SEDERHANA ITU PERCAYA

4 02 2009

Bagi saya, kita bisa menjalani hidup dengan sederhana. Jauh dari kerumitan yang seringkali kita sendiri yang memaksakannya.

Dalam hidup kita adalah hamba dari Sang Pencipta. Dalam posisi ini kewajiban kita adalah mengabdi kepada-Nya. Bagaimana kita mengabdi? Al-Quran yang diturunkan-Nya sebagai petunjuk bagi kita telah memberikan jawabannya. Yang disempurnakan dengan diutusnya Rasul sebagai penjelasnya. Memahami petunjuknya adalah lebih sederhana, ketimbang kita musti berpikir dan mereka-reka sendiri ajaran dan aturan hidup kita. Atau mencoba meniru ajaran dan aturan hidup ciptaan manusia, sehebat apa pun dia.

Dalam hidup ini, kita adalah makhluk. Diri kita diciptakan. Tidak pernah ada seorang pun di antara kita yang merasa menciptakan dirinya. Segala yang ada pada diri kita, Allah yang menetapkan dan menciptakannya. Sebagai makhluk, kita hanya berkewajiban menyempurnakan usaha dan permohonan kepada-Nya. Selebihnya, kehendak Sang Pencipta mutlak adanya. Baik kita suka atau tidak suka.

Banyak misteri kehidupan yang tidak kita mengerti. Banyak rahasia alam yang tak tampak di depan mata. Terlalu memaksa diri akan membuat kita beralih dari satu kelelahan kepada kelelahan lainnya. Sampai kita mau kembali kepada cara yang sederhana.

Apa cara sederhana itu? Percaya. Ya, percaya kepada Allah dan kemahakuasaan-Nya. Kepada pemeliharaan-Nya. Juga kepada kebenaran firman-Nya. Percaya bahwa semua janji-Nya benar. Surga itu benar. Neraka pun benar. Percaya bahwa kita akan dimudahkan menuju arah mana pun kita hendak diciptakan.

Banyak orang yang berbahagia dengan kesederhanaannya. Apakah Anda percaya?





PERDEBATAN

10 03 2011

Banyak ulama menganjurkan agar kita menghindari perdebatan. Mengapa demikian?

Di antaranya karena seringkali perdebatan dilakukan dengan maksud untuk menunjukkan kepintaran dan merendahkan orang lain. Banyak orang ketika berdebat menggunakan cara-cara yang batil untuk menolak kebenaran yang ada pada lawan debatnya. Seringkali orang yang berdebat berbalas makian dan penghinaan. Kata-kata kotor berhamburan tanpa kendali. Perdebatan semacam ini tidak bermanfaat bagi agama seorang muslim, bahkan berbahaya. Selain menghabiskan energi, ia juga sangat potensial mematikan hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقا

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan : “Hasan”. Lihat, Shahih At-Targhib wat Tarhib, III/6)

Meski begitu, jika perdebatan ditujukan untuk memahami atau menjelaskan kebenaran dan dilakukan dengan etika yang baik, maka ia dianjurkan. Perdebatan semacam ini merupakan salah satu cara yang dianjurkan dalam berdakwah.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :


أُدْعُ إِلى سبيلِ رَبك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl [16] : 125)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga berfirman :

و لا تجادلوا أهل الكتاب إلا بالتي هي أحسن

“Janganlah engkau berdebat dengan Ahlukitab, melainkan dengan cara yang paling baik…” (QS. Al-`Ankabut [29] : 46)





PELAJARAN DARI BANGSA YANG DIKUTUK

17 02 2011

Jangan pernah menipu diri sendiri. Merasa bahwa diri kita telah aman dari kemungkinan adzab yang ditimpakan Allah. Lantaran kita tahu bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Atau lantaran kita merasa sebagai para kekasih Allah. Kita harus tahu, bahwa Allah Al-Hakamul ‘Adl (Hakim Yang Bijaksana), Syadidul ‘Iqob (Keras Siksa-Nya) dan Sari’ul Hisab (Sangat Cepat Perhitungan-Nya).Bisa jadi, suatu bangsa yang semula dimuliakan oleh Allah, akan dihukum karena perbuatan durhaka mereka, semoga Allah melindungi kita dari siksa itu.

Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub as. Mereka adalah bangsa yang dimuliakan melebihi banyak bangsa lain dengan diturunkannya kitab kepada mereka dan diutusnya para nabi dari kalangan mereka. Namun, ternyata kemuliaan itu menjadikan sebagian dari mereka lupa bersyukur. Maka, mereka dikutuk melalui ucapan para Nabi mereka, yaitu Dawud as. dan Isa as..

“Orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil telah dikutuk melalui ucapan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka bermaksiat dan selalu melampaui batas (78) Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat (79).” (QS.Al-Maidah [5] : 78-79)

Mengapa mereka dikutuk ? Ayat di atas menjelaskan beberapa faktor, yaitu : bermaksiat, melampaui batas, dan enggan mencegah kemungkaran. Beberapa riwayat di bawah ini memberikan penjelasan lebih lanjut. Mari kita baca dan renungkan sebagai bahan pelajaran. Agar jangan sampai kita mengulang apa yang mereka lakukan, sehingga Allah menimpakan kepada kita seperti apa yang telah ditimpakan kepada mereka, na’udzu billah min dzalik!

