuntut ilmu tanpa disertai keikhlasan. Tujuan amalnya semata-mata adalah riya’. Ingin orang lain melihatnya dengan pandangan kagum. Ingin agar manusia menyebutnya sebagai ulama.

Bertanyalah Pada Dirimu

Pemaparan di atas saya kira cukup memberikan gambaran, betapa seriusnya persoalan niat bagi kita semua. Bagi saya, Anda, dan siapa pun manusia yang setiap hari tak lepas dari aktivitas menjalankan amal. Apa yang Anda inginkan dari perbuatan yang Anda lakukan itu ternyata lebih penting daripada apa yang Anda lakukan itu sendiri. Karena nawaitu Anda itu menentukan apa yang akan Anda dapatkan dari perbuatan Anda. Bisa jadi, perbuatan Anda akan berbuah pahala, bernilai kebaikan, dan dicatat sebagai amal shalih yang diterima Allah, atau justru berakibat dosa, bernilai keburukan,  dan dicatat sebagai amal kejahatan. Semua itu tergantung pada satu hal, yang justru sering luput dari perhatian banyak orang, yaitu nawaitunya.

Maka, dari sekarang, mari bertanya kepada diri ini, seberapa benar nawaitu amal kita? Jika belum benar, atau kurang baik, kita harus mengerahkan apa yang kita bisa untuk memperbaikinya sekarang juga. Ingat, betapa buruknya nasib kita jika tidak mampu memperbaiki atau mengubah nawaitu kita yang buruk itu sekarang juga. Dan tentu, kita harus bermohon, terus-menerus, kepada Allah, agar dikaruniai keikhlasan. Wallâhu a’lam.

Post Navigation