Tidakkah Kita Prihatin?

31 01 2011

Beberapa pekan ini warga kampungku memperbincangkan sebuah berita heboh. Seorang gadis SMP diketahui hamil. Konon ia dihamili pacarnya, seorang anak SMP juga. Keluarga menuntut agar sang pacar bertanggung jawab menikahi, tapi ia menolak. Ia beralasan bahwa dirinya tidak sendirian berzina dengan gadis itu. Tapi ada dua orang temannya yang juga siswa SMP berbuat hal yang sama terhadap pacarnya. La hawla wa la quwwata illa billah!

Berita-berita seperti ini mungkin bukan hal yang mengejutkan lagi sekarang. Entah dari berita koran, televisi, atau cerita orang-orang di sekitar kita, kita sering mendengar kasus serupa. Menilik beberapa survey, memang tampaknya perzinahan semakin biasa terjadi di kalangan pelajar. Berita yang kita dengar bisa dikatakan hanya fenomena puncak gunung es. Sedikit yang terlihat. Namun kasus sebenarnya jauh lebih besar dari yang tampak.

Sebagian orang akan mengatakan, “Biarlah orang berzina. Toh, dia sendiri yang menanggung akibatnya.”

Baiklah. Taruhlah pernyataan itu benar, tetap saja sikap diam kita merupakan kesalahan. Tidakkah hati kita trenyuh, melihat begitu banyak orang yang hancur kehidupannya akibat perbuatan ini? Wanita yang sampai tua hidup dan menghidupi anaknya sendiri. Rumah tangga yang hancur berantakan. Permusuhan hingga pembunuhan yang semua itu dipicu oleh perzinahan. Andai benar akibatnya akan dirasakan oleh pelakunya saja, keengganan kita untuk mencegah perbuatan ini adalah sebuah keegoisan.

Terlebih, sebenarnya dampak perbuatan ini tidak hanya menimpa pribadi pelakunya. Anak-anak yang terlahir dari zina adalah generasi yang terkena langsung dampak buruknya. Keluarga pelaku juga. Bahkan, seluruh masyarakat secara umum juga akan terkena dampaknya. Ketika zina merajalela di sebuah masyarakat, Allah akan mengirimkan siksa bukan hanya kepada pelakunya. Seluruh masyarakat akan tertimpa siksa itu. Nabi saw. bersabda :

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Jika perzinahan dan riba telah telah nyata (merajalela) di sebuah negeri (kampung) berarti mereka telah menghalalkan adzab Allah bagi diri mereka.” (HR. Thabrani dan Hakim dengan sanad sahih)

Adalah sunatullah bahwa apabila perzinahan dan perbuatan mungkar merajalela di suatu kaum, maka Allah akan mengirimkan adzab yang luas, yang akan menimpa pelakunya maupun bukan pelakunya.

Orang tua dan sekolah saja tidak akan mampu berperan sendiri sebagai benteng moral. Diperlukan upaya lebih luas yang melibatkan peran berbagai elemen dan tokoh masyarakat. Media massa seharusnya juga mengambil peran positif, bukannya malah menjadi provokator perzinahan.

Jadi, mulailah dari sekarang. Dari lingkungan yang terdekat. ٍSemoga kita tidak melihat dikirimkannya siksa Allah yang meluas itu.


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.