Imam Ahmad meriwayatkan sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirul Al-Quranil ‘Azhim, bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Ketika Bani Israil terjerumus dalam berbagai kemaksiatan, para ulama mereka melarang mereka melakukan kemaksiatan itu, tetapi mereka tidak menghiraukan larangan tersebut. Tak lama kemudian, para ulama itu menemani para pelaku maksiat itu di majlis-majlis mereka dan pasar-pasar mereka. Mereka makan dan minum bersama. Maka, Allah menjadikan permusuhan di antara mereka dan mengutuk mereka melalui ucapan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka telah bermaksiat dan melampaui batas.”

Abu Dawud, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir pula, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Sebab kemunduran yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah bahwa ketika seseorang dari mereka menjumpai orang lain sedang melakukan kemaksiatan, ia mengatakan : ‘Takutlah kepada Allah ! Tinggalkanlah perbuatanmu, karena itu tidak halal bagimu!’ Namun, keesokan harinya, ia berjumpa lagi dengannya, maka hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk menjadi teman makan, minum dan duduknya. Ketika tindakan seperti itu banyak dilakukan oleh mereka, maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.” Kemudian beliau membaca ayat : “Orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil telah dikutuk melalui ucapan Dawud dan Isa putra Maryam” dst. hingga firman-Nya : “orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Ma’idah 78-81)

Beberapa ulama menjelaskan, sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Amin Asy-Syanqithi dalam Adhwa’ul Bayan, bahwa yang dikutuk melalui ucapan Nabi Dawud as. adalah Ashabus Sabt yaitu para pelaku pelanggaran pada Hari Sabat. Manakala penduduk Ailah melakukan pelanggaran pada Hari Sabat, Nabi Dawud as. berdoa : “Ya Allah, kenakanlah kutukan yang melekat erat pada diri mereka seperti melekatnya selendang atau sabuk di pinggang.” Maka Allah mengubah diri mereka menjadi kera.

Adapun orang-orang yang dikutuk melalui ucapan Isa putra Maryam as. adalah Ashabul Maidah, yaitu mereka yang memohon diturunkannya hidangan dari langit. Setelah hidangan diturunkan oleh Allah dari langit dan mereka memakan hidangan tersebut, sesuai dengan permohonan mereka, mereka tetap bersikukuh dengan kekafirannya. Maka, Nabi Isa as. berdoa : “Ya Allah, turunkanlah adzab kepada siapa pun yang tetap kafir sesudah memakan hidangan, yang tidak pernah Engkau timpakan kepada seorang pun dari seluruh alam. Kutuklah mereka seperti Engkau pernah mengutuk Ashabus Sabt !” Maka, pagi harinya diri mereka berubah menjadi babi.

Betapa mengerikannya akibat yang harus ditanggung oleh sebuah masyarakat apabila mereka membiarkan kemaksiatan dan kemunkaran dilakukan secara terang-terangan di tengah-tengah mereka, kemudian para ulama dan orang-orang yang mampu melakukan pencegahan tidak melakukan pencegahan. Itulah yang menyebabkan Bani Israil dikutuk menjadi kera, melalui doa Nabi Daud as. dan menjadi babi melalui doa yang diucapkan oleh Isa putra Maryam. Mungkinkah hal semacam itu berlaku pula bagi masyarakat lain?

Tentu saja. Sunnatullah tidak berubah. Jika Allah menghukum Bani Israil karena suatu perbuatan, maka hukuman yang serupa bisa ditimpakan kepada bangsa-bangsa lain yang berbuat serupa dengan perbuatan mereka, yaitu bermaksiat, melampaui batas, dan tidak mau mencegah kemungkaran.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda : “Sungguh, Allah tidak akan mengadzab masyarakat secara umum akibat perbuatan yang dilakukan sebagian khusus dari mereka sehingga mereka melihat kemungkaran dilakukan di tengah-tengah mereka sedangkan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mau mencegahnya. Jika mereka telah berbuat demikian, maka Allah pasti menurunkan adzab yang menimpa seluruh masyarakat, baik yang melakukannya maupun yang tidak melakukannya.”

Jika Allah menghukum sebuah bangsa yang pernah dimuliakan-Nya lantaran meninggalkan kewajiban mencegah kemungkaran, akankah kita merasa aman ketika meninggalkan kewajiban yang sama?





Tidakkah Kita Prihatin?

31 01 2011

Beberapa pekan ini warga kampungku memperbincangkan sebuah berita heboh. Seorang gadis SMP diketahui hamil. Konon ia dihamili pacarnya, seorang anak SMP juga. Keluarga menuntut agar sang pacar bertanggung jawab menikahi, tapi ia menolak. Ia beralasan bahwa dirinya tidak sendirian berzina dengan gadis itu. Tapi ada dua orang temannya yang juga siswa SMP berbuat hal yang sama terhadap pacarnya. La hawla wa la quwwata illa billah!

Berita-berita seperti ini mungkin bukan hal yang mengejutkan lagi sekarang. Entah dari berita koran, televisi, atau cerita orang-orang di sekitar kita, kita sering mendengar kasus serupa. Menilik beberapa survey, memang tampaknya perzinahan semakin biasa terjadi di kalangan pelajar. Berita yang kita dengar bisa dikatakan hanya fenomena puncak gunung es. Sedikit yang terlihat. Namun kasus sebenarnya jauh lebih besar dari yang tampak.

Sebagian orang akan mengatakan, “Biarlah orang berzina. Toh, dia sendiri yang menanggung akibatnya.”

Baiklah. Taruhlah pernyataan itu benar, tetap saja sikap diam kita merupakan kesalahan. Tidakkah hati kita trenyuh, melihat begitu banyak orang yang hancur kehidupannya akibat perbuatan ini? Wanita yang sampai tua hidup dan menghidupi anaknya sendiri. Rumah tangga yang hancur berantakan. Permusuhan hingga pembunuhan yang semua itu dipicu oleh perzinahan. Andai benar akibatnya akan dirasakan oleh pelakunya saja, keengganan kita untuk mencegah perbuatan ini adalah sebuah keegoisan.

Terlebih, sebenarnya dampak perbuatan ini tidak hanya menimpa pribadi pelakunya. Anak-anak yang terlahir dari zina adalah generasi yang terkena langsung dampak buruknya. Keluarga pelaku juga. Bahkan, seluruh masyarakat secara umum juga akan terkena dampaknya. Ketika zina merajalela di sebuah masyarakat, Allah akan mengirimkan siksa bukan hanya kepada pelakunya. Seluruh masyarakat akan tertimpa siksa itu. Nabi saw. bersabda :

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Jika perzinahan dan riba telah telah nyata (merajalela) di sebuah negeri (kampung) berarti mereka telah menghalalkan adzab Allah bagi diri mereka.” (HR. Thabrani dan Hakim dengan sanad sahih)

Adalah sunatullah bahwa apabila perzinahan dan perbuatan mungkar merajalela di suatu kaum, maka Allah akan mengirimkan adzab yang luas, yang akan menimpa pelakunya maupun bukan pelakunya.

Orang tua dan sekolah saja tidak akan mampu berperan sendiri sebagai benteng moral. Diperlukan upaya lebih luas yang melibatkan peran berbagai elemen dan tokoh masyarakat. Media massa seharusnya juga mengambil peran positif, bukannya malah menjadi provokator perzinahan.

Jadi, mulailah dari sekarang. Dari lingkungan yang terdekat. ٍSemoga kita tidak melihat dikirimkannya siksa Allah yang meluas itu.





MENGAPA MERINDU BULAN JIKA KAKI MELEKAT DI BUMI?

30 01 2011

“Siapa yang ingin menikah tapi tidak mempunyai biaya? Siapa yang ingin naik haji dan belum memiliki ongkos? Siapa yang punya utang tapi tidak mampu membayar? Datanglah ke Baitul Mal, maka Baitul Mal akan menanggungnya.”

Itu bukan mimpi. Tapi itulah gambaran tentang kemakmuran yang dicapai dalam pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Masa pemerintahannya merupakan era keemasan kekhalifahan Dinasti Bani Umayah. Kemakmuran merata dirasakan oleh segenap rakyat. Banyak orang membayar zakat tapi sedikit yang menerimanya. Konon, harta zakat sampai ditawar-tawarkan, tapi tidak ada penerima. Sebuah kondisi negeri yang masih menjadi impian banyak bangsa. Umar telah mewujudkannya. Tahukah Anda, berapa lama Umar mewujudkan negeri adil makmur aman sentausa itu?

Mungkin Anda takkan percaya. Saya pun hampir tidak percaya. Namun, sejarah tidak berbohong. Umar bin Abdul Aziz ternyata memerintah hanya dalam waktu dua tahun saja. Berapa? Dua periode? Tidak, bacalah baik-baik. Dua tahun. Hanya dua tahun. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang kepala negara dalam waktu sependek itu?

Waktu dua tahun bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kemerdekaan 65 tahun dengan tujuh kepala negara yang silih berganti. Dan hasilnya? Negeri adil makmur bagi kita masih menjadi mimpi. Predikat negeri ini tidak jauh beranjak dari negara “berkembang”. Ya, berkembang di bawah negara-negara lain yang sudah melesat, tentunya. (Untuk ini, kita patut tersenyum kecut).

Saya rasa, sudah saatnya para negarawan kita jangan terlalu angkuh. Jangan pula terus memandang silau sistem pemerintahan impor yangl telah puluhan tahun diterapkan dan gagal itu. Jangan lagi menipu rakyat dengan menyebut-nyebut berbagai keberhasilan semu. Sepatutnya mereka kini lebih bersikap rendah hati. Mengoreksi, pasti telah terjadi kesalahan mendasar di negeri ini. Mereka layak mengkaji bagaimana cara khalifah yang adil dan shalih, Umar bin Abdul Aziz, menjalankan pemerintahannya dan menciptakan perubahan gemilang itu.

Kebijakan Umar di hari pertama pemerintahannya salah satu yang patut dicermati. Usai menerima sumpah sebagai khalifah, ia memanggil istrinya yang notabene putri Abdul Malik bin Marwan, khalifah yang digantikannya. Ia juga memanggil anak-anaknya. Bukan untuk bagi-bagi jabatan atau hadiah. Ia memerintahkan istri dan anak-anaknya untuk menyerahkan harta dan perhiasan yang mereka miliki ke kas negara, Baitul Mal. Tentu ia tahu, bahwa harta itu mereka miliki melalui cara yang sah. Tapi, kebijakan ini membuktikan betapa ia tidak ingin memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri dan keluarganya. Dia ingin pelayanan kepada rakyat menjadi prioritas pemerintahannya. Dan ini adalah awal yang baik untuk perubahan-perubahan gemilang yang dilakukannya.

Saat ini, beberapa negara muslim sedang dilanda krisis politik. Tunisia berganti penguasa. Mesir dan beberapa negara lain juga bergolak. Tidak mustahil angin perubahan juga berhembus hingga negeri ini.

Saya sendiri, sampai sekarang tidak terlalu banyak berharap. Andai perubahan itu ada pun, gejala yang tampak di permukaan tidak menunjukkan akan terjadinya perubahan yang substansial. Seperti dulu-dulu. Hanya ganti nama dan kemasan. Selanjutnya, kita akan memasuki perangkap yang sama. Kembali mengulang kesalahan yang sama.

Jadi, mengapa merindukan bulan, jika kaki masih melekat erat di bumi?





MELIPATGANDAKAN NILAI SHALAT KITA

28 01 2011

“Tegakkanlah shalat, bayarlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 43)

Shalat ialah ibadah fisik yang paling penting bagi seorang muslim. Ia tiang agama. Menegakkannya berarti menegakkan agama. Menghancurkannya sama dengan menghancurkan agama. Ia merupakan ibadah wajib yang rutin kita lakukan setiap hari. Setidaknya lima kali dalam sehari semalam. 35 kali dalam seminggu. 145 hingga 150 kali dalam sebulan. Demikian seterusnya. Anda bisa menghitung sendiri sudah berapa kali dan akan berapa kali lagi kira-kira mengerjakan shalat selama hidup.

Belum lama ini, saat membaca kitab Riyâdhus Shâlihîn, saya terkesan saat membaca sebuah hadits yang berisi keterangan tentang cara melipatgandakan nilai shalat. Cara itu sederhana, namun mampu mendongkrak nilai shalat menjadi berlipat ganda. Banyak di antara Anda yang telah melakukan cara itu. Yang belum saya yakin juga banyak. Sebagian lagi sudah melakukannya, tapi tidak sepenuhnya menyadari betapa luar biasa nilainya.Cara dahsyat melipatgandakan nilai shalat itu adalah menjalankannya secara berjama’ah di masjid. Baik di masjid yang digunakan untuk shalat Jumat maupun tidak.

Pertama-tama, hadits sahih tersebut menjelaskan bahwa nilai shalat jama’ah 23 hingga 29 derajat lebih utama dibandingkan shalat sendiri, baik di tempat kerja atau di rumah.

Selanjutnya, langkah menuju masjid juga ada nilainya. Berwudhu baik-baik di rumah, lalu berangkatlah ke masjid dengan niat semata-mata melaksanakan shalat, tidak ada motivasi keberangkatan kecuali untuk shalat. Maka setiap langkah akan diganjar dengan diangkatnya satu derajat kedudukan di sisi Allah dan diampunkannya satu kesalahan. Oleh karena itu, ada anjuran untuk berjalan menuju masjid dengan langkah tenang dan pendek-pendek. Dengan begitu, jumlah langkah Anda semakin banyak.

Memasuki masjid, setelah melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid, Anda akan duduk menunggu. Meski hanya duduk menunggu, namun pahalanya sama dengan melaksanakan shalat.

Imam tiba, iqamah dikumandangkan. Anda berdiri di shaf dan menjalankan shalat dengan mengikuti gerakan imam yang memimpin dari awal hingga selesai shalat. Jangan langsung pulang. Duduklah sebentar untuk membaca doa dan dzikir. Selagi masih berada di tempat duduk, tidak mengganggu orang lain, dan belum batal wudhu, maka para malaikat mendoakan Anda. Mereka mengucapkan : “Ya Allah, sayangilah dia; ya Allah, ampunilah dia; ya Allah, berikanlah taubat kepadanya.”

Betapa kita membutuhkan doa para hamba Allah yang shalih agar Allah sayangi kita, mengampuni dosa dan menganugerahkan taubat kepada kita. Bagaimana jika doa itu diucapkan oleh para malaikat, hamba-hamba terdekat Allah yang selalu taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya? Bukankah doa mereka sangat kita butuhkan?

Demikianlah, hadits tersebut memberitahukan kepada kita perbedaan nilai yang luar biasa antara shalat sendirian di rumah dan shalat jama’ah di masjid. Perbedaan itu begitu terlihat meski hanya dalam sekali shalat. Bagaimana jika shalat berjama’ah itu kita lakukan secara rutin? Tentu akan membuat perbedaan yang saat ini mungkin belum kita membayangkan. Kita baru menyadari kelak ketika kita menghadap kepada Allah di Yaumul Hisab. Saat setiap catatan amal shalih menjadi sangat kita butuhkan. Terutama shalat yang merupakan amalan pertama diperhitungkan.

Baiklah, berikut ini hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim tersebut selengkapnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيْدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي سُوْقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً ذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يُرِيْدُ إِلاَّ الصَّلاَة لاَيَنْهَزُهُ ِإلاَّ الصَّلاَة لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجة وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ حَتَّى يََدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي فِيْهِ. يَقُوْلُوْنَ : اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ أَللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيْهِ. (متفق عليه)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Shalat seseorang di masjid itu lebih utama daripada shalatnya di pasar atau rumahnya, sebanyak 23 hingga 29 kali lipat. Hal itu karena apabila salah seorang dari mereka berwudhu dengan sempurna, kemudian berangkat ke masjid, tidak ada yang diniatkannya selain shalat, tidak ada yang mendorong keberangkatannya kecuali shalat, maka setiap kali ia melangkahkan satu langkah, Allah mengangkat kedudukannya satu derajat dan menghapuskan satu dosa karenanya hingga ia masuk ke dalam masjid. Jika telah memasuki masjid, maka ia dinilai sedang shalat selama ia menunggu shalat. Para malaikat mendoakan salah seorang dari kamu selama ia di tempat duduknya. Mereka mengatakan : ‘Ya Allah sayangilah dia, ya Allah ampunilah dia, ya Allah berikanlah taubat kepadanya.’ Selama ia tidak mengganggu dan tidak berhadats (batal wudhu).” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Bukti Keimanan

Shalat berjamaah adalah sebagian cara memakmurkan masjid. Sedangkan memakmurkan masjid merupakan bukti keimanan. Allah telah memberikan kesaksian bahwa yang memakmurkan masjid hanyalah orang-orang beriman. Sebagaimana firman-Nya :

“Sesungguhnya, yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta menegakkan shalat, membayar zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itu pasti termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah [9] : 18)

Sahabatku ! Tidakkah kita sangat beruntung jika memperoleh kesaksian iman dari Allah? Tidakkah kita sangat beruntung jika mendapat jaminan pasti untuk menduduki satu tempat di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk? Yang menjadi pertanyaan kemudian, maukah kita shalat berjamaah di masjid?





Tidakkah Kita Bersyukur

26 01 2011

Allah telah menciptakan negeri seindah surga ini untuk kita. Sebagaimana Dia telah menciptakan banyak negeri lain di bumi. Dia yang menyediakan seluruh kekayaan alamnya, bahan tambang yang melimpah dan ragam hayati yang tak terhitung jumlahnya di darat maupun lautan. Dia menciptakan tanahnya yang subur. Menurunkan curah hujan yang melimpah untuk menumbuhkan tanamannya. Adakah di antara kita yang jumawa mengaku telah menyediakan sebagian kecil saja dari karunia agung itu?

Sebenarnya, Allah berhak untuk hanya memberikan sebagian saja dari karunia itu kepada kita, jika Dia menghendaki. Lihatlah Mesir atau negeri Arab lainnya. Di sana tidak akan mudah Anda menemukan pemandangan indah bak permadani hijau sejauh mata memandang. Dari pesawat yang akan landing di bandara Internasional Cairo, Anda hanya bisa melihat hamparan pasir atau tanah tandus berwarna putih kecoklatan. Tanpa rumput. Tanpa tumbuhan. Saat memasuki kota Cairo, Anda memang akan menemukan satu dua pohon atau sedikit rumput yang tumbuh di beberapa sudut kota. Tapi, ia tidak tumbuh sendiri secara liar seperti di sini. Melainkan ditanam dan harus disiram setiap hari. Jangan tanya, seberapa sering hujan turun di sana. Mungkin sekali atau dua kali saja dalam setahun dan tidak terlalu deras. Itu pun sudah cukup untuk menciptakan banjir di beberapa pelosok kota Cairo.

Meski begitu, orang-orang di Mesir atau negeri manapun lainnya tetap wajib bersyukur. Karena masih banyak karunia Allah yang lain. Di antara lipatan nikmat itulah mereka hidup. Beberapa kawasan yang dilalui sungai Nil yang sangat subur menghasilkan produk pertanian berupa makanan pokok, sayur-sayuran, dan buah-buahan yang cukup untuk seluruh penduduk negeri. Beberapa produk pertanian di sana bahkan dijual jauh lebih murah daripada di sini. Jeruk sunkist yang di beberapa swalayan di sini dijual dengan harga 12 ribu hingga 20 ribu perkilo, tergantung musimnya, di sana hanya dijual tiga pound. Kurang lebih empat ribu limaratus rupiah saja. Harga strawberi juga sama, 3 pound perkilogram. Bedanya, ukuran strawberi di sana beberapa kali lebih besar dibandingkan ukuran strawberi Tawangmangu yang harganya empat hingga lima kali lebih mahal.

Banyak orang Arab yang datang ke negeri ini, tak berhenti berdecak kagum. “Kalian tinggal di surga”, begitu komentar Syaikh Kurayyim Rajih saat berkunjung ke Pesantren ‘Isy Karima, Karanganyar, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Tak heran, karena di sini Guru Besar Para Ahli Qiraat Negeri Syam itu menyaksikan semua keindahan yang tak pernah dia bayangkan selama tinggal di negerinya, Syiria. Sawah dan perkebunan yang subur ada di sepanjang kanan kiri jalan. Perbukitan tampak seperti ukiran indah karya tangan para petani. Air mengalir deras dan jernih dari mata air-mata air alami pegunungan ke parit-parit dan sungai-sungai. Udara sejuk tanpa AC. Telaga Sarangan tampak biru dan tenang dilihat dari jalan-jalan berliku di perbukitan. Pada bulan Januari seperti ini, hampir setiap hari hujan deras membasahi bumi. Kesegaran yang ditimbulkannya jauh merasuk hingga menembus pikiran dan hati, menciptakan rasa gembira dan kesyukuran.

Subhanallah! Karena karunia-Nya itu, sepatutnya hanya Allah yang berhak kita puji dan kita syukuri. Allah pula yang berhak diibadahi. Bukan siapa atau apa pun selain-Nya yang tidak pernah memberi walau sekulit ari. Perintah Allah berhak untuk ditaati. Larangannya dijauhi. Syariat-Nya diikuti.

Yang musti kita waspadai adalah, Iblis la’natullah ‘alaihi, selalu mencari kawan tanpa henti. Mengajak kita untuk mengabaikan syariat Allah. Mungkin dia mengatakan kepada kita bahwa syariat Allah adalah tatanan usang. Mungkin dia membuat sebagian dari kita memiliki perasaan yang berlebihan bahwa dirinya mampu membuat tatanan yang lebih baik, lebih menyejahterakan, dan lebih menjadikan negeri ini aman sentausa. Padahal tatanan itu melanggar banyak syariat Allah. Maka, jangan lupa, itu sebenarnya hanya tipuan Iblis belaka. Sebagaimana dia pernah menipu dirinya sendiri ketika menolak perintah Allah, dengan mengatakan, “Aku lebih baik darinya, Engkau telah menciptakanku dari api, sementara Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah.” Kalimat yang membuatnya dijauhkan dari rahmat Allah dan dimasukkan kepada golongan orang-orang kafir.

Kawan! Engkau mampu memulai dari dirimu, untuk menjadikan para penduduk negeri ini lebih mensyukuri karunia agung ini. Ingatlah firman Allah dalam Surah Ar-Rahman, yang artinya : “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kau dustakan?”





Belum Tibakah Saatnya?

25 01 2011

Banyak penduduk negeri ini yang semakin muak dengan ulah para politisi. Jelas, mereka sangat mengecewakan. Pintar sekali menebar harapan. Tentang negeri yang makmur, sejahtera, adil, dan beradab. Kenyataannya, mereka hanyalah orang-orang bermental rendah, gila kuasa, dan hobi memuaskan kesenangan sendiri, di atas penderitaan jutaan rakyat yang sudah terhanyut oleh mimpi-mimpi puluhan tahun.

Jika menghitung sejak kemerdekaan negeri ini dari penjajahan Belanda, maka tidak kurang dari 65 tahun rakyat kekenyangan disuapi janji. Nyatanya, keadaan negeri tak kunjung membaik meski dikendalikan oleh orang-orang sebangsa yang satu kulit dan satu bahasa. Keadilan, kemakmuran, dan martabat sebagai bangsa merdeka hanya terdengar indah dalam retorika. Sisanya, kita harus tetap tersenyum, dengan senyuman pahit tentunya, karena kenyataan masih sangat-sangat jauh dari harapan. Kekayaan alam yang melimpah tidak memberikan keberkahan. Sumber daya manusia yang besar dan hebat terlindas oleh liku-liku birokrasi yang penuh kelicikan. Para politisi tak ubahnya seperti para pembual yang gila pangkat, pujian, dan kekayaan. Mereka hanyalah orang-orang yang pintar mengolah kata, berkelit dari satu kesalahan untuk menawarkan sebuah kesalahan lain dengan kemasan yang sedikit lebih menggiurkan.

Negeri ini tidak hanya membutuhkan perbaikan tambal sulam. Karena, kebobrokan ini sudah ibarat kanker yang akarnya menjalar ke seluruh badan. Kebobrokan sudah menjangkau nyaris seluruh titik terjauh dan terdalam. Tanpa kita tahu, di mana ujung akhirnya. Perubahan yang dibutuhkan oleh rakyat negeri ini adalah perubahan yang sangat mendasar. Lebih dari sekedar bergantinya presiden, amandemen undang-undang, atau perubahan gaya bahasa dan retorika.

Mungkin itu sebuah revolusi. Revolusi yang muncul dari dasar diri setiap individu yang menginginkan perubahan di negeri ini. Dari kedalaman jiwa. Dari relung hati. Revolusi yang mengubah keingkaran setiap individunya menjadi keimanan, kekufuran menjadi kesyukuran, keangkuhan menjadi ketundukan di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tuhan Yang Memuliakan dan Menghinakan. Tuhan yang menciptakan dan menganugerahkan kemakmuran di negeri ini dan seluruh negeri di bumi ini serta membalas kesyukuran dengan tambahan karunia, sebaliknya membalas kekufuran dengan siksa.

Belum tibakah saatnya?





CINTA DAN SAYANG

6 01 2011

“Sebagian tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum [30] : 21)

Dengan pernikahan, Allah menumbuhkan rasa cinta dan sayang. Cinta yang baru bersemi, akan semakin subur, tumbuh merindang, mengakar kokoh dan memunculkan buah lezatnya. Begitu pun rasa sayang akan bersemi, tumbuh subur dan mengakar. Dalam bahasa Al-Quran, cinta adalah mawaddah. Sedangkan sayang adalah rahmah.

Cinta bersemi karena ketertarikan. Mungkin karena kecantikan atau ketampanan. Boleh jadi karena harta kekayaan. Bisa pula karena faktor keturunan. Yang terbaik dan membawa keberuntungan adalah jika ketertarikan itu disebabkan oleh faktor keshalihan.

Adapun sayang bisa tumbuh tanpa ketertarikan hati. Mungkin seorang suami atau istri melihat kekurangan pada pasangannya. Kurang cantik dan tampan. Kurang kaya. Juga sebagian sifatnya kurang menyenangkan. Meski begitu, ia tetap sayang. Tidak ingin menyakitinya. Ia juga tidak ingin orang lain menyakitinya. Kebersamaan dalam ikatan pernikahan dan lahirnya anak-anak, semakin menumbuhkan perasaan sayang itu.

Rasa sayang hanya tumbuh dalam hubungan pernikahan. Perzinaan tidak mungkin menumbuhkannya. Bahkan, perzinaan juga sangat mudah memudarkan cinta. Ketika kecantikan mulai pudar. Kekayaan berkurang. Atau beberapa sifat yang tidak disenangi mulai terlihat pada pasangan.

Apakah kita bermimpi mewujudkan sebuah masyarakat yang saling mencintai dan menyayangi? Ketahuilah, mimpi kita itu hanya akan menjadi mimpi, jika masyarakat kita tidak bisa lagi menghormati hubungan pernikahan. Lebih mengenaskan jika masyarakat tidak bisa lagi membedakan antara pernikahan dan perzinaan.

Dari keluarga yang diikat pernikahanlah cinta dan sayang akan tumbuh, lalu menyebar mekar ke seluruh lapisan masyarakat. Jika demikian, bukankah sudah saatnya kita menyadarkan remaja dan masyarakat kita tentang pentingnya memelihara cinta dan sayang dalam ikatan pernikahan?





TAHUN BARU, USTADZ DZIKRON, DAN SEBUAH RENUNGAN WAKTU

3 01 2011

Pukul 21.00, di malam terakhir tahun 2010 nada sms masuk terdengar dari HPku. Terlihat sebuah nomor yang tak kukenal. Ada sedikit perasaan deg-degan ketika aku hendak membukanya. “Ustadz Dzikron baru saja meninggal dunia. Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun” , begitu bunyi kalimat yang terbaca di layar hp. Inna lillah, sekejap aku terhenyak. Tak terasa, beberapa butiran air membasahi mataku.

Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Semoga Allah menerima amal shalihnya, mengampuni dosanya, dan memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkannya.” Kutekan tombol send untuk mengirimkan balasan singkat itu. Lalu bertubi-tubi sms-sms senada masuk ke HPku. Ada juga yang menelpon. Semuanya mengabarkan kewafatan ustadz penggagas Muri (Murottal Iqro’) itu.

Ingatanku langsung melayang pada pertemuan terakhir kami di toko beberapa pekan yang lalu. Beliau sedang mengajak istrinya berbelanja pakaian. Layaknya sahabat lama, kami sempat saling berbincang dan bercanda. Sama sekali aku tidak mendapat firasat bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir dengan beliau. Beliau sempat menitipkan brosur pengumuman pembukaan angkatan baru kursus tahsin Al-Quran untuk dibagikan kepada para pelanggan tokoku.

Kira-kira lima belas tahun lalu, aku pernah bersama beliau nyantri di sebuah ma’had tahfizh yang baru berdiri di kawasan Semanggi. Kami adalah dua murid pertama sebelum kedatangan Joko, Nuryanto, Anas, dan beberapa santri lain. Aku sempat mengira, Dzikron, begitu kami memanggil Ustadz Dzikron muda saat itu, berusia jauh di atasku. Ternyata, ia setahun lebih muda dariku. Jenggot lebat yang dipeliharanya telah membuatku salah menaksir usia pemuda yang supel dan humoris itu. Tampaknya, ia memang sangat menyayangi jenggotnya. Bahkan, ia memilih tidak mengikuti ujian akhir Madrasah Aliyah gara-gara disuruh memotong jenggotnya.

Belum kering ingatanku ketika dulu kami bersama-sama mencari guru yang bisa menerima setoran tahfizh. Saat itu, guru tahfizh di pondok kami sering berhalangan hadir. Maklum, pondok baru. Banyak hal yang belum siap. Sang ustadz juga memiliki beberapa urusan di luar pondok yang harus diselesaikan. Walhasil, beberapa bulan kami seperti anak ayam tanpa induk. Menghafal sampai penat, tanpa ada ustadz yang menyimak.

Aku dan Dzikron berinisiatif mencari guru. Berboncengan dengan sepeda kebo yang ada di ma’had, kami mendatangi sebuah pondok tahfizh NU yang ada di Mangkuyudan. Kami menemui seorang kyai muda yang bersahaja di pondok itu. Setelah mengutarakan maksud tujuan kami, kami dijamu di warung makan sang kyai. Alhamdulillah. Harapan untuk mendapat guru tahfizh terkabulkan. Plus, perut kami juga kenyang. Haha.

Hanya setengah tahun aku bersama Dzikron. Beliau menyelesaikan pendidikan di pondok itu hingga selesai. Sedangkan aku keluar pondok. Aku pergi untuk bekerja, karena terjerat utang yang terpaksa menjadi tanggunganku. Terpaksa, karena sebenarnya bukan aku yang berutang. Seorang ikhwan berbisnis dan aku membantunya mengambil barang secara konsinyasi di sebuah distributor kenalanku. Ternyata ikhwan tersebut tidak bisa menyelesaikan utangnya. Akhirnya, aku jadi ketempuhan untuk membayarnya.

Aku bertemu lagi setelah Dzikron menjadi ustadz. Orang menyebutnya, Ustadz Dzikron Al-Hafizh. Beliau mejadi direktur di sebuah pondok tahfizhul Quran. Bertahun-tahun beliau tekun mengajar Al-Quran di pondoknya. Juga mengajar di beberapa pondok lain. Seringkali, beliau juga menyelenggarakan kursus membaca atau menghafal Al-Quran di masjid-masjid dan pondok-pondok. Sudah banyak murid beliau saat ini yang hafizh Al-Quran 30 juz. Sebagian mendirikan pondok atau menjadi direktur pondok tahfizh. Banyak juga imam masjid di berbagai tempat yang dulunya adalah murid beliau.

Kini, Ustadz Dzikron Al-Hafizh sudah dipanggil oleh Allah SWT. Sedihnya, aku tidak sempat menjenguk saat beliau sakit. Bahkan tidak tahu jika beberapa hari ini beliau opname di PKU Muhammadiyah. Syukurlah, pagi tadi aku masih sempat datang dari Magetan ke Solo untuk menyalatkan jenazah beliau.

Mengenang beliau, saya jadi teringat sebuah hadits Nabi, yang maknanya kurang lebih sebagai berikut : “Tidak ada iri (yang dianjurkan) kecuali dalam dua hal. Seorang yang dikaruniai Allah Al-Quran, lantas membacanya di berbagai saat siang dan malam. Dan seseorang yang dikaruniai Allah harta, lantas dimudahkan oleh Allah untuk menggunakannya dalam kebenaran” atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW.

Ustadz Dzikron Al-Hafizh, meninggal di usia yang sangat muda. Sepatutnya kita iri, di usia yang sangat singkat, beliau telah memiliki banyak murid yang dulu belajar Al-Quran kepada beliau. Sekarang mereka telah menjadi guru-guru Al-Quran. Ini sungguh merupakan amal jariyah yang besar. Meski kematian telah menghalangi beliau untuk beramal, namun pahala amal dari murid-murid beliau itu akan terus mengalir. Sungguh, investasi yang sangat menguntungkan. Semoga Allah menerima amal shalih beliau, mengampuni dosa-dosa beliau, dan memasukkan beliau ke dalam golongan para shalihin.

Di awal tahun baru, kita diingatkan betapa tahun terus berganti. Kita semua antri. Tidak tahu, apakah saya atau Anda yang lebih dulu. Tapi, kita semua akan menyusul Ustadz Dzikron, bergerak menuju mati. Itu pasti. Seperti kepastian datangnya pagi. Bisakah di usia yang tersisa ini kita meninggalkan amal jariyah yang bermanfaat untuk bekal kita nanti?

Ibnu Umar ra. pernah berkata : “Jika kamu berada di pagi hari, jangan menunggu sore. Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Gunakan sebagian masa sehatmu untuk bekal masa sakitmu dan sebagian masa hidupmu untuk masa matimu.”

Selamat jalan Ustadz! Kami bersedih dengan kepergianmu. Insya Allah, suatu saat nanti, kami menyusulmu.





PANTANG MEMINTA

15 12 2010

(PRINSIP YANG SEBAIKNYA TIDAK DILUPAKAN BAGI YANG INGIN MENIKAH)

“Barangsiapa berupaya keras untuk tidak meminta-minta, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya tanpa meminta-minta.”

Di zaman sekarang, seharusnya kita bisa memahami ketika seorang pemuda ingin bersegera menikah. Terlebih bila tujuan pernikahannya adalah untuk menyempurnakan separuh agama. Menjaga diri dari ketertarikan kepada wanita yang begitu menggoda. Seharusnya kita bisa memahami, karena kita tahu betapa banyak laki-laki berhati baja yang tiba-tiba lemah lunglai gara-gara wanita. Betapa banyak pula laki-laki cerdas yang tiba-tiba hilang kecerdasannya karena wanita. Maka, keinginan untuk segera menikah bisa kita pahami sebagai upaya seseorang untuk menyelamatkan agamanya.

Namun, melihat pengalaman para pemuda yang menikah, saya menyimpulkan tujuan baik saja tidak cukup. Lebih dari itu, seorang yang hendak menikah harus memiliki kesiapan mental untuk memikul beban tanggung jawabnya. Sebab, salah satu konsekuensi pernikahan adalah beralihnya tanggung jawab dari orang tua kepada suami. Maka, pemuda manapun yang menikah harus bersiap menerima tanggung jawab ini. Ia kudu siap menjadi pemimpin yang memberikan bimbingan dan perlindungan. Juga memberikan nafkah berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal bagi istrinya, sesuai kadar kemampuannya.

Penggalan hadits yang saya kutip di bawah judul artikel ini mengajarkan kepada kita sebuah prinsip yang sebaiknya kita pegang teguh, karena ia akan memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Itulah prinsip menjaga ‘iffah (harga diri). Seorang yang menjaga ‘iffah akan mencegah dirinya dari meminta-minta, meski dalam kondisi yang sangat membutuhkan.

Pada awalnya, memegang prinsip ini akan terasa sulitnya. Dibutuhkan kekuatan, kesabaran, dan perjuangan tersendiri. Saat penghasilan belum seberapa, betapa berat untuk mencukupkan diri berbelanja kebutuhan berdasarkan bujet yang tersedia saja. Mungkin, kita akan bertanya mengapa kita tidak datang kepada orang tua atau siapa yang kita tahu akan dengan senang hati membantu kita?

Kawan! Ada harapan yang sangat berharga, yang cukup untuk menjadi alasan kita untuk teguh memegang prinsip menjaga ‘iffah ini. Yaitu, janji kecukupan yang diberikan oleh Allah. Kecukupan dari Allah ini lebih kita butuhkan dan lebih baik bagi kita daripada sekadar bantuan sesaat dari manusia. Itulah janji yang bisa kita pahami dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Niscaya Allah mencukupi kebutuhannya, tanpa meminta-minta.” Dengan begitu, kita bisa menjadi seorang pemimpin keluarga yang mandiri. Bukankah itu yang kita dambakan? Wallahu a’lam.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.